Apa Itu Beta Portofolio? Cara Tahu Apakah Investasimu Lebih Goyang dari Pasar
Baca 5 menit
Baca 5 menit
IHSG turun 10% dalam seminggu. Kamu buka aplikasi. Portofoliomu ikut turun 10%? Atau 15%? Atau cuma 6%?
Beta portofolio adalah angka yang menjawab pertanyaan ini sebelum kejadian. Angka ini menunjukkan seberapa besar seluruh portofoliomu cenderung bergerak saat pasar bergerak.
Di artikel ini kamu akan lihat cara membacanya, cara menghitungnya sendiri, dan kenapa angkanya bisa berubah walau kamu tidak jual atau beli apa pun.
Beta adalah skor yang menunjukkan seberapa kuat sesuatu mengikuti gerakan pasar.
"Pasar" di sini berarti indeks acuan (benchmark), misalnya IHSG untuk saham Indonesia atau S&P 500 untuk saham AS. Kenapa pilihan indeks itu penting, kami bahas di panduan beta saham IDX terhadap indeks yang tepat.
Beta portofolio adalah ide yang sama, tapi untuk semua aset yang kamu pegang sekaligus.
Kamu tidak perlu mengolah data harga bertahun-tahun. Kalau beta tiap saham sudah diketahui, beta portofolio adalah rata-rata tertimbang.
Bobot (weight) artinya porsi uangmu di satu aset. Rp40 juta dari total Rp100 juta berarti bobotnya 0,4.
Ini cara baku yang diajarkan banyak panduan keuangan, misalnya panduan beta portofolio dari SoFi (kami melihatnya lewat ringkasan pencarian, dan rumusnya sendiri hanya hitungan biasa yang bisa kamu cek di bawah).
Berikut portofolio rekaan senilai Rp100 juta. Sahamnya dan betanya karangan untuk contoh ini. Semuanya hitungan NetWort, bukan sekuritas asli.
| Aset | Nilai | Bobot | Beta | Bobot × beta |
|---|---|---|---|---|
| Saham bank A | Rp40 juta | 0,40 | 0,9 | 0,36 |
| Saham growth B | Rp30 juta | 0,30 | 1,6 | 0,48 |
| Saham konsumer C | Rp20 juta | 0,20 | 0,6 | 0,12 |
| Uang tunai | Rp10 juta | 0,10 | 0,0 | 0,00 |
| Portofolio | Rp100 juta | 1,00 | 0,96 |
Beta portofolionya 0,96. Sekilas mirip "pasar". Tapi coba intip isinya. Sebagian besar angka itu datang dari satu saham dengan beta 1,6.
Kalau pasar turun 10%, portofolio ini cenderung turun sekitar 0,96 × 10% = 9,6%. Artinya kira-kira Rp9,6 juta.
Sekarang bayangkan saham growth B naik tajam, dari Rp30 juta jadi Rp50 juta. Aset lain tidak berubah. Kamu tidak jual dan tidak beli apa pun.
| Aset | Nilai | Bobot | Beta | Bobot × beta |
|---|---|---|---|---|
| Saham bank A | Rp40 juta | 0,33 | 0,9 | 0,30 |
| Saham growth B | Rp50 juta | 0,42 | 1,6 | 0,67 |
| Saham konsumer C | Rp20 juta | 0,17 | 0,6 | 0,10 |
| Uang tunai | Rp10 juta | 0,08 | 0,0 | 0,00 |
| Portofolio | Rp120 juta | 1,00 | 1,07 |
Beta naik dari 0,96 jadi 1,07. Isinya sama. Hanya saja saham yang menang jadi porsi yang lebih besar.
Sekarang pasar turun 10% cenderung berarti portofoliomu turun sekitar 10,7% dari Rp120 juta, yaitu kira-kira Rp12,8 juta. Portofoliomu jadi lebih sensitif terhadap pasar hanya karena satu saham sedang untung.
(Bobot di tabel sudah dibulatkan. Totalnya dihitung dari angka yang tepat.)
Beta berguna. Tapi mudah dipercaya berlebihan. Ada empat batasan:
Seberapa cocok indeks acuan dengan isi portofoliomu adalah pertanyaan tersendiri, yang dibahas di panduan R-squared.
Kartu Portfolio Health di NetWort menampilkan beta portofoliomu selama tiga tahun terakhir. Angkanya dihitung dari return harian portofoliomu dan return indeks acuan, dicocokkan per tanggal.
Indeks acuannya dipilih dari isi portofoliomu. Kalau sebagian besar tickermu saham Indonesia (berakhiran .JK), yang dipakai IHSG. Kalau sebagian besar saham AS, yang dipakai S&P 500. Untuk portofolio campuran, yang dipakai adalah pasar dengan jumlah ticker terbanyak.
Kamu juga bisa melihat beta satu saham di halaman asetnya. Misalnya buka Bank Central Asia (BBCA) lalu bandingkan dengan saham yang kamu punya.
Buka Dashboard NetWort dan cari angka beta di kartu Portfolio Health. Lalu tanyakan satu hal: kalau pasar turun 10% minggu depan, apakah kerugian sebesar itu masih bikin kamu tenang?