Sebenarnya Butuh Berapa Banyak Saham Sebelum Nambah Satu Lagi Udah Nggak Ngaruh?
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Portofolio kamu isinya enam saham. Mungkin delapan. Terus ada yang bilang itu belum cukup terdiversifikasi, katanya kamu butuh minimal lima belas, atau dua puluh, atau "lebih banyak lagi." Jadi sebenarnya berapa banyak saham yang kamu butuhkan buat diversifikasi, dan ada nggak titik di mana nambah satu saham lagi udah nggak ngaruh sama sekali?
Jawaban jujurnya berubah beberapa kali seiring peneliti nanya pertanyaan yang makin tajam. Versi singkatnya: angka "15 saham udah cukup" yang mungkin sering kamu dengar itu lebih tua dan lebih goyah dari kelihatannya, dan titik di mana nambah saham beneran udah nggak ngaruh itu jauh lebih tinggi, apalagi di pasar kayak Indonesia.
Saran "15 sampai 20 saham udah cukup terdiversifikasi" itu asalnya dari riset tahun 1968 oleh dua peneliti, John Evans dan Stephen Archer. Mereka bikin portofolio acak dengan jumlah saham berbeda-beda dari saham sungguhan, terus ukur seberapa besar volatilitas portofolio itu, seberapa liar nilainya naik turun, menyusut seiring makin banyak saham yang ditambahkan. Hasilnya: begitu portofolio berisi sekitar 10 saham, risikonya udah mendekati risiko pasar secara keseluruhan.
Buku teks belakangan membulatkan temuan itu jadi aturan yang lebih rapi, yang mungkin pernah kamu baca di mana-mana: portofolio isi sekitar 15 saham menghilangkan kira-kira 85% sampai 90% "risiko tidak sistematis," risiko yang spesifik ke satu perusahaan, laporan laba yang jelek, gugatan hukum, pabrik kebakaran, bukan risiko pasar secara umum. Dua puluh saham katanya bikin kamu sampai ke sekitar 95%. Dari sinilah asal saran "15 sampai 20 saham" yang masih sering diulang-ulang di konten finansial.
Tapi itu masih menyisakan risiko yang lumayan besar. "Risiko sistematis," yang terkait suku bunga, pergerakan kurs, atau aksi jual besar-besaran di seluruh pasar, nggak bisa hilang cuma dengan nambah jumlah saham. Diversifikasi nggak pernah bikin risiko kamu jadi nol. Yang hilang cuma bagian risiko yang spesifik karena salah pilih satu perusahaan.
Angka 10 dari Evans dan Archer, sama aturan "15 sampai 20" yang mengikutinya, jadi pegangan umum selama dua dekade. Terus peneliti balik lagi dan nanya pertanyaan yang lebih tajam: bukan "kapan rata-rata risiko berhenti turun," tapi "berapa banyak saham yang kamu butuhkan sebelum kamu bisa yakin, bukan cuma rata-rata, kalau portofolio kamu beneran terdiversifikasi."
Meir Statman ngebahas ulang pertanyaan ini di tahun 1987 dan nemuin jawaban jujurnya udah lebih tinggi: portofolio saham acak yang beneran terdiversifikasi butuh minimal 30 saham buat investor yang pakai dana pinjaman, dan 40 saham buat yang nggak pakai pinjaman. Dia balik lagi bahas topik ini tahun 2004, di paper yang judulnya langsung "The Diversification Puzzle," dan bilang angkanya makin naik lagi sejak tahun 1960-an, karena saham individual jadi lebih volatil dibanding pasar ketimbang dulu.
Riset lain tahun 2007, oleh Dale Domian, David Louton, dan Marie Racine, nguji hal yang lebih dekat sama kekhawatiran investor ritel sungguhan: bukan rata-rata risiko, tapi peluang kena hasil yang beneran buruk dalam jangka panjang. Dengan ngelacak periode kepemilikan 20 tahun dari 1.000 saham besar di AS, mereka nemuin investor butuh lebih dari 60 saham cuma buat menghindari selisih "shortfall risk" yang berarti dibanding portofolio 100 saham, dan manfaat nambah saham masih kelihatan bahkan setelah lewat 100 saham. Judul papernya bilang dengan jelas: "100 Stocks Are Not Enough" (100 saham aja belum cukup).
Hampir semua riset di atas dilakukan pakai saham AS. Riset tahun 2021 oleh Rajan Raju dan Sobhesh Agarwalla fokus khusus ke India, pasar berkembang yang profilnya lebih mirip Indonesia dibanding AS, saham individualnya lebih volatil, likuiditasnya lebih tipis dibanding pasar negara maju. Hasilnya: buat memangkas risiko yang bisa didiversifikasi sebesar 90%, dengan tingkat keyakinan 90%, dibutuhkan 40 sampai 50 saham. Kesimpulan mereka blak-blakan: aturan lama 15 sampai 20 saham "kemungkinan besar nggak cukup."
Ini proxy yang lebih dekat ke kondisi IHSG dibanding riset AS mana pun. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat lebih dari 950 perusahaan per awal 2026, menurut data yang dilacak Kompas Data dari catatan BEI sendiri, jadi buat kebanyakan investor ritel, masalahnya bukan kurang pilihan. Portofolio yang isinya cuma nama-nama besar yang paling familiar, BBCA, BBRI, BMRI, bisa kelihatan terdiversifikasi kalau dihitung dari jumlah ticker, padahal hampir semuanya nyangkut di satu sektor yang sama, perbankan.
Kalau empat riset ini dijejerkan, kelihatan polanya, meskipun nggak fair kalau dirata-rata jadi satu angka tunggal karena metodenya beda-beda:
| Riset | Tahun | Pasar | Saham dibutuhkan | Yang mereka cari |
|---|---|---|---|---|
| Evans & Archer | 1968 | AS | Sekitar 10 | Menyamai rata-rata risiko pasar |
| Statman | 1987 | AS | 30 sampai 40 | Diversifikasi setelah dikurangi biaya pinjaman |
| Domian, Louton & Racine | 2007 | AS | 60+, masih turun setelah 100 | Menghindari shortfall risk selama 20 tahun |
| Raju & Agarwalla | 2021 | India | 40 sampai 50 | Memangkas risiko 90%, keyakinan 90% |
Penurunan paling curam terjadi di awal: dari 3 atau 4 saham ke sekitar 15 sampai 20 saham, itu yang menghilangkan risiko paling "murah" buat dihilangkan. Di rentang ini juga risiko konsentrasi paling parah dampaknya, portofolio yang cuma isi 4 atau 5 saham gampang banget punya 30% sampai 40% nyangkut di satu nama doang tanpa kamu sadar sengaja bikin begitu.
Lewat 20 saham, kurvanya masih turun, cuma lebih pelan, dan riset di atas nunjukin penurunan itu masih berlanjut sampai 40, 60, bahkan lewat 100 saham sebelum manfaatnya beneran mentok. Lewat titik itu, kamu sebenarnya udah bikin ulang reksa dana indeks pakai tangan sendiri, dengan usaha dan biaya yang lebih besar ketimbang tinggal beli satu produk indeks.
Jumlah aja nggak cukup nentuin semuanya. Korelasi sama pentingnya dengan berapa banyak saham yang kamu pegang: empat saham bank yang bareng-bareng turun pas BI naikin suku bunga, efek diversifikasinya lebih kecil dibanding empat saham dari empat sektor yang beda, di sisi manapun kamu berdiri soal debat 15 lawan 50 saham ini.
Kamu nggak perlu punya semua 950-an lebih nama yang ada di BEI, dan kamu juga nggak perlu maksain jumlah saham kamu jadi tepat 40 atau 50, itu temuan riset soal pengurangan risiko, bukan daftar belanja. Yang layak kamu cek adalah apakah holdings kamu sekarang numpuk di satu sektor doang, sama kayak IHSG sendiri yang numpuk di sektor perbankan, dan apakah nambah satu nama dari sektor atau pasar yang beda beneran ngurangin risiko kamu, atau cuma nambah ticker yang eksposurnya udah kamu punya lewat nama lain.
Pakai Jelajah Aset buat nyaring saham, ETF, dan kripto berdasarkan pasar dan level risiko, terus lihat apa yang masih kurang dari sebaran portofolio kamu sebelum mutusin apakah "nambah satu saham lagi" itu worth it atau nggak.