Kenapa Harga Obligasi Turun Saat Yield Naik (dan Kenapa Obligasi Tenor Panjang Turun Lebih Dalam)
Baca 3 menit
Baca 3 menit
Kamu beli obligasi pemerintah. Sebulan kemudian, suku bunga naik. Kamu cek harganya, ternyata turun.
Padahal kamu tidak salah apa-apa. Obligasinya tetap membayar sesuai janji. Lalu kenapa harganya turun?
Tulisan ini menjelaskan harga obligasi dan yield lewat satu contoh kecil. Obligasi adalah pinjaman yang kamu berikan ke pemerintah atau perusahaan. Mereka membayar bunga, disebut kupon, lalu mengembalikan uangmu pada tanggal yang sudah ditetapkan. Yield adalah imbal hasil yang kamu dapat kalau membeli di harga hari ini dan menahannya sampai jatuh tempo.
Lembaga edukasi investor milik SEC (otoritas pasar modal AS) menyebutnya jelas: saat suku bunga pasar naik, harga obligasi berkupon tetap umumnya turun (Investor.gov, SEC, dilihat lewat pencarian 30 Oktober 2026).
Alasannya begini. Misalnya kamu pegang obligasi berkupon 6% per tahun. Lalu pasar berubah dan obligasi baru membayar 7%.
Tidak ada yang mau obligasi 6%-mu di harga penuh kalau ada obligasi 7% yang dijual. Supaya laku, kamu harus menurunkan harga. Harga yang lebih murah menutup selisihnya.
Kalau suku bunga turun, yang terjadi sebaliknya. Obligasi 6%-mu jadi lebih menarik dari yang baru, jadi harganya naik.
Kita pakai dua obligasi rekaan. Keduanya bernilai pokok Rp100 dan membayar kupon 6% sekali setahun. Keduanya diperdagangkan di Rp100 saat yield pasar 6%. Semua angka adalah hitungan NetWort, dicek dengan Python.
Sekarang yield pasar naik dari 6% ke 7%.
| Obligasi | Harga di yield 6% | Harga di yield 7% | Perubahan |
|---|---|---|---|
| 1 tahun | 100,00 | 99,07 | -0,9% |
| 10 tahun | 100,00 | 92,98 | -7,0% |
Kupon sama. Kenaikan yield sama. Kerugiannya jauh berbeda.
Kalau kamu pegang masing-masing Rp100 juta, obligasi 1 tahun turun sekitar Rp0,9 juta di atas kertas. Obligasi 10 tahun turun sekitar Rp7,0 juta.
Obligasi 1 tahun kembali ke Rp100 dalam dua belas bulan. Harga murahnya hanya sementara. Uangmu segera kembali dan bisa dibelikan obligasi 7% yang baru.
Obligasi 10 tahun terkunci di 6% selama satu dekade. Kamu terjebak di bunga lebih rendah jauh lebih lama, jadi harganya harus turun lebih dalam untuk menutup selisih itu.
Orang keuangan mengukurnya dengan duration. Singkatnya, duration menunjukkan seberapa besar harga obligasi bergerak saat yield bergerak. Satuannya tahun, tapi tidak sama dengan tanggal jatuh tempo (Fidelity, dilihat lewat pencarian).
Fidelity memberi patokan kasar: kalau suku bunga naik 1 poin persentase, obligasi atau dana dengan duration 5 tahun kemungkinan turun sekitar 5%. Tenor lebih panjang biasanya berarti duration lebih panjang (RBC Global Asset Management, dilihat lewat pencarian).
Contoh kita sejalan. Obligasi 10 tahun turun sekitar 7% untuk kenaikan yield 1 poin.
Yield turun justru membantu. Kalau yield 10 tahun turun dari 6% ke 5%, obligasi rekaan kita naik sekitar 7,7% ke 107,72. Obligasi 1 tahun hanya naik sekitar 1%.
Jadi obligasi tenor panjang punya ayunan lebih besar ke dua arah. Itu konsekuensi, bukan cacat.
Satu hal lagi. Kalau kamu menahan obligasi sampai jatuh tempo, nilai pokok tetap kembali, selama penerbit membayar. Penurunan harga baru jadi kerugian nyata kalau kamu menjualnya lebih awal.
Yield bergerak karena keputusan bank sentral, inflasi, dan kebutuhan utang pemerintah. Untuk melihat dampaknya di pasar Indonesia, baca panduan kami soal ORI vs SBR, kupon tetap atau mengambang dan kurva yield obligasi Indonesia yang terbalik. Keduanya melanjutkan ide di tulisan ini.
Buka halaman Macro dan lihat data suku bunga serta yield terbaru. Lalu tanyakan satu hal ke dirimu: kalau yield bergerak 1 poin dari sini, aset mana di portofolioku yang paling terasa?