Value, Momentum, Quality: Apa Itu Factor Investing dan Apakah Cocok di Bursa Efek Indonesia
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Dua saham harganya sama hari ini. Satu murah dibanding aset perusahaannya. Satunya lagi sudah naik terus setahun terakhir. Mana yang cenderung lebih baik ke depan?
Para peneliti menanyakan hal ini puluhan tahun. Dari situ lahir factor investing. Faktor adalah ciri yang dimiliki banyak saham, misalnya murah, sedang naik, atau sangat menguntungkan. Factor investing berarti memilah saham lewat ciri itu, bukan lewat nama.
Di sini kamu akan kenal tiga faktor paling terkenal dengan bahasa sederhana. Lalu kita jawab pertanyaan yang lebih sulit: apakah faktor-faktor ini berhasil di Bursa Efek Indonesia (BEI)?
Bayangkan kamu belanja di supermarket. Kamu bisa belanja berdasarkan merek. Atau berdasarkan label: rendah gula, tinggi protein, harga murah.
Factor investing belanja berdasarkan label. Tiap label adalah faktor, yaitu ciri terukur yang menurut peneliti membantu menjelaskan kenapa sebagian saham memberi hasil lebih besar dalam jangka panjang.
Tiga label yang paling sering muncul:
Factor premium adalah tambahan return yang rata-rata dibayar oleh sebuah ciri. Ini rata-rata dari banyak saham dan banyak tahun. Bukan janji untuk satu saham atau satu tahun.
Saham value dijual murah dibanding nilai pembukuannya. Ukuran yang umum adalah book-to-market: nilai buku perusahaan (apa yang tercatat dimiliki dikurangi utangnya) dibagi nilai pasarnya (harga yang diberikan bursa untuk perusahaan itu).
Book-to-market tinggi berarti sahamnya tampak murah. Yang rendah berarti tampak mahal.
Pada 1992, Eugene Fama dan Kenneth French menerbitkan riset yang menunjukkan bahwa ukuran perusahaan dan book-to-market adalah dua ciri sederhana yang membantu menjelaskan sebaran return saham. Model tiga faktor mereka, yang biasanya ditulis tahun 1993, menggabungkan pasar, ukuran perusahaan, dan book-to-market. Ringkasan literatur yang kami baca menyebut saham value menghasilkan lebih banyak daripada saham growth dalam riset itu. Kami membaca ringkasan, bukan makalah aslinya.
Contoh penerapannya ada di artikel kami tentang PBV dan ROE saham bank di BEI.
Momentum agak aneh. Ia melihat apa yang dilakukan harga saham beberapa bulan terakhir, bukan berapa nilainya.
Narasimhan Jegadeesh dan Sheridan Titman menerbitkan hasil klasiknya pada 1993. Sebuah tinjauan dari universitas di Belanda menyebut strategi membeli 10% saham teratas dan menjual 10% terbawah, diurutkan dari return 3, 6, 9, atau 12 bulan sebelumnya, menghasilkan rata-rata 0,7% sampai 1,3% per bulan. Data itu saham Amerika sejak 1965.
Fama dan French mengakui pada 1996 bahwa model tiga faktor mereka tidak bisa menjelaskan hal ini. Karena itu Mark Carhart menambahkan momentum sebagai faktor keempat pada 1997.
Hati-hati. Momentum bisa berbalik cepat dan keras. Saham yang sedang naik bisa jatuh tajam saat suasana berubah.
Quality adalah faktor yang paling longgar, karena peneliti mendefinisikannya berbeda-beda. Kebanyakan versi mencari perusahaan dengan laba tinggi, pendapatan stabil, dan utang rendah.
Idenya sederhana. Bisnis yang menghasilkan banyak dari modalnya dan tidak terlalu banyak berutang seharusnya lebih tahan banting. Salah satu ukuran labanya adalah return on equity (ROE): laba setahun dibagi ekuitas pemegang saham. Contohnya ada di artikel PBV dan ROE saham bank.
Kekhawatiran ini wajar. Kalau sebuah ciri memberi hasil lebih, investor ramai-ramai masuk. Lalu tambahannya menyusut.
Studi tahun 2016 di Journal of Finance oleh David McLean dan Jeffrey Pontiff meneliti 97 ciri yang menurut makalah-makalah sebelumnya bisa memprediksi return saham. Ringkasan makalah itu yang kami baca menyebut return 26% lebih rendah di luar sampel dan 58% lebih rendah setelah dipublikasikan. Kami tidak membuka makalahnya.
Jadi bacaan yang jujur begini. Premi faktor tampak nyata dalam sejarah, tetapi lebih kecil setelah dikenal luas, dan bisa datar bertahun-tahun.
Buktinya lebih tipis dan beragam.
Studi paling menyeluruh yang kami temukan berjudul "Risk factors in the Indonesian stock market" oleh Nanqi Li, Chishen Wei, dan Linti Zhang, terbit di Pacific-Basin Finance Journal tahun 2023. Mereka menguji 152 faktor pada saham Indonesia dari 1991 sampai 2022. Menurut abstraknya, ukuran perusahaan, value, quality, dan profitabilitas membantu menjelaskan return di masa depan. Momentum tidak.
Abstrak itu menambahkan bahwa pola value dan ukuran muncul di semua saham. Untuk quality dan profitabilitas, sinyal yang jelas hanya muncul pada saham non-syariah.
Studi Indonesia yang lebih lama dan lebih kecil saling berbeda. Ringkasan pencarian menyebut satu studi indeks LQ45 tahun 2004 sampai 2007 menemukan momentum harga, sementara studi tahun 2016 pada perusahaan manufaktur menemukan strategi itu tidak menguntungkan. Studi saham non-keuangan 2006 sampai 2010 menemukan value, ukuran, dan momentum tidak signifikan. Daftar saham dan periodenya berbeda, jadi hasilnya tidak bisa disejajarkan begitu saja.
Ada tiga hal.
Pertama, faktor adalah rata-rata, bukan jaminan. Saham murah bisa tetap murah bertahun-tahun, kadang dengan alasan yang masuk akal.
Kedua, bukti di BEI lebih tipis daripada di Amerika. Saham lebih sedikit, sejarah lebih pendek, dan studi berbeda memberi jawaban berbeda.
Ketiga, ciri-ciri ini bukan sihir. Ini cara lain bertanya hal sederhana: berapa yang kubayar, dan apa yang kudapat?
Mau melihat bagaimana ide ini tampak pada ticker sungguhan?
Buka Explore di NetWort dan atur pasar ke IDX. Lalu urutkan berdasarkan return 3 tahun, volatilitas, atau rasio Sharpe. Kolom return 3 tahun hanya pendekatan kasar untuk momentum, bukan ukuran 12 bulan yang dipakai peneliti. NetWort tidak punya filter value atau quality, jadi Explore bukan screener faktor yang sebenarnya. Pakai untuk melihat apakah return tinggi datang bersama gejolak yang lebih besar. Arti rasio Sharpe ada di penjelasan rasio Sharpe.