Anchoring Bias Saham: Kenapa Kamu Susah Jual di Bawah Harga Beli
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Kamu beli saham di Rp2.000. Sekarang turun ke Rp1.200. Perusahaannya kehilangan pelanggan besar, dan labanya makin menipis.
Semua tanda bilang rencanamu sudah berubah. Tapi ada satu pikiran yang terus muncul: "Nanti aku jual kalau sudah balik ke Rp2.000."
Pikiran itu ada namanya: anchoring bias. Artinya kamu terpaku pada satu angka, dalam hal ini harga belimu. Di artikel ini kamu bakal lihat cara kerjanya, apa kata penelitian, dan satu pertanyaan sederhana buat lepas dari jebakannya.
Anchoring bias adalah kebiasaan terlalu bergantung pada angka pertama yang kamu lihat. Begitu satu angka nempel di kepala, tebakanmu berikutnya cenderung dekat ke angka itu, walaupun angkanya nggak ada hubungannya.
Di investasi, angka yang paling sering jadi jangkar adalah harga belimu sendiri. Itu angka pertama yang kamu kaitkan ke saham tersebut. Pelan-pelan dia jadi patokan buat menilai "untung" dan "rugi".
Fakta sederhananya begini. Pasar nggak tahu harga belimu. Pasar juga nggak peduli.
Harga saham hari ini mencerminkan penilaian pembeli dan penjual soal perusahaan itu hari ini. Rp2.000 milikmu cuma cerita masa lalumu. Angka itu nggak bilang apa-apa soal masa depan perusahaan.
Coba bayangkan begini. Kalau kamu pegang uang tunai, bukan saham ini, apakah kamu mau beli di Rp1.200 hari ini? Kalau jawabannya tidak, berarti terus memegangnya sama saja dengan membelinya lagi di Rp1.200. Pilihan itu kamu ulang setiap hari.
Efek anchoring ditunjukkan lewat eksperimen terkenal tahun 1974 oleh psikolog Amos Tversky dan Daniel Kahneman. Mereka memutar roda yang diatur berhenti di angka 10 atau 65. Lalu peserta ditanya: berapa persen negara Afrika di antara anggota PBB?
Peserta yang melihat angka 10 menebak rata-rata sekitar 25%. Yang melihat angka 65 menebak sekitar 45%. Padahal roda itu jelas acak, dan tetap saja menarik jawaban mereka. Ringkasan sekunder juga menyebut bahwa hadiah untuk jawaban akurat tidak menghilangkan efeknya. (Anchoring effect, Wikipedia; aku nggak bisa membuka makalah aslinya, jadi angka ini dari sumber kedua.)
Ahli pun nggak kebal. Dalam studi Northcraft dan Neale tahun 1987, agen properti menilai rumah yang sama setelah melihat harga tawar yang berbeda. Agen yang melihat harga tawar lebih tinggi memberi nilai lebih tinggi. Replikasi belakangan menemukan agen sedikit lebih kebal dibanding mahasiswa, tapi tetap jelas terpengaruh. (Entri IDEAS/RePEc untuk makalah 1987; teks lengkapnya berbayar, jadi detail diambil dari ringkasan sekunder.)
Terpaku pada harga beli biasanya muncul dalam beberapa pola.
Menunggu "balik modal". Kamu menolak jual di bawah harga beli, walaupun cerita perusahaannya sudah berubah. Tujuannya jadi balik ke Rp2.000, bukan mengambil keputusan yang baik.
Menjual saham untung terlalu cepat. Saham yang kamu beli di Rp1.000 naik ke Rp1.500. Rasanya sudah untung bagus, jadi kamu jual. Padahal perusahaannya masih tumbuh pesat. Harga belimu bukan batas atas.
Average down otomatis. Kamu beli lagi di harga lebih murah hanya supaya rata-rata harga belimu turun. Harga rata-rata beli cuma angka pembukuan. Dia nggak membuat perusahaan yang lemah jadi kuat.
Satu studi terkenal melihat pola ini dalam skala besar. Terrance Odean meneliti transaksi ribuan rekening broker di Amerika. Di luar bulan Desember, investor menjual sekitar 14,8% posisi yang untung, tapi cuma sekitar 9,8% posisi yang rugi, menurut ringkasan makalahnya. Artinya, mereka lebih lama menahan saham yang rugi. Makalah itu memakai harga beli sebagai titik acuan. Kaitan antara anchoring dan menahan saham rugi ini disebut disposition effect. (Angka dari ringkasan sekunder; makalah aslinya tidak kubuka.)
Ini hitunganku sendiri dengan angka rekaan, bukan saham sungguhan.
Kamu punya 1.000 lembar saham, dibeli di Rp2.000. Modalmu Rp2.000.000. Harga sekarang Rp1.200, jadi nilai posisimu Rp1.200.000. Kamu rugi Rp800.000.
Kamu bilang ke diri sendiri, "Tunggu balik ke Rp2.000." Lihat apa yang dibutuhkan.
| Harga sekarang | Kenaikan yang dibutuhkan untuk balik ke Rp2.000 |
|---|---|
| Rp1.200 | +66,7% |
| Rp1.000 | +100% |
| Rp800 | +150% |
Di Rp1.200, saham harus naik dua pertiga hanya supaya kamu impas. Itu permintaan besar buat bisnis yang makin lemah. Hitungan pulih dari kerugian lebih berat dari yang kebanyakan orang kira.
Sekarang balik pertanyaannya. Kalau kamu jual hari ini, kamu punya Rp1.200.000 untuk ditaruh di sesuatu yang memang mau kamu beli hari ini. Rugi Rp800.000 itu sudah nyata, mau kamu jual atau tidak. Menjual cuma membuatnya kelihatan.
Ini bukan berarti kamu harus jual semua saham yang turun. Kadang menahan memang tepat. Intinya, harga belimu jangan jadi alasannya.
Buka Dashboard NetWort dan lihat skor Portfolio Health serta posisi-posisimu yang paling rugi. Untuk tiap posisi, tanyakan pertanyaan pembeli baru dengan jujur. Kalau jawabanmu "aku cuma nunggu balik modal", kamu baru saja menemukan satu jangkar.