Ambil Asuransi Term Life Itu Saran yang Sering Kamu Denger. Hampir Nggak Ada yang Ngejelasin Berapa Nilai Pertanggungan yang Pas
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Teman kamu bilang, "Ambil term life aja." Kamu setuju. Lalu agen nanya satu hal: "Mau nilai pertanggungan berapa, Kak?"
Kamu bengong. Rp500 juta? Rp1 miliar? Rp5 miliar? Kebanyakan orang asal pilih angka bulat yang kelihatannya aman. Padahal itu cuma tebakan, dan tebakan bisa bikin keluargamu kurang.
Jadi, berapa nilai pertanggungan asuransi jiwa term life yang pas buat kamu? Di sini ada cara hitung yang simpel, pakai rupiah, dalam empat langkah.
Asuransi jiwa term life bayar sejumlah uang ke keluargamu kalau kamu meninggal selama masa tertentu, misalnya 20 tahun. Kalau kamu masih hidup setelah masa itu habis, nggak ada uang yang dibayar. Makanya premi term life murah.
Jumlah uang yang dibayar itu namanya uang pertanggungan (UP). Angka ini tertulis di polis. Keluargamu terima sekaligus.
Intinya begini. Uang ini punya satu tugas: menggantikan apa yang hilang dari keluargamu kalau kamu nggak ada. Jadi angka yang pas tergantung hidupmu, bukan angka bulat.
Cara tercepat namanya multiple approach. Kamu ambil penghasilan setahun, lalu kalikan.
Banyak panduan asuransi, misalnya dari situs perbandingan di AS seperti Policygenius dan MoneyGeek, bilang 10 sampai 15 kali penghasilan setahun itu titik awal yang wajar. Panduan Indonesia seperti dari Cermati juga menyebut pendekatan kelipatan ini, dan menyebutnya paling gampang tapi kurang akurat.
Contoh: gajimu Rp12 juta sebulan. Berarti Rp144 juta setahun. Sepuluh sampai lima belas kali jadi Rp1,44 miliar sampai Rp2,16 miliar.
Cepat, memang. Tapi cara ini nggak menghitung utang, anak, atau aset yang sudah kamu punya. Dua orang dengan gaji sama bisa butuh angka yang beda jauh. Jadi pakai ini buat cek kasar saja.
Cara yang lebih akurat namanya needs approach. Kamu jumlahkan semua yang harus dibayar keluargamu, lalu kurangi dengan dana yang sudah mereka punya.
Ada versi populernya, namanya DIME: Debt, Income, Mortgage, Education. Kita pakai empat ide yang sama, disesuaikan untuk Indonesia.
Lalu kurangi dengan uang yang bisa langsung dipakai keluargamu: tabungan, investasi, dan asuransi lain.
Uang pertanggungan = Utang + Sisa KPR + Penghasilan yang digantikan + Biaya pendidikan − Tabungan dan investasi
Kenalin Rina. Umur 32, gaji Rp12 juta sebulan, punya suami dan satu anak umur dua tahun. Semua angka di bawah cuma contoh buat nunjukin caranya. Bukan data asli.
| Komponen | Jumlah |
|---|---|
| Utang lain (cicilan motor, kartu kredit) | Rp20 juta |
| Sisa KPR | Rp300 juta |
| Penghasilan yang digantikan: Rp144 juta setahun selama 10 tahun | Rp1,44 miliar |
| Pendidikan anak (sekolah dan kuliah) | Rp200 juta |
| Total kebutuhan keluarga | Rp1,96 miliar |
| Dikurangi tabungan dan investasi | Rp250 juta |
| Uang pertanggungan yang dibutuhkan | Rp1,71 miliar |
Rp1,71 miliar itu sekitar 11,9 kali penghasilan setahun Rina. Angka ini masuk di rentang 10 sampai 15 kali dari cara cepat tadi. Kalau dua cara hasilnya berdekatan, itu tanda bagus.
Lihat apa yang mengubah angkanya. Kalau KPR Rina sudah lunas, dia butuh Rp300 juta lebih sedikit. Kalau dia punya investasi Rp1 miliar, butuhnya jauh lebih kecil. Angkamu pasti beda dari Rina, dan memang itu intinya.
Pakai angka bulat asal. "Rp1 miliar" itu bukan rencana. Bisa kurang buat Rina, bisa kelebihan buat orang lajang tanpa utang.
Lupa kalau inflasi menaikkan biaya. Contoh di atas pakai Rp144 juta flat per tahun. Di dunia nyata harga naik, jadi keluarga butuh lebih banyak nanti. Anggap totalmu sebagai batas bawah, bukan batas atas.
Nggak pernah diperbarui. Kebutuhanmu berubah. Anak baru, cicilan baru, atau kenaikan gaji mengubah hitungannya. Banyak orang menghitung ulang tiap ada perubahan hidup, misalnya pindah rumah, punya anak, atau ambil KPR baru.
Samakan juga lama polisnya dengan kebutuhan. Bagian penghasilan dan KPR cuma relevan selama anak masih kecil dan cicilan masih jalan. Makanya masa polis sering dibuat sampai anak bungsu mandiri atau KPR lunas.
Asuransi di sini belum merata. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 dari OJK, seperti dilaporkan Kontan dan Bisnis, mencatat indeks inklusi asuransi 28,50 persen, naik dari 12,21 persen di 2024. Indeks literasi asuransi 45,45 persen, naik dari 36,90 persen.
Inklusi artinya seberapa banyak orang yang benar-benar pakai produk asuransi. Jadi walau naik tajam, masih kurang dari tiga dari sepuluh orang dewasa. Banyak keluarga nggak punya pengaman kalau pencari nafkah utama meninggal. Tebakan kasar lebih baik daripada nol. Angka hasil hitungan lebih baik lagi.
Kamu nggak bisa mengurangi tabungan yang belum kamu hitung. Baris "Tabungan dan investasi" di rumus tadi paling sering salah, karena uang kebanyakan orang tersebar di banyak tempat.
Buka Dashboard NetWort dan lihat total nilai portofolio serta alokasimu. Itu angka yang kamu masukkan di baris terakhir rumus, dan cuma butuh satu menit.