The Fed Berhenti Sedot Dolar dari Dunia Sejak Desember. Rupiah Tetap Cetak Rekor Terlemah
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Kalau kamu ikutin berita The Fed, biasanya yang dibahas cuma satu angka: suku bunga. Padahal The Fed punya tuas kedua. Dan dari Juni 2022 sampai Desember 2025, tuas kedua itu dipakai buat narik sekitar 2,4 triliun dolar AS keluar dari sistem keuangan global.
Tuas itu namanya neraca keuangan The Fed (balance sheet), dan proses mengecilkannya disebut quantitative tightening atau QT. Dampak quantitative tightening The Fed ke pasar berkembang seperti Indonesia biasanya diceritakan sederhana: dolar berkurang di dunia, uang asing kabur dari pasar berkembang, rupiah melemah.
Masalahnya, cerita sederhana itu nggak cocok sama yang benar-benar terjadi tahun ini. The Fed berhenti nyedot dolar tanggal 1 Desember 2025. Neracanya malah tumbuh lagi sejak itu. Dan rupiah tetap cetak rekor terlemah sepanjang sejarah di bulan Juni 2026, enam bulan setelah penyedotan berhenti.
Waktu The Fed mengatur suku bunga acuannya, yang diatur itu harga meminjam dolar. Itu tuas pertama.
Neraca keuangan itu tuas yang beda. Isinya sederhana: daftar aset yang dimiliki The Fed, mayoritas surat utang pemerintah AS (Treasury) dan surat berharga berbasis KPR Amerika (mortgage-backed securities).
Waktu The Fed beli surat utang itu, bayarnya pakai dolar yang baru dibuat. Dolar itu masuk ke sistem perbankan jadi cadangan bank (reserves), yaitu uang tunai yang disimpan bank di bank sentral. Makin banyak cadangan, makin banyak dolar berkeliaran nyari tempat parkir dengan return lebih tinggi. Sebagian dolar itu selalu nyasar ke negara seperti Indonesia.
Waktu The Fed membiarkan surat utang yang dimilikinya jatuh tempo tanpa beli penggantinya, yang terjadi kebalikannya. Uang pelunasan itu hilang, bukan diputar lagi. Dolar berkurang dari sistem. Itulah quantitative tightening.
Neraca The Fed mencapai puncaknya di sekitar 8,96 triliun dolar AS pada April 2022, membengkak gara-gara pembelian obligasi darurat waktu pandemi. Juni 2022, The Fed mulai membiarkan aset itu menyusut sendiri.
Prosesnya jalan tiga setengah tahun. Waktu programnya selesai, total aset tinggal sekitar 6,55 triliun dolar AS. Berkurang sekitar 2,4 triliun dolar, atau sekitar seperempat dari seluruh neraca.
Terus berhenti. Tanggal 29 Oktober 2025, komite penentu kebijakan The Fed mengumumkan penyusutan itu disetop mulai 1 Desember 2025, dan memerintahkan meja dagangnya buat memutar ulang obligasi yang jatuh tempo, bukan membiarkannya hilang.
| Tanggal | Yang terjadi |
|---|---|
| April 2022 | Neraca puncak, sekitar 8,96 triliun dolar AS |
| Juni 2022 | Quantitative tightening dimulai |
| 29 Oktober 2025 | The Fed umumkan penyusutan berhenti 1 Desember |
| 1 Desember 2025 | Penyusutan berhenti, di sekitar 6,55 triliun dolar AS |
| 10 Desember 2025 | Cadangan dinilai "ample", The Fed mulai beli Treasury bill lagi |
| 5 Agustus 2026 | Neraca sekitar 6,7 triliun dolar AS, lebih besar dari setahun sebelumnya |
Menyetop penyusutan itu satu keputusan. Sepuluh hari kemudian, keputusannya lebih besar lagi.
Tanggal 10 Desember 2025, komite The Fed menilai cadangan bank sudah turun ke level yang cuma pas-pasan cukup ("ample"), dan memerintahkan meja dagangnya mulai membeli Treasury bill lagi supaya cadangan nggak sampai kering. Pembelian ini disebut reserve management purchases. Jadwal pertama yang dirilis The Fed New York keesokan harinya mencakup sekitar 40 miliar dolar AS Treasury bill, mulai dieksekusi 12 Desember 2025.
Ini bukan cetak uang darurat kayak 2020. Tujuan resminya sempit: beli secukupnya saja supaya jumlah dolar mengikuti pertumbuhan kebutuhan, biar cadangan nggak kehabisan tanpa sengaja. Tapi arah anginnya tetap berbalik. Per laporan neraca mingguan The Fed tanggal 5 Agustus 2026, total aset ada di sekitar 6,7 triliun dolar AS, atau sekitar 108 miliar dolar lebih besar dibanding setahun sebelumnya.
Tiga setengah tahun The Fed narik dolar dari dunia. Sejak Desember 2025, dolarnya ditambahin lagi.
Kalau likuiditas dolar benar-benar jadi penentu nasib mata uang pasar berkembang, harusnya 2026 jadi tahun bagus buat rupiah. Kenyataannya justru salah satu tahun terburuk dalam sejarahnya.
Tanggal 4 Juni 2026, rupiah menembus 18.000 per dolar AS untuk pertama kalinya, sampai sekitar 18.028, menurut laporan AFP saat itu. Rupiah jadi mata uang dengan performa terburuk di Asia tahun itu, melemah lebih dari 7% cuma dalam lima bulan pertama. Rekor itu tercipta enam bulan setelah The Fed berhenti menyedot dolar.
Bank Indonesia merespons pakai alat yang memang dia kuasai. BI Rate dinaikkan dua kali di bulan Juni: rapat mendadak di luar jadwal tanggal 9 Juni ke 5,50%, lalu naik lagi ke 5,75% tanggal 18 Juni. Totalnya 100 basis poin kenaikan sejak awal 2026. Tanggal 19 Agustus 2026, BI menahan lagi di 5,75%. Per 18 Agustus rupiah sudah pulih ke sekitar Rp17.855 per dolar, menguat 0,78% dibanding akhir Juli menurut catatan Bank Indonesia sendiri, tapi masih jauh lebih lemah dibanding awal tahun.
Tekanannya datang dari hal-hal yang sama sekali nggak berhubungan sama portofolio obligasi The Fed:
Latarnya memang benar-benar membaik. Bank Indonesia mencatat aliran masuk neto investasi portofolio asing 1,8 miliar dolar AS di kuartal ketiga 2026 sampai 14 Agustus, dan cadangan devisa menutup Juli di 145,3 miliar dolar AS, masih setara 5,5 bulan impor, jauh di atas standar internasional 3 bulan. Jadi dukungannya balik. Cuma datangnya nggak cukup cepat buat mencegah rekor terlemah, dan nggak cukup besar buat membalik arah setahun penuh.
Perlakukan sebagai indikator latar yang bergeraknya lambat, bukan sinyal buat ambil posisi. Tiga hal yang perlu kamu tahu:
Kalau kamu pegang aset di bursa Amerika, aset Indonesia, atau dua-duanya, versi praktisnya begini: pantau hal-hal yang benar-benar menggerakkan eksposur mata uang di portofoliomu. Halaman Macro Context di NetWort menampilkan Fed rate, BI Rate, USD/IDR, inflasi Indonesia dan indeks dolar berdampingan, jadi kamu bisa lihat mana yang bergerak bareng dan mana yang justru berlawanan arah, bukan menebak satu headline dari Washington menjelaskan semuanya.