Strategi Bucket untuk Pensiun: Tiga Kantong Uang Supaya Kamu Tidak Terpaksa Jual Saat Pasar Anjlok
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Kamu sudah pensiun di usia 60. Tabunganmu Rp2 miliar. Lalu pasar saham anjlok 30% dalam setahun.
Kebutuhan bulananmu tidak ikut turun. Tahun ini kamu tetap butuh Rp80 juta. Uangnya diambil dari mana?
Kalau semua uang ada di satu kantong, kamu mungkin harus menjual saham tepat setelah harganya jatuh. Ketakutan inilah yang coba diredam oleh strategi bucket untuk dana pensiun. Tulisan ini menunjukkan cara kerjanya lewat contoh hitungan, lalu menjelaskan apa kata riset tentang strategi ini, apa adanya.
Strategi bucket artinya kamu membagi uang pensiun ke beberapa kantong, dan tiap kantong punya tugas sendiri.
Ide ini biasanya dikaitkan dengan perencana keuangan AS, Harold Evensky. Christine Benz dari Morningstar membuatnya populer. Versi paling umum punya tiga bucket:
Bayangkan rumah dengan tiga tandon air. Kamu minum dari tandon kecil di dekat keran. Isinya diisi ulang dari tandon tengah. Tandon besar di atap terisi pelan-pelan seiring waktu.
Semua angka di bawah ini hitungan NetWort sendiri. Ini ilustrasi, bukan ramalan, dan bukan pembagian yang kami anjurkan.
Berapa lama kasnya cukup? Tahun 1 butuh Rp80 juta. Tahun 2 butuh Rp82,4 juta. Totalnya Rp162,4 juta. Jadi bucket kas Rp200 juta menutup kira-kira dua setengah tahun biaya hidup (2,4 tahun menurut hitungan kami).
Dua setengah tahun itulah inti idenya. Itu waktu yang bisa kamu tunggu tanpa menjual aset lain.
Sekarang tahun buruknya datang. Kami asumsikan saham turun 30%. Obligasi turun 5%, karena harga obligasi juga bisa jatuh saat suku bunga naik. Kas tetap Rp200 juta. Ini angka rekaan untuk menunjukkan bentuk masalahnya.
| Bucket | Sebelum anjlok | Sesudah anjlok |
|---|---|---|
| Kas | Rp200 juta | Rp200 juta |
| Obligasi | Rp600 juta | Rp570 juta |
| Saham | Rp1.200 juta | Rp840 juta |
| Total | Rp2.000 juta | Rp1.610 juta |
Total kantongmu turun 19,5%. Itu menyakitkan. Strategi bucket tidak menghapus kerugian ini. Strategi apa pun tidak bisa.
Yang berubah adalah dari mana Rp80 juta tahun ini diambil. Uangnya diambil dari bucket kas. Kas turun jadi Rp120 juta. Kamu tidak menjual satu saham pun di titik terendah.
Ini bagian yang bikin orang cemas dengan satu kantong besar.
Misalkan kamu butuh Rp80 juta dan menjualnya dari saham.
Artinya 43% lebih banyak sahammu hilang untuk tagihan yang sama. Saham itu tidak ada lagi saat harga pulih. Inilah inti sequence of returns risk, yang kami bahas di tulisan tentang risiko urutan return.
Strategi bucket bilang: saat bucket saham sedang turun, jangan jual dari sana. Belanjalah dari kas. Beri sahammu waktu.
Bucket baru berguna kalau kasnya tidak habis. Ada beberapa cara mengisinya:
Aturan praktisnya sederhana: isi ulang setelah tahun bagus, tahan setelah tahun buruk. Soal waktunya, baca kapan rebalancing portofolio.
Jawaban jujurnya: buktinya beragam, dan kebanyakan bilang "hampir sama".
Kami hanya bisa membaca ringkasan riset, bukan makalah lengkapnya. Jadi cek sumber aslinya sebelum kamu mengandalkan bagian ini.
Lalu kenapa tetap dipakai? Karena bagian tersulit dari masa pensiun sering bukan hitungannya. Tapi menahan diri agar tidak panik.
Pensiunan yang bisa melihat "dua setengah tahun ke depan sudah ada di kas" mungkin tetap bertahan saat pasar anjlok. Pensiunan dengan satu kantong yang turun tiap hari bisa menjual di saat terburuk. Cara pandang bucket adalah trik mental accounting, dan bisa berguna. Ia tidak menambah return.
Bisa jadi kamu sudah punya semua bagiannya, tapi belum punya rencananya.
Buka tampilan Holdings di NetWort. Lihat berapa persen portofoliomu ada di saham, di obligasi atau reksa dana obligasi, dan di kas. Lalu tanyakan satu hal: kalau saham turun 30% bulan depan, aku belanja dari bagian mana, dan untuk berapa lama?
Kalau jawaban jujurnya "aku terpaksa jual saham", kamu baru saja menemukan celah yang dibahas tulisan ini.
Untuk latar yang menggerakkan harga obligasi dan return kas, seperti suku bunga dan inflasi, lihat halaman makro.