Carry Trade Yen Pernah Bikin IHSG Anjlok 3,4% dalam Sehari. Tahun Ini Nyaris Nggak Kerasa
Baca 7 menit
Baca 7 menit
Senin, 5 Agustus 2024, IHSG turun 248,4 poin atau 3,4% dan tutup di 7.059,6. Di Indonesia sendiri nggak ada apa-apa hari itu. Nggak ada data inflasi jelek, nggak ada gejolak politik, nggak ada emiten besar yang rugi.
Pemicunya ada di Tokyo, dan namanya carry trade yen.
Dua tahun kemudian, akhir Juli 2026, posisi yang sama kena tekanan lagi. Amerika dan Jepang barengan borong yen. Yen menguat lebih dari 4% dalam dua hari. Dan IHSG? Hampir nggak gerak.
Mekanismenya sama persis. Hasilnya jauh berbeda. Justru di selisih dua kejadian itu pelajarannya.
Carry trade itu ide sederhana. Kamu pinjam duit di mata uang yang bunganya murah, tukar ke mata uang yang bunganya tinggi, lalu ambil selisih bunganya.
Selama hampir tiga dekade, Jepang adalah tempat paling murah di dunia buat pinjam duit. Bank of Japan (bank sentralnya Jepang, biasa disingkat BOJ) menahan suku bunga acuannya di nol atau bahkan minus selama bertahun-tahun. Jadi dana global bisa pinjam yen nyaris tanpa biaya, tukar jadi dolar atau rupiah, terus dibelikan aset yang imbal hasilnya beneran ada.
Ini selisihnya sekarang, pakai dua suku bunga acuan yang bisa kamu cek sendiri:
| Bank sentral | Suku bunga acuan | Per |
|---|---|---|
| Bank of Japan | 1,00% | Ditahan di rapat Juli 2026, tertinggi sejak September 1995 |
| Bank Indonesia | 5,75% | Ditahan di RDG 19 Agustus 2026 |
Selisihnya 4,75 poin persen setahun. Kalau kamu pinjam yen senilai Rp1 miliar lalu taruh di aset Indonesia, dari selisih bunga doang nilainya sekitar Rp47,5 juta setahun, sebelum faktor lain ikut main.
Kelemahan carry trade cuma satu, tapi besar. Kamu pinjamnya yen, jadi suatu hari kamu harus balikin yen juga. Kalau yen keburu menguat sebelum kamu tutup posisi, biaya balikinnya jadi lebih mahal daripada waktu pinjam.
Yang disebut unwind atau pembongkaran itu ya waktu banyak investor tutup posisi barengan. Urutannya saling mendorong:
Buat investor Indonesia, yang penting itu poin tiga. Aset yang dijual sama sekali nggak ada hubungannya sama alasan yen bergerak. Dijual cuma karena gampang dicairkan dan investornya lagi butuh duit cepat. Dari situ keputusan bunga di Tokyo bisa nyeret harga saham di Jakarta.
Pemicunya dua, jaraknya cuma beberapa hari. Tanggal 31 Juli 2024 BOJ naikin suku bunga acuannya dari sekitar 0,1% ke 0,25%. Kecil kalau dilihat angkanya, tapi nggak ada yang nyangka. Lalu 2 Agustus, Amerika melaporkan cuma ada 114.000 lapangan kerja baru di Juli, padahal pasar memperkirakan sekitar 175.000. Data lemah itu bikin peluang penurunan bunga di Amerika naik, jadi selisih bunganya menyempit dari dua arah sekaligus.
Dua-duanya menekan ke arah yang sama: alasan buat nahan carry trade mengecil. Begitu masuk Senin 5 Agustus, pintu keluarnya penuh sesak.
| Pasar | Pergerakan 5 Agustus 2024 |
|---|---|
| Nikkei 225 (Jepang) | Sempat anjlok 12,4%, tutup turun 4.451,28 poin ke 31.458,42 |
| KOSPI (Korea Selatan) | Turun lebih dari 8% |
| IHSG (Indonesia) | Turun 3,4%, minus 248,4 poin ke 7.059,6 |
| S&P 500 (Amerika) | Turun sekitar 3% |
IHSG hari itu bergerak di rentang 6.998 sampai 7.308. Buat indeks selebar IHSG, rentang 310 poin dalam sehari itu jauh dari normal, apalagi tanpa satu pun pemicu dari dalam negeri.
Sepanjang episode itu, Bloomberg EM FX Carry Risk Premia Index, indeks yang melacak kinerja sekeranjang posisi carry di pasar berkembang, turun sekitar 4% di Agustus 2024. Itu ukuran paling bersih buat lihat seberapa dalam pasar berkembang kena.
Masuk pertengahan 2026, kondisinya kelihatan lebih rawan, bukan lebih aman. BOJ sudah naikin suku bunga acuan ke 1,00% di Juni 2026, tertinggi sejak September 1995. Kenaikan bunga itu justru hal yang mestinya mematikan carry trade.
Tapi yen malah terus melemah sampai menyentuh level terlemah dalam 40 tahun, sekitar 164 per dolar AS di akhir Juli 2026. Pelaku pasar masih pasang taruhan besar bahwa yen bakal makin lemah. Sampai akhir Juli 2026, hedge fund memegang sekitar 124.575 kontrak, setara sekitar US$9,5 miliar, posisi short yen terbesar sejak 2007.
Baru setelah itu intervensinya datang. Tanggal 31 Juli 2026 Amerika dan Jepang borong yen secara terkoordinasi, dan pemerintah Jepang mengonfirmasinya pada 2 Agustus 2026. Ini aksi bersama pertama setelah bertahun-tahun. Yen langsung menguat sekitar 4,2% dalam dua hari, dari sekitar ¥163,85 ke ¥157,30 per dolar AS.
Balik lagi ke selisih bunga tadi. Bank Indonesia kasih 5,75%, BOJ 1,00%, jadi carry-nya dapat 4,75 poin persen untuk setahun penuh.
Itu seluruh risiko carry trade dalam satu baris. Untungnya dikumpulin pelan-pelan, ruginya bisa selesai dalam satu sore. Itu juga alasan posisi seperti ini selalu ditutup buru-buru, bukan dilepas rapi.
Nah, ini bagian yang bantah cerita sederhananya. Setelah intervensi Juli 2026, Bloomberg EM FX Carry Risk Premia Index cuma turun sekitar 1%, kurang lebih sama dengan indeks serupa untuk mata uang utama. Padahal di Agustus 2024 indeks pasar berkembang yang sama turun sekitar 4%.
Rupiah juga nggak jebol. Rupiah menguat 0,47% ke Rp17.990 per dolar AS pada Jumat 31 Juli 2026, hari intervensinya, lalu nambah 0,06% lagi ke Rp17.980 pada Senin 3 Agustus 2026. Mata uang Asia lain ikut naik: baht Thailand 0,80%, peso Filipina 0,74%, dolar Singapura 0,64%.
IHSG juga adem sepanjang pekan itu. Rabu 5 Agustus 2026 IHSG tutup naik 0,50% ke 6.351,14, turun tipis ke sekitar 6.343 pada 6 Agustus, lalu melemah 0,14% pada 7 Agustus. Jauh dari cerita anjlok 3,4% dalam sehari.
Ada dua penjelasannya.
Sumber pinjamannya sudah pindah dari yen. Investor sudah lebih dulu menyebar sumber pendanaan. Buat beli aset pasar berkembang, banyak yang beralih pinjam euro dan franc Swiss, bukan yen lagi. Strategi pinjam euro buat beli sekeranjang real Brasil, peso Kolombia dan lira Turki masih untung sekitar 19% sepanjang 2026, kinerja tahun berjalan terbaik sejak 2005. Kalau mata uang pinjamannya bukan yen, guncangan yen nggak memaksa posisinya ditutup.
Posisinya dibangun ulang, bukan ditinggalkan. Alih-alih kabur, pelaku carry trade malah memanfaatkan yen yang menguat sebagai harga masuk yang lebih murah, lalu menumpuk lagi posisi short yen. Dalam sekitar dua minggu yen sudah balik melemah ke arah 160 per dolar AS.
Kesimpulan jujurnya lebih sempit daripada yang dijanjikan judul berita mana pun.
Guncangan yen bisa nyampe ke aset Indonesia, tapi nggak otomatis. Pasar Indonesia kena kalau investor asing terpaksa cari duit cepat, bukan setiap kali yen bergerak. Di 2024 mereka terpaksa. Di 2026 nggak.
Yen dan rupiah sendiri hubungannya nggak erat. Episode 2026 contohnya bersih: yen gerak besar, rupiah malah ke arah sebaliknya, dan itu lebih karena dolar AS yang melemah ketimbang karena Jepangnya.
Faktor dalam negeri biasanya lebih menentukan. Pelajarannya sama dengan waktu neraca The Fed berhenti menyedot dolar tapi rupiah tetap cetak rekor terlemah di 2026. Likuiditas global cuma bikin latar. Posisi eksternal Indonesia sendiri yang menentukan hasilnya.
Hari asing jualan bukan berarti pasar pasti turun. Hubungannya lebih longgar dari yang berita bilang, seperti hari waktu asing net sell Rp355 miliar tapi IHSG justru naik.
Kalau kamu mau tahu jalur carry trade lagi aktif atau nggak di satu waktu, kamu butuh angkanya kumpul di satu tempat, bukan kececer di banyak berita: suku bunga acuan di dua sisi, kurs USD/IDR, dan gimana ketiganya bergerak bareng sepanjang waktu.
Itu gunanya halaman Macro Context. Di sana BI rate, Fed rate, USD/IDR, inflasi dan yield obligasi ada di satu layar lengkap dengan riwayatnya, jadi kamu bisa lihat sendiri apakah gejolak di luar negeri beneran muncul di angka Indonesia atau cuma ramai di berita.