Cadangan Devisa RI Turun 6 Bulan Beruntun. Ini Artinya Buat Rupiah di Dompetmu
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Akhir Juli 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat US$145,3 miliar. Hampir sama dengan bulan sebelumnya, US$145,6 miliar. Tapi kalau kamu lihat angka ini bukan cuma satu bulan, tapi enam bulan ke belakang, ceritanya lebih besar dari itu: dari rekor tertinggi US$156,5 miliar di Desember 2025, cadangan devisa RI turun lebih dari US$11 miliar cuma dalam enam bulan. Kalau kamu pegang rupiah, atau aset apa pun yang harganya dalam rupiah, angka ini yang menunjukkan seberapa besar "amunisi" yang masih dipunya Bank Indonesia buat menahan rupiah supaya tidak makin melemah.
Bayangkan cadangan devisa sebagai tabungan Bank Indonesia dalam mata uang negara lain, kebanyakan dolar AS. Tabungan ini dipakai buat tiga hal: bayar impor, bayar utang luar negeri pemerintah, dan kalau perlu, dipakai buat beli rupiah di pasar supaya kursnya tidak jatuh terlalu cepat. Cadangan ini bertambah kalau uang asing yang masuk lebih banyak dari yang keluar, misalnya dari pajak, jasa, atau penjualan obligasi pemerintah ke luar negeri. Cadangan ini berkurang kalau bank sentral pakai dolarnya buat menahan rupiah, atau kalau pemerintah bayar utang luar negeri lebih cepat dari dolar baru yang masuk.
Kalau angkanya naik, biasanya artinya tekanan ke kurs sedang mengendur. Kalau angkanya turun, apalagi turun cepat, biasanya artinya Bank Indonesia sedang memakai tabungannya buat bertahan.
Ini rutenya, dari rekor tertinggi sampai titik terendah dalam 20 bulan terakhir, semua angka dari laporan bulanan Bank Indonesia sendiri:
| Akhir bulan | Cadangan devisa (USD) | Perubahan dari bulan sebelumnya |
|---|---|---|
| Desember 2025 | US$156,5 miliar | +US$6,4 miliar |
| Januari 2026 | US$154,6 miliar | −US$1,9 miliar |
| Februari 2026 | US$151,9 miliar | −US$2,7 miliar |
| Maret 2026 | US$148,2 miliar | −US$3,7 miliar |
| April 2026 | US$146,2 miliar | −US$2,0 miliar |
| Mei 2026 | US$144,9 miliar | −US$1,3 miliar |
| Juni 2026 | US$145,6 miliar | +US$0,7 miliar |
| Juli 2026 | US$145,3 miliar | −US$0,3 miliar |
Itu enam bulan berturut-turut turun, dari Desember sampai Mei, total US$11,6 miliar hilang, sekitar 7,4%. Alasan yang disebut Bank Indonesia setiap bulan hampir sama: pembayaran utang luar negeri pemerintah dan operasi stabilisasi rupiah yang lebih besar dari penerimaan pajak, jasa, dan penjualan obligasi global.
Waktunya pas dengan krisis rupiah yang sudah pernah dibahas di NetWort: defisit neraca pembayaran yang lebar di kuartal pertama 2026, guncangan harga minyak yang mendorong harga minyak mentah ke sekitar US$95 per barel, dan kenaikan suku bunga darurat oleh Bank Indonesia di bulan Juni, pertama ke 5,50% lalu ke 5,75%, yang tujuannya jelas: bertahan buat rupiah. Cadangan devisa turun enam bulan beruntun, sementara BI rate naik buat menahan rupiah, itu cerita yang sama dilihat dari dua alat berbeda: satu harga yang dibayar buat bertahan, satu lagi jumlah yang dikeluarkan buat bertahan.
Yang paling berguna dari tabel di atas bukan angka Juli sendirian. Yang lebih penting bentuk garisnya. Enam bulan turun terus, masing-masing penurunan nyata dan tercatat, lalu dua bulan di mana cadangan devisanya nyaris datar, naik tipis di Juni, turun tipis lagi di Juli. Itu sinyal yang beda kalau dibandingkan misalnya bulan ketujuh masih turun lagi.
Ini bukan berarti tekanan ke rupiah sudah selesai. Sampai 13 Agustus 2026, kurs tengah resmi Bank Indonesia (JISDOR) menunjukkan rupiah di sekitar Rp17.876 per dolar, masih tergolong lemah secara historis. Tapi garis cadangan devisa yang berhenti turun dua bulan berturut-turut, setelah kehilangan US$11,6 miliar dalam enam bulan sebelumnya, sejalan dengan tekanan yang mulai mengendur, bukan makin berat. Perlu dicek lagi di rilis bulan depan apakah pola ini bertahan.
Satu angka saja belum cukup buat bilang sehat atau tidak. Bank Indonesia mengukur kecukupan cadangan devisa lewat "bulan impor," maksudnya berapa bulan negara masih bisa bayar impor pakai cadangan devisa saja, seandainya tidak ada uang asing baru yang masuk sama sekali. Di angka US$145,3 miliar, cadangan Juli setara 5,5 bulan impor, atau 5,3 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah. Standar kecukupan internasional yang biasa dipakai sekitar 3 bulan.
Jadi meski baru saja mengalami penurunan enam bulan yang cukup tajam, cadangan devisa Indonesia masih jauh di atas standar itu. Konteks inilah yang sering hilang kalau kamu cuma baca judul berita soal persentase penurunan: penurunan besar dari titik awal yang sangat kuat masih bisa berakhir di posisi yang aman.
Angka ini sendirian tidak bisa memberitahu ke mana rupiah bakal bergerak selanjutnya, dan cadangan devisa bukan sinyal buat jual beli. Yang bisa dikasih angka ini adalah satu bagian lagi dari gambar yang sama dengan BI rate dan kurs USD/IDR sendiri: apakah tekanan yang menekan rupiah sepanjang 2026 sedang mengendur, bertahan, atau justru membesar lagi. Kalau cadangan devisa mulai turun tajam lagi, dari pengalaman sepanjang tahun ini biasanya dibarengi Bank Indonesia menaikkan suku bunga buat menahan rupiah, yang relevan buat kamu yang pegang obligasi rupiah, saham IDX yang sensitif ke biaya impor, atau sekadar pengeluaran sehari-hari dalam rupiah sementara asetmu dalam dolar.
Halaman Macro Context di NetWort menampilkan BI rate, kurs USD/IDR, dan inflasi berdampingan, ter-update setiap ada rilis data baru. Jadi kamu bisa lihat rilis cadangan devisa bulan berikutnya di tempat yang sama dengan keputusan suku bunga dan pergerakan kurs yang berkaitan, tidak perlu cek satu-satu di tempat terpisah.