Kekayaan Otto Toto Sugiri: Angka Forbes-nya Susut Sepertiga, Padahal Bisnis Data Center-nya Masih Tumbuh
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Setiap kali kamu dengar cerita soal boom AI dan pusat data di Indonesia, ada satu nama yang jarang disorot padahal berdiri paling lama di baliknya: Otto Toto Sugiri, salah satu pendiri PT DCI Indonesia Tbk (DCII), operator pusat data terbesar di Indonesia. Per Forbes Real-Time Billionaires tertanggal 27 Juli 2026, kekayaannya tercatat US$7,80 miliar, peringkat ke-488 dunia. Padahal tujuh bulan sebelumnya, di daftar tahunan Forbes "Indonesia's 50 Richest" (10 Desember 2025), dia ada di angka US$11,3 miliar, peringkat keenam nasional. Hampir sepertiga kekayaan versi Forbes itu hilang dalam tujuh bulan, sementara bisnis di baliknya masih mencatat kenaikan pendapatan tiap kuartal.
Sugiri mendirikan DCII pada 2011 bersama Marina Budiman, yang kekayaannya sudah lebih dulu diulas di seri ini. Dua profil ini sebenarnya cerita saham yang sama, hanya dilihat dari kursi pemegang saham yang berbeda.
| Penerbit | Tanggal | Angka | Catatan |
|---|---|---|---|
| Forbes, "Indonesia's 50 Richest" (tahunan) | 10 Desember 2025 | US$11,3 miliar | Peringkat 6 nasional |
| Forbes Real-Time Billionaires | 27 Juli 2026 | US$7,80 miliar | Peringkat 488 dunia |
| Bloomberg Billionaires Index (Bloomberg Technoz) | akhir Juni 2026 | ~US$8 miliar (Rp143,12 triliun) | Peringkat 7 nasional |
| Bloomberg Billionaires Index (Bloomberg Technoz) | 31 Juli 2026 | Rp142,28 triliun | Peringkat 7 nasional, 495 dunia |
Ada dua hal yang menonjol. Pertama, dua angka Forbes di atas berasal dari penerbit dan metodologi yang sama, jadi penurunan dari US$11,3 miliar ke US$7,80 miliar itu memang perbandingan yang sah, bukan salah banding antar tracker berbeda. Kedua, angka Bloomberg justru nyaris tidak bergerak di periode yang sama, relatif flat antara akhir Juni dan akhir Juli 2026. Satu tracker mencatat penurunan tajam. Tracker lain hampir tidak mencatat perubahan. Keduanya bicara soal orang yang sama, di rentang waktu yang kurang lebih sama.
Hampir semuanya ada di DCII, perusahaan pusat data yang dia bangun bersama Budiman, setelah sebelumnya berdua mendirikan Indointernet, penyedia jasa internet pertama di Indonesia, pada 1994. Berdasarkan keterbukaan informasi pemegang saham DCII ke Bursa Efek Indonesia per 28 Februari 2026 (dilaporkan StockWatch.id), Sugiri adalah pemegang saham tunggal terbesar di perusahaan:
| Pemegang saham | Jumlah saham | Persentase |
|---|---|---|
| Otto Toto Sugiri | 712.784.905 | 29,9% |
| Marina Budiman | 536.505.149 | ~22,51% |
| Han Arming Hanafia | 336.352.227 | ~14,11% |
| Anthoni Salim | 265.033.461 | ~11,12% |
Keempat pemegang saham ini menguasai sekitar 77,6% DCII secara bersama-sama. Saham yang benar-benar beredar bebas di pasar (free float) cuma 18,55% pada tanggal keterbukaan yang sama. Kepemilikan langsung Sugiri sebesar 29,9% adalah blok terbesar di perusahaan, lebih besar dari milik Budiman, yang berarti dia paling terekspos ke apa pun yang terjadi pada harga sahamnya ke depan.
Bisnisnya sendiri tidak sedang runtuh. Laporan keuangan kuartal I 2026 DCI Indonesia, dilaporkan Katadata dan IndoPremier akhir April 2026, mencatat pendapatan naik 10,93% secara tahunan jadi Rp858,10 miliar. Tapi laba bersih justru turun 9,8% jadi Rp377,75 miliar, dari Rp418,84 miliar setahun sebelumnya, karena biaya operasional dan ekspansi pusat data naik lebih cepat dibanding pendapatan. Tumbuh tapi kurang untung itu cerita yang beda dengan menyusut.
Sahamnya justru bercerita lebih kasar dibanding laporan keuangannya. Pada 16 Juli 2026, CNBC Indonesia melaporkan saham DCII turun sekitar 7,4% dalam sehari ke Rp183.900, padahal antrean jual di sejumlah level harga cuma 1-2 lot saja, tapi itu cukup membuatnya jadi penekan tunggal terbesar IHSG hari itu, meski volume transaksinya nyaris tidak ada. Beberapa hari kemudian, pada 21 Juli 2026, Suara.com mengutip catatan KB Valbury Sekuritas yang menyoroti valuasi DCII, rasio harga terhadap laba di atas 490 kali, dengan rata-rata nilai transaksi harian di bawah Rp500 juta, peringatan yang sama yang sudah dibahas lebih detail di profil Marina Budiman.
Di sisi lain, Fitch Ratings justru menegaskan peringkat kredit DCI Indonesia di level AA-(idn) pada pekan yang kurang lebih sama (radartasik.id, 21 Juli 2026), sekaligus rencana ekspansi kapasitas pusat data menuju 850 megawatt. Outlook kredit yang stabil dan rencana ekspansi bukan hal yang biasanya didapat perusahaan yang benar-benar bermasalah. Tidak ada satu pun laporan dari penelusuran kami yang menarik garis lurus dari kejadian-kejadian ini ke penurunan 31% versi Forbes, dan artikel ini juga tidak membuat kesimpulan sendiri soal itu.
Lebih sulit dipastikan dibanding kekayaan berbasis satu saham pada umumnya, dan alasannya jelas. DCII memang perusahaan terbuka yang kepemilikan sahamnya tercatat resmi, beda dengan konglomerasi privat. Tapi dengan saham yang beredar bebas di bawah seperlima dari total, harga yang terbentuk dari segelintir transaksi saja jadi acuan setiap tracker untuk menilai kepemilikan 29,9% milik Sugiri. Mekanisme ini sama dengan yang sudah dibahas seri ini soal kepemilikan Marina Budiman di DCII, dan mirip dengan yang terjadi pada kekayaan Wang Xingxing setelah IPO Unitree yang free float-nya juga tipis, meski DCII sendiri sudah melantai sejak 2021, bukan hitungan hari.
Dua orang bisa memegang saham di perusahaan yang sama, tapi kekayaan versi tracker mereka bergerak ke arah berlawanan di tahun yang sama, tergantung tracker mana yang ditanya dan minggu keberapa. Itu bukan kontradiksi yang harus diselesaikan. Itu yang terjadi kalau kekayaan besar bersandar pada saham yang beredar bebasnya kecil.
Fitur Holdings di NetWort menunjukkan berapa persen portofolio kamu sendiri yang bertumpu pada satu posisi saat ini, bukan saat kamu pertama kali beli, jadi posisi yang terlalu terkonsentrasi tidak baru terlihat setelah minggu yang bergejolak. Untuk memahami berapa besar dampak satu posisi yang terlalu berat saat harga jatuh, risiko konsentrasi portofolio membahas hitungannya dengan contoh nyata.