Kenapa Dana Darurat Sebaiknya Jangan Disimpan dalam Bentuk Kripto
Baca 4 menit
Baca 4 menit
Bayangkan dana darurat kamu disimpan dalam bentuk Bitcoin. Di Maret 2020, hanya dalam dua hari, nilainya bakal anjlok separuh, tepat saat krisis yang sama juga bikin banyak orang kehilangan pekerjaan. Ini bukan skenario karangan. Ini yang beneran terjadi, dan ini alasan kenapa hampir semua saran soal dana darurat bilang: jangan simpan uang ini dalam bentuk kripto.
Dana darurat cuma punya satu tugas. Uangnya harus ada, dengan nilai yang kurang lebih sesuai perkiraan kamu, tepat saat sesuatu yang buruk terjadi: kena PHK, kena tagihan rumah sakit mendadak, atau motor mogok padahal besok harus kerja. Kripto bisa gagal jalankan tugas itu, dan alasannya bukan cuma "kripto kan naik turun". Masalahnya, penurunan paling parah di kripto justru cenderung datang bareng dengan kondisi ekonomi yang sama yang bikin dana darurat kamu dibutuhkan dari awal.
Pada 12 Maret 2020, harga Bitcoin dibuka sekitar $7.960. Dalam dua hari saja, harganya jatuh ke sekitar $3.860, turun kira-kira 51%, dalam peristiwa yang sekarang dikenal trader sebagai Black Thursday (CNBC, 13 Maret 2020). Pemicunya adalah pandemi COVID-19 yang menghantam pasar global sekaligus: likuiditas mengering, banyak orang terpaksa jual aset, dan posisi trading kripto yang pakai leverage terhempas berantai.
Krisis yang sama bukan cuma soal harga pasar. Kurang dari sebulan kemudian, tepatnya per 9 April 2020, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 1,2 juta pekerja formal di Indonesia sudah dirumahkan atau di-PHK karena bisnis tutup akibat pembatasan COVID-19 (The Jakarta Post, 9 April 2020). Guncangan yang sama yang bikin harga Bitcoin anjlok separuh, di saat bersamaan, juga jadi alasan banyak orang tiba-tiba butuh dana daruratnya.
Ini bagian yang sering dilewatkan oleh peringatan generik "kripto itu berisiko". Bukan cuma soal Bitcoin bisa jatuh 50%, saham juga bisa jatuh parah. Masalah sebenarnya adalah korelasi: guncangan ekonomi besar, entah resesi, pandemi, atau krisis kredit di seluruh pasar, cenderung menghantam aset berisiko seperti Bitcoin justru pada saat yang sama pekerjaan dan penghasilan orang lagi terancam. Dana darurat kamu paling mungkin dibutuhkan pas kondisi ekonomi lagi jelek, dan kondisi ekonomi yang jelek itu juga saat dana darurat yang disimpan dalam kripto paling mungkin nilainya jauh lebih kecil dari yang kamu kira.
Tabungan biasa nggak punya masalah ini. Saldo rupiah di rekening tabungan nggak bakal turun cuma karena pasar saham atau pasar kripto lagi jeblok. Kestabilan ini bukan fitur kecil, ini justru alasan utama kenapa dana darurat sebaiknya dipisah dari sisa portofolio investasi kamu.
Anggap ada dua orang yang sama-sama menyisihkan Rp10.000.000 sebagai dana darurat di awal Maret 2020. Orang pertama simpan di rekening tabungan bank. Orang kedua simpan dalam bentuk Bitcoin.
| Nilai per 11 Maret 2020 | Nilai per 13 Maret 2020 | Perubahan | |
|---|---|---|---|
| Rekening tabungan | Rp10.000.000 | Rp10.000.000 | 0% |
| Disimpan di Bitcoin | Rp10.000.000 | ~Rp4.900.000 | ~-51% |
Orang yang nabung di bank masih bisa menutup kebutuhan daruratnya secara penuh. Orang yang pegang Bitcoin, kalau butuh uangnya tepat di dua hari itu, cuma bisa menutup sekitar separuh, tepat saat guncangan ekonomi yang sama juga bikin penghasilannya ikut terancam. Posisi Bitcoin-nya mungkin pulih beberapa bulan atau tahun kemudian. Masalahnya, kondisi darurat nggak bisa nunggu bertahun-tahun.
Kripto bisa jadi bagian yang wajar dari portofolio investasi jangka panjang, dipegang bertahun-tahun, dengan porsi yang memang sanggup kamu terima kalau nilainya turun separuh tanpa perlu kamu utak-atik. Dana darurat itu kebalikannya: jangka pendek, harus bisa dicairkan mendadak, dan cuma berguna kalau nilainya tetap stabil justru pada kondisi yang paling mungkin memicu kamu butuh uang itu.
Simpan dana darurat kamu dalam bentuk tunai atau tabungan, lalu pisahkan posisi kripto kamu, atur porsinya dan pantau sebagai bagian dari investasi jangka panjang. Kamu bisa lihat kedua sisi ini sekaligus, dana cadangan dan posisi investasi, dalam satu tampilan di Dashboard NetWort kamu, cara paling gampang buat mengecek apakah dana darurat kamu sudah cukup besar dan benar-benar terpisah dari bagian portofolio yang memang boleh turun separuh sewaktu-waktu. Riwayat harga Bitcoin sendiri, termasuk pergerakan yang dibahas di atas, bisa kamu lihat di halaman Detail Aset NetWort.