Buku Cetakan Pertama dengan Sampul Asli yang Masih Utuh Bisa Berharga 100 Kali Lipat dari Cetakan Biasa. Ini yang Beneran Bedain Nilainya
Baca 7 menit
Baca 7 menit
Doly Hirawansyah, penjual buku antik di Pasar Buku Kwitang, Jakarta Pusat, yang lanjutin usaha ini dari bapaknya sejak 2004, pernah cerita ke detik.com soal transaksi terbesar sepanjang usahanya jualan buku: sebuah Al-Quran tulisan tangan dari tahun 1800-an, laku Rp125 juta ke seorang pejabat yang minta namanya nggak disebut. Buku yang sama persis isinya, kalau dicetak ulang biasa, nggak bakal laku sepersekian dari itu. Yang bedain harganya bukan isi bukunya, tapi seberapa langka dan asli kondisi fisik buku itu.
"Cetakan pertama" (first edition) cuma berarti buku itu dari susunan huruf (typesetting) pertama yang dipakai penerbit. Itu doang, nggak nunjukin dari batch cetak yang mana buku spesifik itu keluar. Satu edisi pertama sering dicetak berkali-kali dalam beberapa batch (printing), dan cuma batch paling awal yang beneran punya nilai kolektor. Yang kolektor beneran cari itu "cetakan pertama, print pertama" (first edition, first printing).
Buat bedain print pertama dari print-print sesudahnya, kolektor ngecek detail-detail kecil yang disebut points of issue: salah cetak spesifik, urutan angka di halaman hak cipta, atau detail yang cuma ada di kopi paling awal. Contoh paling jelas dari buku modern adalah Harry Potter and the Philosopher's Stone (J.K. Rowling, terbitan Bloomsbury, 1997). Panduan resmi Sotheby's buat ngenalin print pertama buku ini nyebutin beberapa poin yang harus ada semuanya: urutan angka di halaman hak cipta harus turun sampai angka "1" (10 9 8 7 6 5 4 3 2 1), kata "1 wand" harus muncul dua kali di daftar perlengkapan sekolah di halaman 53, dan nama penulisnya harus dicetak "Joanne Rowling", bukan "J.K. Rowling". Cuma 500 kopi yang dicetak di batch pertama itu, dan sekitar 300 di antaranya langsung dikirim ke perpustakaan umum, menurut pemberitaan waktu buku ini pecahin rekor lelang. Satu kopi print pertama yang lengkap semua poinnya laku US$471.000 (sekitar Rp8,44 miliar dengan kurs hari ini) di lelang Heritage Auctions tanggal 9 Desember 2021, jadi karya fiksi terbitan komersial abad ke-20 paling mahal yang pernah laku lelang saat itu. Cetakan berikutnya dari buku yang sama persis isinya, cuma berharga beberapa ratus ribu rupiah paling mahal.
Sampul buku (dust jacket) itu lapisan kertas lepas yang dibungkus di luar buku hardcover. Sepanjang abad ke-20, penerbit nganggep ini cuma pembungkus sekali pakai, jadi sebagian besar sampul dari era itu udah dibuang atau rusak jauh sebelum ada yang mikir buku itu bakal berharga. Justru karena itu, sampul asli yang masih utuh sekarang nyumbang porsi gede banget ke harga sebuah cetakan pertama.
Allen dan Patricia Ahearn, penulis buku referensi Collected Books: The Guide to Values yang jadi rujukan standar di dunia perdagangan buku antik, punya patokan angka buat ini: buat fiksi cetakan pertama awal abad ke-20, hilangnya sampul asli motong nilai bukunya sekitar 75%. Contoh nyata yang cocok banget sama patokan ini: novel The Great Gatsby karya F. Scott Fitzgerald. April 2014, satu kopi cetakan pertama tahun 1925 yang masih lengkap sampul aslinya laku US$377.000 (sekitar Rp6,75 miliar) di lelang Sotheby's, New York. Cetakan pertama buku yang sama persis, penerbit sama, tahun sama, tapi tanpa sampul aslinya, biasanya cuma laku US$2.000 sampai US$7.000 (sekitar Rp36 juta sampai Rp125 juta). Selisihnya lebih dari 50 kali, bahkan bisa dekat 100 kali. Contoh lain, novel The Maltese Falcon karya Dashiell Hammett (1930): buku panduan harga Guide to First Edition Prices susunan R.B. Russell nyatetin versi lengkap sampulnya dihargai £15.000 (sekitar Rp356 juta), sementara tanpa sampul cuma £500 (sekitar Rp11,9 juta), selisih 30 kali lipat.
| Buku (cetakan pertama) | Dengan sampul asli | Tanpa sampul | Selisih |
|---|---|---|---|
| The Great Gatsby (1925) | US$377.000 (Sotheby's, April 2014) | US$2.000–US$7.000 | sekitar 54–188 kali |
| The Maltese Falcon (1930) | £15.000 | £500 | 30 kali |
Setiap listing buku antik pasti nyantumin grade kondisi, dan skalanya udah baku di seluruh industri: Fine, Near Fine, Very Good, Good, Fair, dan Poor, dari yang terbaik ke terburuk. Skala ini asalnya dari AB Bookman's Weekly dan sekarang jadi standar kerja Antiquarian Booksellers' Association of America (ABAA). "Fine" artinya sedekat mungkin sama kondisi baru buat buku seumur itu, nggak ada kerusakan berarti. "Near Fine" masih boleh ada satu dua cacat kecil banget yang bikin dia belum masuk "Fine". "Very Good" udah boleh ada lecet ringan di rak, sobekan kecil, atau nama pemilik sebelumnya yang ditulis di dalam, asal jilidannya masih kuat dan semua halaman lengkap.
Yang penting dicatat: buku dan sampulnya dinilai terpisah, ditulis dalam format "Buku / Sampul". Deskripsi "Fine / Very Good" artinya bukunya sendiri hampir sempurna, tapi sampulnya udah ada lecet. Beda tipis kayak gitu aja bisa geser harga sampai jutaan rupiah, karena begitu sampul aslinya masih ada, kondisi sampul itu yang paling nentuin harga, bukan kondisi bukunya.
Tanda tangan penulis itu pengali nilai yang beda lagi, dan nggak ada aturan tetap buat ini. Secara umum, penjual buku antik nganggep tanda tangan polos bikin harga buku modern minimal dua kali lipat, tapi besarnya premium itu tergantung banget seberapa langka tanda tangan penulis itu dan seberapa dicari judul bukunya. Kalau penulisnya nulis pesan pribadi (inscription), bukan cuma tanda tangan doang, nilainya justru sering turun dibanding tanda tangan polos: sekitar 14% lebih rendah buat buku harga menengah, dan bisa lebih dari 50% lebih rendah buat buku yang udah berharga tinggi, karena kolektor umumnya lebih suka tanda tangan bersih daripada nama orang lain ditulis di kopi mereka.
Selain cerita Al-Quran Rp125 juta di atas, Pasar Buku Kwitang emang jadi pusat perburuan buku langka dan antik di Jakarta selama puluhan tahun, tempat kolektor nyari buku bekas dan buku tua. Yang paling diburu di sana dan di komunitas jual-beli buku online adalah cetakan pertama karya sastrawan besar Indonesia, khususnya Pramoedya Ananta Toer dan Buya Hamka. Salah satu contohnya, cetakan ketiga novel Arus Balik karya Pramoedya pernah ditawarin seharga Rp30 juta di sebuah lapak online tahun 2014, menurut laporan detikHOT saat itu. Ini harga tawaran, bukan harga jual yang udah pasti kejadian, tapi nunjukin gimana judul Indonesia yang langka bisa dihargain tinggi juga, meskipun mekanismenya beda dari sampul buku ala Barat di atas.
Koleksi buku yang tersimpan di rak itu aset yang nyata. Di halaman Holdings NetWort, buku masuk kategori Luxury Goods, sama kayak jam tangan, tas, atau kamera, yang kebagi dua: Standard, defaultnya -15% per tahun, dan Collectible, defaultnya +5% per tahun. Ngeliat jarak harga yang gede banget di atas, antara cetakan yang cuma berharga beberapa ratus ribu rupiah sama yang berharga miliaran, dua angka default itu nggak dirancang khusus buat buku manapun. Anggap aja itu titik mulai yang harus kamu ganti begitu punya data transaksi pembanding yang nyata dan bertanggal buat edisi, cetakan, dan kondisi buku kamu sendiri, bukan angka yang langsung dipercaya begitu aja.
Buat pola kelangkaan-dan-kondisi yang sama di kategori barang koleksi lain, bahasan kami soal investasi prangko langka, nilai numismatik vs nilai logam koin, dan investasi kamera vintage Leica ngebahas tiga faktor yang sama di pasar yang beda-beda, dan bahasan kami soal barang koleksi dan risiko likuiditasnya ngebahas kenapa angka yang tercatat di tracker dan harga jual cepat yang beneran didapat itu sering dua angka yang beda banget.