BI Rate Naik Turun 225 Basis Poin Sejak 2025, Bunga Kredit Bank Kamu Nyaris Nggak Gerak
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuannya lima kali sepanjang 2025, total 1,25 persen. Terus di 2026, BI malah membalik arah dan menaikkan suku bunga acuan itu satu persen penuh. Kalau bunga kredit di bank kamu benar-benar ngikutin BI Rate persis, harusnya cicilanmu sempat turun lumayan di sepanjang 2025, terus naik lagi tahun ini. Kenyataannya, hampir pasti nggak begitu. Ini seberapa besar pergerakan BI Rate yang beneran nyampe ke bunga kredit kamu, di dua arah, lengkap dengan angka aslinya.
BI Rate itu suku bunga acuan Bank Indonesia, harga yang dipatok BI buat pinjaman jangka pendek antar bank, dan jadi patokan buat hampir semua suku bunga lain di ekonomi Indonesia. Satu "bps" (basis poin) itu seperseratus persen, jadi 25 bps sama dengan 0,25%.
Sepanjang 2025, BI menurunkan suku bunga acuan lima kali, masing-masing 25 bps, dari 6,00% turun jadi 4,75%:
| Tanggal keputusan | Perubahan | BI Rate setelahnya |
|---|---|---|
| 15 Jan 2025 | −25 bps | 5,75% |
| 21 Mei 2025 | −25 bps | 5,50% |
| 16 Jul 2025 | −25 bps | 5,25% |
| 20 Agu 2025 | −25 bps | 5,00% |
| 17 Sep 2025 | −25 bps | 4,75% |
Sumber: pengumuman resmi Bank Indonesia di setiap tanggal keputusan, dicocokkan lagi dengan ulasan NetWort sendiri soal lima pemangkasan ini, yang sudah memverifikasi tabel yang sama lewat data Databoks dan IDN Financials.
BI lalu menahan suku bunga di 4,75% selama tujuh bulan berturut-turut, sampai awal 2026, sebelum akhirnya membalik arah karena rupiah kena tekanan berat. Mei 2026, BI menaikkan suku bunga 50 bps jadi 5,25%. Terus, karena rupiah masih melemah, BI menaikkan lagi dua kali cuma berjarak sembilan hari: kenaikan darurat di luar jadwal pada 9 Juni 2026 sebesar 25 bps jadi 5,50%, disusul kenaikan terjadwal pada 18 Juni 2026 sebesar 25 bps lagi jadi 5,75%. Total kenaikan di 2026 saja sudah 100 bps. Sejak itu, BI menahan suku bunga di 5,75% di setiap rapat, termasuk rapat terbarunya pada 22-23 September 2026.
Ini angka yang penting kalau kamu punya KPR, kredit mobil, atau kredit usaha: rata-rata tertimbang suku bunga kredit rupiah yang beneran dikenakan bank-bank di Indonesia, dicatat oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan statistik perbankan Bank Indonesia sendiri.
| Periode | Rata-rata bunga kredit | Posisi BI Rate |
|---|---|---|
| Awal 2025 | 9,20% | Baru mau mulai turun |
| Jan 2026 | 8,80% | Ditahan di 4,75% |
| Mar 2026 | 8,76% | Ditahan di 4,75% |
| Apr 2026 | 8,70% | Ditahan di 4,75%, mau mulai naik |
| Jul 2026 | 8,86% | Baru saja naik ke 5,75% |
| Agu 2026 | 8,9% (stabil) | Ditahan di 5,75% |
Sumber: statistik perbankan OJK dan Bank Indonesia, sebagaimana dilaporkan Bloomberg Technoz dan Kontan sepanjang 2026.
Coba hitung dua arah itu secara terpisah, selisihnya cukup besar. Selama kurang lebih 15 bulan dari awal 2025 sampai April 2026, saat BI memangkas suku bunga acuan 125 bps, rata-rata bunga kredit cuma turun sekitar 50 bps, dari 9,20% ke 8,70%. Itu kurang dari separuh pemangkasan BI sendiri, dan butuh waktu lebih dari setahun.
Sekarang arah naiknya: dari April sampai Agustus 2026, BI menaikkan suku bunga acuan 100 bps, tapi rata-rata bunga kredit cuma naik sekitar 20 bps, dari 8,70% ke kira-kira 8,9%. Kalau dihitung proporsinya, itu malah lebih kecil lagi dari porsi pemangkasan tadi, meskipun kenaikan ini baru punya waktu jauh lebih sedikit buat "kerja", cuma sekitar empat bulan dibanding lima belas bulan punya penurunan tadi. Jadi belum bisa dipastikan apakah kenaikan bakal nyampe ke debitur lebih cepat dibanding penurunan. Yang sudah jelas, di dua arah, angka BI Rate yang kamu baca di berita itu bukan angka yang beneran dikenakan bankmu, dan selisihnya nggak kecil.
Gubernur BI sendiri, Perry Warjiyo, pernah nunjuk satu penyebab spesifik di sisi penurunan: bank-bank tetap kasih bunga simpanan tinggi ke nasabah besar meski suku bunga acuan turun, yang bikin biaya dana bank tetap tinggi dan ngebatasin ruang bank buat nurunin bunga kredit ke debitur. Di sisi kenaikan, OJK bilang bank bergerak bertahap karena mereka mempertimbangkan biaya dana sendiri sekaligus kemampuan bayar debitur yang sudah ada, biar nggak sampai gagal bayar gara-gara cicilan tiba-tiba naik.
Ada juga alasan yang lebih teknis. Portofolio kredit bank sebagian besar isinya pinjaman lama yang sudah dikasih dengan bunga kemarin. Cuma kredit baru, dan sebagian kecil kredit lama yang bunganya mengambang dan dijadwalkan reset, yang langsung menyesuaikan. Rata-rata bunga kredit itu campuran dari yang lama dan yang baru, jadi wajar kalau bergeraknya lambat, secepat apa pun BI Rate sendiri berubah.
Margin itu, selisih antara bunga yang dibayar bank ke penabung dan bunga yang dia terima dari peminjam, namanya net interest margin, dan itu angka nyata yang bisa kamu pantau di saham bank mana pun. Halaman aset Bank Central Asia di NetWort, bank terbesar Indonesia dari sisi nilai pasar, salah satu tempat buat lihat bagaimana angka satu bank spesifik bereaksi selama siklus ini berjalan.
Jangan langsung berharap penurunan BI Rate di berita bakal langsung nampak di cicilan KPR atau kredit usahamu bulan itu juga, dan jangan berharap kenaikan bakal langsung kerasa juga. Berdasarkan 20 bulan terakhir, wajar kalau sebagian besar pergerakan BI Rate itu nggak sepenuhnya nyampe ke bunga yang diiklankan bankmu, dan yang nyampe pun butuh waktu berbulan-bulan, bukan hitungan minggu. Kalau kamu lagi cari kredit atau mikir mau nunggu penurunan bunga dulu, angka yang perlu kamu cek itu bunga yang diiklankan bank spesifik kamu, bukan cuma angka BI Rate di headline berita.
Halaman Macro Context di NetWort menampilkan BI Rate sendiri berdampingan dengan inflasi dan nilai tukar rupiah, jadi kamu bisa lihat posisi kebijakan saat ini tanpa harus mengandalkan berita terakhir yang kamu baca. Buat memahami struktur BI Rate itu sendiri, termasuk Deposit Facility dan Lending Facility yang disebut di tabel atas, penjelasan NetWort soal koridor suku bunga BI membahasnya lebih lengkap.