THR Cuma Cair Setahun Sekali. Ini Cara Bagi yang Bertahan Lebih dari Seminggu
Baca 5 menit
Baca 5 menit
THR (Tunjangan Hari Raya) biasanya cair sekitar seminggu sebelum Lebaran. Menurut hukum, jumlahnya minimal satu bulan gaji penuh. Tapi buat banyak orang, uang itu habis cuma dalam hitungan hari: tiket mudik, oleh-oleh, baju baru, angpao buat keponakan, sampai tagihan paylater yang bulan lalu gampang banget diabaikan. Cara bagi alokasi THR, yaitu persentase yang sudah kamu tentukan sebelum uangnya masuk rekening, bikin bedanya antara THR yang beneran mendanai Lebaran dan THR yang cuma menunda masalah keuangan dua minggu ke depan.
Aturannya ada di Permenaker No. 6 Tahun 2016, peraturan Kementerian Ketenagakerjaan soal THR keagamaan, dan dipertegas lagi lewat surat edaran tahunan kementerian (SE Menaker No. M/3/HK.04.00/III/2026 untuk 2026). Ini poin intinya:
Kemnaker juga sudah tegas bilang THR wajib dibayar penuh, nggak boleh dicicil, dan paling lambat tujuh hari sebelum hari raya (H-7). Kalau perusahaan bayar telat atau kurang, itu melanggar aturan, bukan sekadar keterlambatan biasa.
THR biasanya harus nutup beberapa kebutuhan yang datang bareng dalam waktu singkat: ongkos pulang kampung, angpao dan oleh-oleh buat keluarga, baju Lebaran baru, dan sering juga cicilan utang yang kamu tunda bayarnya sampai "nunggu THR cair." Semua ini nggak sefleksibel pengeluaran biasa, makanya butuh rencana yang lebih matang dibanding gajian bulanan biasa.
Ongkos mudik sendiri bukan angka kecil. Survei KedaiKOPI terhadap 1.053 responden, dilakukan 26 Februari sampai 7 Maret 2026, menemukan bahwa 79,6% responden menyiapkan dana khusus mudik, rata-rata Rp3.400.000 (Kompas, 12 Maret 2026). Angka ini saja sudah bisa memakan porsi besar dari satu bulan THR, belum lagi oleh-oleh, baju baru, dan utang.
Daripada nge-spend sesuai urutan tagihan dan permintaan yang datang, tentukan dulu persentasenya di depan biar semua kebutuhan harus "berebut" jatah dari kue yang sama. Salah satu titik awal yang masuk akal:
| Kategori | Porsi dari THR | Buat apa |
|---|---|---|
| Utang dan tagihan bulan itu | 30% | Paylater, kartu kredit, utang jangka pendek lain |
| Tabungan atau dana darurat | 25% | Uang yang sama sekali nggak dipakai bulan ini |
| Mudik dan kewajiban keluarga | 25% | Ongkos pulang, oleh-oleh, angpao |
| Buat kamu sendiri | 20% | Baju baru, jajan, apa pun yang emang buat senang-senang |
Ini titik awal, bukan aturan pas buat semua orang. Kalau kamu nggak punya utang, porsi 30% itu bisa dialihkan ke tabungan. Kalau kamu nanggung angpao buat banyak keponakan, porsi mudik dan keluarga mungkin perlu digeser lebih besar.
UMP DKI Jakarta 2026 ditetapkan Rp5.729.876 per bulan, naik 6,17% dari 2025 (Kompas, mengutip keputusan Gubernur Pramono Anung, Desember 2025). Buat pekerja dengan gaji segitu dan masa kerja 12 bulan atau lebih, THR-nya sama besar. Kalau dibagi pakai persentase di atas:
| Kategori | Porsi | Nominal |
|---|---|---|
| Utang dan tagihan | 30% | Rp1.718.963 |
| Tabungan / dana darurat | 25% | Rp1.432.469 |
| Mudik dan keluarga | 25% | Rp1.432.469 |
| Buat kamu sendiri | 20% | Rp1.145.975 |
Perhatikan selisihnya: rata-rata dana mudik dari survei KedaiKOPI, Rp3.400.000, lebih dari dua kali lipat porsi mudik-dan-keluarga di contoh ini, yang cuma Rp1.432.469. Ini bukan berarti hitungannya salah. Ini nunjukkin kalau buat banyak keluarga, ongkos mudik sebenarnya ditabung sepanjang tahun, bukan cuma mengandalkan THR sekali cair. Jadi porsi 25% di atas sebaiknya dianggap sebagai tambahan yang perlu ditopang dari sebelumnya, bukan seluruh budget mudik yang tiba-tiba harus cukup dalam seminggu.
Utang yang ada bunganya, kayak tagihan paylater yang telat bayar, umumnya emang perlu diprioritaskan lebih dulu ketimbang nabung, karena biaya nunggak biasanya lebih besar dari bunga tabungan biasa. Makanya utang ditaruh di porsi paling atas dalam contoh di atas. Tapi ngabisin semua THR buat lunasin utang sampai nol juga sering jadi kesalahan, karena kamu jadi nggak punya cadangan kalau ada kebutuhan mendadak bulan depan, tepat setelah bulan di mana kebanyakan rumah tangga lagi paling boros gara-gara pengeluaran Lebaran.
Kalau kamu masih membangun dana darurat pertamamu, besar dana yang kamu butuhkan sebenarnya tergantung berapa banyak orang yang bergantung sama penghasilanmu, bukan cuma dari besar gajimu. Porsi 25% "tabungan" di atas cocok diarahkan ke target itu, bukan jadi target akhir dengan sendirinya.
Pembagian persentase cuma berguna kalau sebulan kemudian kamu masih bisa lihat apakah rencananya bertahan. Catat porsi "tabungan" dari THR-mu sebagai saldo kas di Dashboard NetWort di minggu yang sama saat THR cair, sejajar sama total aset lainnya. Dengan begitu, bagian THR yang seharusnya bertahan lewat Lebaran beneran kelihatan di angkamu, bukan diam-diam kecampur balik ke rekening harian.