BPJS Ketenagakerjaan Beneran Bakal Kasih Kamu Berapa Pas Pensiun? Ini Hitungan JHT dan JP Aslinya
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Coba lihat slip gaji kamu. Ada potongan BPJS Ketenagakerjaan di situ, dan kebanyakan orang gak pernah ngecek itu buat apa. Kalau gaji kamu Rp10.000.000 sebulan, Rp200.000 langsung kepotong dari gaji bersihmu buat program ini, belum termasuk yang dibayar kantor di atas itu. Itu sistem pensiun wajib dari pemerintah yang udah kamu danai tiap bulan, mau kamu sadar atau enggak. Pertanyaannya, duit itu nanti jadi berapa pas kamu beneran pensiun?
Jawaban aslinya butuh dua hitungan terpisah, soalnya BPJS Ketenagakerjaan punya dua program pensiun yang beda, bukan satu, dan cara bayarnya juga beda total.
JHT (Jaminan Hari Tua) kerjanya kayak tabungan wajib. Tiap bulan, persentase tertentu dari gajimu masuk ke saldo atas namamu. Saldo itu tumbuh dari iuran plus "hasil pengembangan" tahunan, yaitu keuntungan investasi yang dikreditkan BPJS Ketenagakerjaan ke saldomu tiap tahun. Pas kamu memenuhi syarat buat cair, kamu dapat semuanya sekaligus, cair penuh dalam satu kali transfer.
JP (Jaminan Pensiun) kerjanya kayak dana pensiun kecil dari negara. Persentase lain, lebih kecil, dari gajimu masuk ke sini. Begitu kamu sampai usia pensiun JP dengan masa iuran yang cukup, BPJS Ketenagakerjaan bayar kamu jumlah tetap tiap bulan, seumur hidup, bukan cair sekaligus.
Kebanyakan artikel berhenti di "ada dua program." Yang penting justru berapa besaran yang beneran dibayar tiap program, dan buat itu kamu perlu tahu persentase iuran sama rumus aslinya.
| Program | Total iuran | Kamu bayar | Kantor bayar | Dasar upah |
|---|---|---|---|---|
| JHT | 5,7% | 2% | 3,7% | Gaji penuh kamu, gak ada batas atas |
| JP | 3% | 1% | 2% | Dibatasi maksimal Rp11.086.300/bulan |
Digabung, 8,7% dari gaji (yang dibatasi) masuk ke dua program ini tiap bulan, dan porsi terbesarnya justru dibayar kantor, bukan dari gajimu sendiri (Talenta, 2026; surat edaran BPJS Ketenagakerjaan Nomor B/1226/022026, 25 Februari 2026).
Batas upah JP itu penting dan angkanya berubah dari waktu ke waktu. Sejak Maret 2025 sampai sebelum Maret 2026, batasnya Rp10.547.400. Lalu BPJS Ketenagakerjaan naikkan jadi Rp11.086.300 mulai Maret 2026, mengikuti formula pertumbuhan ekonomi (PDB) di Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 45 Tahun 2015. Kalkulator atau artikel lama yang masih kamu temuin di internet sering masih pakai angka lama itu. Kalau kamu nemu angka batas JP yang beda dari Rp11.086.300, artinya itu data basi.
Saldo JHT kamu itu simpel, tinggal jumlahkan semua iuran yang pernah kamu dan kantor setorkan, plus hasil pengembangan yang dikreditkan tiap tahun.
Saldo JHT = total semua iuran bulanan + hasil pengembangan investasi yang dikreditkan tiap tahun ke saldo
BPJS Ketenagakerjaan gak pernah umumin satu angka bunga tahunan yang dijamin pasti; hasil pengembangan yang beneran dikreditkan naik turun sesuai kinerja dana kelolaannya. Simulasi-simulasi yang biasa beredar di internet umumnya pakai asumsi 5% per tahun, jadi contoh di bawah ini juga pakai angka itu, dan ini harus dibaca sebagai ilustrasi, bukan janji.
Misalnya seorang pekerja gajinya rata Rp10.000.000 sebulan selama 25 tahun, kita anggep gak ada kenaikan gaji biar hitungannya simpel. Iuran JHT-nya Rp570.000 sebulan, atau Rp6.840.000 setahun. Kalau di-compound sekali setahun pakai asumsi 5% tadi, saldonya setelah 25 tahun jadi sekitar Rp326.000.000, cair sekaligus begitu pekerja itu memenuhi syarat buat narik. Kalau ada kenaikan gaji beneran tiap beberapa tahun, angka akhirnya bakal lebih besar lagi, soalnya lebih banyak duit yang ikut compound lebih lama.
JP pakai rumus yang beda sama sekali, sudah dipatok di PP Nomor 45 Tahun 2015.
Manfaat JP bulanan = 1% × masa iuran (dalam tahun) × rata-rata upah bulanan (yang dibatasi)
Pakai contoh gaji Rp10.000.000 tadi, yang masih di bawah batas Rp11.086.300 jadi dihitung penuh, dan masa iuran 25 tahun: 1% × 25 × Rp10.000.000 = Rp2.500.000 sebulan, seumur hidup, mulai begitu pekerja itu sampai usia pensiun JP. Ada contoh hitungan resmi yang beredar dengan angka lain: masa iuran 22 tahun di gaji Rp5.000.000 hasilnya sekitar Rp1.100.000 sebulan, dan itu persis sama dengan hasil 1% × 22 × Rp5.000.000.
Ada dua syarat sebelum kamu bisa dapat manfaat bulanan itu. Pertama, minimal 15 tahun (180 bulan) masa iuran; kalau kurang dari itu, iuran JP kamu dikembalikan sekaligus, bukan jadi manfaat bulanan. Kedua, usia pensiun JP itu sendiri, yang gak tetap dari tahun ke tahun. PP Nomor 45 Tahun 2015 nge-set usia pensiun mulai dari 56 tahun di 2015, naik 1 tahun tiap 3 tahun: jadi 57 di 2019, 58 di 2022, 59 di 2025, terus naik sampai akhirnya 65 tahun di 2043. Kalau kamu sampai usia pensiun JP di 2026, kamu perlu umur 59 tahun.
JHT dan JP cair di waktu yang beda, dan ini yang paling sering bikin orang salah paham.
JHT cair penuh di usia 56 tahun, atau lebih cepat kalau kamu resign atau kena PHK dan nunggu satu bulan sambil belum kerja lagi di tempat lain (BPJS Ketenagakerjaan sendiri sudah konfirmasi kamu gak perlu lagi paklaring, surat keterangan berhenti kerja, buat ajukan klaim ini). Kalau kamu masih kerja dan sudah jadi peserta minimal 10 tahun, kamu juga bisa narik sebagian lebih awal: 10% buat kebutuhan persiapan pensiun, atau 30% buat beli rumah, pilih salah satu, gak bisa dua-duanya sekaligus.
JP baru mulai cair begitu kamu sampai usia pensiun JP di atas, dan cuma jadi manfaat bulanan kalau masa iuranmu udah 15 tahun lebih. Gak ada opsi narik JP sebagian atau lebih awal kayak JHT.
Gabungin dua-duanya buat contoh gaji Rp10.000.000 tadi: Rp2.500.000 sebulan seumur hidup dari JP, plus cairan sekaligus Rp326.000.000 dari JHT yang kalau dibagi rata selama 20 tahun masa pensiun jadi sekitar Rp1.360.000 sebulan tambahan. Totalnya sekitar Rp3.860.000 sebulan, dibanding gaji kerja Rp10.000.000 sebulan, jauh di bawah setengahnya.
Jarak itu bukan berarti hitungannya salah. BPJS Ketenagakerjaan memang dari awal gak dirancang buat gantiin penuh gaji kerjamu; ini lantai minimum wajib, bukan rencana pensiun yang lengkap. Yang nutup sisa jaraknya ya tabungan dan investasi yang kamu bangun sendiri di luar itu.
Coba hitung gajimu sendiri pakai dua rumus di atas buat tahu lantai minimummu. Terus bandingin sama posisi kamu sekarang lewat Dashboard NetWort, yang ngelacak nilai portofolio aslimu dari waktu ke waktu, jadi kamu bisa lihat persis seberapa besar jarak antara lantai BPJS itu sama pensiun yang beneran kamu mau, yang masih belum ke-cover.