The Fed Tidak Turunkan Bunga di 2026, tapi USD/IDR Tetap Bergerak. Ini Sebabnya
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Tanggal 29 Juli 2026, The Fed tidak melakukan apa-apa. Suku bunga acuan Amerika tidak naik, tidak juga turun, tetap di angka yang sama. Tapi USD/IDR malah terus naik di hari-hari sekitar rapat itu, sampai tembus lagi ke atas Rp 18.000. Kalau kamu punya aset dalam dolar, entah itu saham AS atau kripto yang harganya dipatok ke dolar, sementara pengeluaranmu sehari-hari dalam rupiah, jarak antara "The Fed tidak ngapa-ngapain" dan "rupiah tetap bergerak" itu bukan hal yang aneh. Begitulah cara suku bunga Fed dan USD/IDR sebenarnya saling terhubung, dan lebih baik kamu paham logikanya daripada cuma baca judul berita.
Mekanismenya disebut selisih suku bunga: beda antara bunga yang kamu dapat kalau nyimpan dolar Amerika dibanding rupiah. Kalau suku bunga acuan Bank Indonesia, yang biasa disebut BI rate, jauh lebih tinggi dari suku bunga acuan Amerika (federal funds rate), secara teori nyimpan rupiah jadi lebih menguntungkan. Ini menarik modal asing masuk ke aset rupiah dan bikin rupiah lebih kuat. Aliran modal seperti ini sering disebut carry trade: pinjam di mata uang berbunga rendah, taruh di mata uang berbunga tinggi, ambil selisihnya.
Basis poin, kalau istilah ini baru buat kamu, artinya seperseratus persen. Jadi kenaikan dari 5,50% ke 5,75% itu 25 basis poin. Kalau The Fed diperkirakan bakal turunkan bunga, teorinya selisih tadi makin lebar demi keuntungan rupiah, dan rupiah harusnya menguat. Kalau The Fed menahan atau malah naikkan bunga, selisihnya menyempit, yang secara teori bikin rupiah melemah. Itu versi buku teksnya. Yang benar-benar terjadi di 2026 menunjukkan versi buku teks itu cuma separuh cerita.
The Fed belum sekali pun menurunkan suku bunga di 2026. Bunga acuan Amerika ditahan di 3,50% sampai 3,75% selama dua rapat berturut-turut, di bawah Ketua Fed baru, Kevin Warsh:
| Tanggal rapat | Keputusan | Rentang baru | Hasil voting |
|---|---|---|---|
| 17 Jun 2026 | Ditahan | 3,50%–3,75% | 12–0 |
| 29 Jul 2026 | Ditahan | 3,50%–3,75% | 9–3, tiga suara minta bunga lebih ketat |
Tiga pejabat bank sentral regional yang tidak setuju, yaitu Beth Hammack dari Cleveland, Neel Kashkari dari Minneapolis, dan Lorie Logan dari Dallas, justru ingin bunga dinaikkan lagi. Alasannya, inflasi Amerika sudah di atas target 2% selama lebih dari lima tahun. Proyeksi resmi The Fed sendiri juga condong ke arah yang sama: perkiraan tengah untuk suku bunga di akhir 2026 dinaikkan ke 3,8%, dan sampai saat ini belum ada rencana penurunan bunga sepanjang sisa tahun ini. Rapat berikutnya baru digelar September 2026.
Sumber: pernyataan resmi FOMC Federal Reserve dan liputan CNBC atas rapat Juni dan Juli 2026, diakses 3 Agustus 2026.
Suku bunga Bank Indonesia jauh di atas suku bunga Amerika. Setelah krisis rupiah memaksa BI melakukan kenaikan darurat di Juni 2026 sampai BI rate menyentuh 5,75%, Rapat Dewan Gubernur pada 21 sampai 22 Juli 2026 memutuskan menahannya di level itu, mengakhiri spekulasi kenaikan lebih lanjut ke 6%. Daripada mengetatkan lagi, BI memilih mengandalkan kebijakan insentif untuk menarik modal asing masuk ke pasar Indonesia, sambil tetap menjaga inflasi di kisaran target 2,5% plus minus satu persen untuk 2026 dan 2027.
Sumber: pernyataan kebijakan Bank Indonesia, 22 Juli 2026, sebagaimana dilaporkan ING THINK dan TradingEconomics, diakses 3 Agustus 2026.
Kalau dua angka ini disandingkan: BI rate 5,75% dibanding titik tengah federal funds rate sekitar 3,625%, selisihnya kira-kira 212 basis poin, dan itu semua menguntungkan rupiah. Selisih ini tetap lebar karena The Fed tidak sedang memangkas bunganya. Menurut logika carry trade, ini seharusnya jadi modal bagus buat rupiah.
Pada 22 Juli 2026, hari BI menahan suku bunganya, USD/IDR ada di sekitar Rp 17.917. Awal Agustus 2026, kursnya sudah lewat Rp 18.000, diperdagangkan sekitar Rp 18.010 sampai 18.037. Selisih suku bunga tidak mengecil di periode itu. Rupiah tetap melemah, artinya ada faktor lain yang lebih dominan dari sekadar selisih bunga.
Tiga hal ini yang paling menonjol, semuanya tercatat di periode yang sama:
Sumber: laporan pasar EBC Financial Group dan TradingView soal faktor penekan rupiah sepanjang pertengahan 2026, serta data spot USD/IDR dari Investing.com, diakses 3 Agustus 2026.
Ini bukan cerita abstrak kalau portofoliomu berisi saham AS, kripto yang harganya dalam dolar, atau aset apa pun yang tidak dipatok ke rupiah. Pergerakan kurs itu langsung memengaruhi posisimu, mau harga asetnya bergerak atau tidak.
Coba lihat skalanya: pelemahan rupiah terhadap dolar sejak awal 2026 sudah mencapai 8,75% per pertengahan Juli, menurut laporan pasar saat itu. Artinya, misalnya kamu punya posisi senilai 1.000 dolar di saham AS yang harganya sama sekali tidak bergerak, nilainya dalam rupiah tetap naik sekitar 8,75% di periode itu, murni karena kurs, belum dihitung untung atau rugi dari sahamnya sendiri.
Kenaikan seperti ini gampang tertutupi kalau kamu cuma lihat angka total portofolio dalam satu mata uang saja. Itu tetap untung yang nyata, tapi jenis untungnya beda dari asetnya benar-benar bertumbuh, dan bisa berbalik arah secepat itu juga kalau rupiah stabil atau justru menguat.
Daripada menebak berapa besar pergerakan portofoliomu belakangan ini berasal dari kurs dan berapa dari performa asetnya sendiri, fitur Currency Exposure di NetWort memisahkan itu langsung: berapa persen perubahan nilai portofoliomu berasal dari dampak kurs, dan berapa dari performa aset itu sendiri, dibandingkan dengan kurs USD/IDR dan US Dollar Index yang sama seperti dibahas di artikel ini. Kamu bisa lihat suku bunga Fed, BI rate, dan USD/IDR secara langsung di halaman Macro Context, dan cara keputusan suku bunga BI sendiri berimbas ke IHSG di pembahasan kami soal lima kali pemangkasan BI rate di 2025.