ORI vs SBR vs Sukuk Ritel: Sama-Sama Pinjam ke Pemerintah, Tapi Aturan Kuponnya Beda. Begini Cara Bacanya
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Kamu lihat dua SBN ritel. ORI030 kuponnya 6,90% per tahun. SBR015 kuponnya 6,75%. Jadi pilih ORI saja?
Belum tentu. Kupon ORI itu tetap, tidak pernah berubah. Kupon SBR bisa naik nanti, tapi tidak akan turun di bawah batas tertentu. Beda aturan ini sering lebih penting daripada angka di depan.
Di artikel ini kita bahas ORI vs SBR: cara kerja kuponnya, apa yang terjadi saat BI-Rate bergerak, dan contoh hitungan Rp100 juta. Kupon adalah bunga yang dibayar pemerintah ke kamu. BI-Rate adalah suku bunga acuan dari Bank Indonesia.
ORI, SBR, dan Sukuk Ritel semuanya SBN ritel. SBN (Surat Berharga Negara) adalah surat utang pemerintah. "Ritel" artinya dibuat untuk individu, dengan pembelian minimum Rp1 juta.
Yang meminjam sama: pemerintah Indonesia. Yang beda adalah aturan kupon dan aturan kalau kamu mau keluar sebelum jatuh tempo.
| ORI | SBR | Sukuk Ritel (SR) | |
|---|---|---|---|
| Jenis kupon | Tetap | Mengambang dengan batas bawah (floating with floor) | Tetap |
| Bisa dijual di pasar? | Bisa, setelah masa tahan minimum | Tidak | Bisa, setelah masa tahan minimum |
| Cara keluar lebih awal | Jual di pasar sekunder | Early redemption, ada batasan | Jual di pasar sekunder |
| Pembayaran | Tiap bulan | Tiap bulan | Tiap bulan |
Sukuk Ritel bentuknya mirip ORI, tapi mengikuti prinsip syariah. Jadi pembayarannya disebut imbalan, bukan kupon. Di sini kita sebut kupon saja supaya mudah.
Kupon tetap ditentukan di hari pertama dan sama sampai jatuh tempo.
ORI030 ditawarkan Juli 2026. Kuponnya 6,90% untuk tenor 3 tahun dan 7,00% untuk tenor 6 tahun (Bareksa, ringkasan ORI030). Angka ini tidak berubah, apa pun yang dilakukan BI.
Enak kalau suku bunga turun setelah kamu beli, karena kuponmu tetap tinggi.
Kurang enak kalau suku bunga naik. Lihat ORI029 yang terbit Januari 2026. Kuponnya 5,45% untuk 3 tahun dan 5,80% untuk 6 tahun (Kontan, ORI029). Sejak itu BI-Rate naik ke 5,75%, dan ORI030 yang lebih baru kuponnya lebih besar. Pemegang ORI029 tetap di 5,45% atau 5,80%.
SBR (Savings Bond Ritel) memakai ide lain. Kuponnya adalah BI-Rate ditambah selisih tetap yang disebut spread. Kupon ditinjau ulang tiap tiga bulan.
Ada juga batas bawah atau floor. Ini kupon terendah yang bisa kamu terima. Kupon awal menjadi batas bawahnya.
SBR015 dibuka 28 September sampai 22 Oktober 2026. Ada dua tenor. SBR015T2 (2 tahun) kuponnya 6,75% dan SBR015T4 (4 tahun) 6,85%. Dengan BI-Rate 5,75%, spread-nya 100 basis poin untuk T2 dan 110 untuk T4 (Bareksa, kupon SBR015). Satu basis poin sama dengan 0,01%, jadi 100 basis poin sama dengan 1 poin persen.
Gambarannya begini:
Contoh nyatanya SBR014. Kuponnya bertahan di batas bawah selama tiga periode tinjauan karena BI-Rate saat itu 4,75%. Pada Agustus 2026, setelah BI-Rate mencapai 5,75%, SBR014T2 naik ke 6,5% dan SBR014T4 ke 6,6% (Bareksa, jadwal SBR015 dan riwayat SBR014).
Misalkan kamu menaruh Rp100 juta. Ini angka per tahun di tiap kupon awal. Pemerintah memotong PPh final 10% dari kupon (DDTC). Angka bulanan adalah angka tahunan dibagi 12.
| Obligasi (kupon awal) | Bruto per tahun | Setelah pajak 10% per tahun | Setelah pajak per bulan |
|---|---|---|---|
| ORI030T3, 6,90% | Rp6.900.000 | Rp6.210.000 | Rp517.500 |
| SBR015T2, 6,75% | Rp6.750.000 | Rp6.075.000 | Rp506.250 |
Ini hitungan NetWort sendiri dari kupon yang disebut. Asumsinya kamu pegang sampai jatuh tempo dan kuponnya tidak berubah.
Sekarang coba tanya "bagaimana kalau BI-Rate berubah". Kita pakai SBR015T2: kupon sama dengan BI-Rate tambah 1,00 poin, dengan batas bawah 6,75%.
| BI-Rate nanti | Hasil rumus | Kupon SBR015T2 | Kupon ORI030T3 |
|---|---|---|---|
| 5,00% | 6,00% | 6,75% (batas bawah) | 6,90% |
| 5,75% (sekarang) | 6,75% | 6,75% | 6,90% |
| 6,50% | 7,50% | 7,50% | 6,90% |
Kalau BI-Rate turun, SBR015T2 tertahan di batas bawah. Kalau BI-Rate naik lewat 5,90%, kupon mengambang melampaui kupon tetap 6,90% di atas kertas. Tabel ini ilustrasi, bukan ramalan. Tidak ada yang tahu arah BI-Rate.
Di sinilah dua jenis ini paling berbeda.
ORI dan Sukuk Ritel bisa diperdagangkan. Setelah masa tahan minimum, kamu bisa menjualnya di pasar sekunder. Harganya bergerak mengikuti yield pasar. Kalau yield naik sejak kamu beli, harga jual bisa lebih rendah dari modal. Jadi jual lebih awal bisa rugi.
SBR tidak bisa diperdagangkan. Kamu tidak bisa menjualnya ke investor lain. Sebagai gantinya ada early redemption. Untuk SBR015, dilaporkan syaratnya: kepemilikan minimal Rp2 juta, pencairan maksimal 50% dari kepemilikan, dan sudah dipegang minimal 12 bulan (Bareksa, cara kerja SBR015). Cek ketentuan resminya sebelum kamu mengandalkan syarat ini.
Pakai empat pertanyaan ini untuk membaca penawaran SBN ritel mana pun.
Lalu bandingkan dengan deposito. Ringkasan pencarian dari panduan pajak menyebut bunga deposito kena pajak 20%, dua kali lipat pajak kupon SBN yang 10%. Pastikan lagi ke banknya.
BI-Rate adalah angka yang menggerakkan kupon mengambang. Buka halaman makro NetWort, lihat garis BI-Rate di samping yield obligasi pemerintah Indonesia. Lalu coba tabel di atas dengan perkiraan BI-Rate versimu sendiri.