Kekayaan Sri Prakash Lohia: $8,3 Miliar, Berawal dari Pabrik Benang Kecil di Purwakarta
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Kalau kamu pernah pakai sarung tangan medis atau baju berbahan poliester, ada kemungkinan besar bahan bakunya berasal dari perusahaan yang cikal bakalnya adalah pabrik pemintalan benang kecil di Purwakarta, Jawa Barat, tahun 1975. Kekayaan Sri Prakash Lohia tercatat $8,3 miliar menurut Forbes, dikutip Dataindonesia.id pada 5 Agustus 2026, menempatkannya di peringkat ke-6 orang terkaya Indonesia. Lohia lahir di India pada 1952, pindah ke Indonesia bersama ayahnya saat remaja di era 1970-an, dan bersama-sama mendirikan Indorama. Kini perusahaan itu jadi grup material global yang privat, mencakup pupuk, petrokimia, sampai sarung tangan medis, ditambah satu perusahaan terpisah yang justru tercatat publik di Thailand dan jarang disebut saat orang membahas kekayaannya. Berbeda dari kebanyakan profil di seri ini tahun 2026, kekayaannya tidak terdorong rally saham AI. Angkanya justru menurun pelan selama beberapa bulan terakhir, sementara bisnisnya sendiri baru saja menandatangani investasi baru senilai $525 juta.
| Penerbit | Tanggal | Angka | Peringkat |
|---|---|---|---|
| Forbes Real-Time Billionaires | Sekitar Mei 2026 | $7,74 miliar | Ke-492 dunia |
| Forbes Real-Time Billionaires (via media Indonesia) | Akhir Juni 2026 | $8,5 miliar | Ke-423 dunia |
| Forbes Real-Time Billionaires (via Kompas) | Pertengahan-akhir Juli 2026 | $8,4 miliar | Ke-5 terkaya di Indonesia |
| Forbes (via Dataindonesia.id) | 5 Agustus 2026 | $8,3 miliar | Ke-6 terkaya di Indonesia |
| Bloomberg Billionaires Index (Bloomberg Technoz) | Diambil 21 Agustus 2026 | $9,1 miliar (Rp143,17 triliun) | Tidak ada tanggal pasti |
Kalau dilihat dari angka Forbes sendiri saja, kekayaan Lohia perlahan menurun sepanjang pertengahan 2026, dari $8,5 miliar akhir Juni jadi $8,3 miliar awal Agustus, bukan penurunan tajam atau lonjakan gara-gara AI seperti kebanyakan profil lain di seri ini tahun ini. Angka Bloomberg, $9,1 miliar, terpaut sekitar $800 juta di atas angka Forbes terdekat, tapi kami tidak menemukan tanggal pengambilan datanya yang jelas meski sudah mencari, jadi angka ini kami tampilkan sebagai perbedaan tersendiri, bukan digabung ke garis waktu Forbes di atas. Daftar tahunan Forbes World's Billionaires 2026, terbit 10 Maret 2026, sempat menempatkannya di peringkat ke-412 dunia.
Inti kekayaannya ada di Indorama Corporation, grup yang sepenuhnya privat, berkantor pusat di Singapura, dipimpin Lohia sebagai chairman: 178 lokasi produksi di 39 negara, lebih dari 51.000 karyawan, dan omzet grup sekitar $22 miliar per tahun, menurut materi perusahaan sendiri. Indorama adalah produsen pupuk non-negara terbesar ke-8 di dunia, dan produsen sarung tangan medis sekali pakai terbesar ke-3 di dunia, di samping bisnis petrokimia, poliolefin, dan bahan baku tekstil. Tidak satu pun dari bisnis ini tercatat di bursa mana pun.
Ada satu bagian lagi yang justru sebaliknya, terbuka. Lohia memegang 34% saham Indorama Ventures PCL, produsen PET, poliester, dan kemasan yang tercatat di Bursa Efek Thailand (IVL). Adiknya, Aloke Lohia, memegang 34% lainnya dan menjabat Wakil Ketua sekaligus CEO; Sri Prakash Lohia sendiri menjabat Chairman. Pembagian 34-34 ini berasal dari reorganisasi tahun 2008, saat bisnis poliester dan PET kedua bersaudara ini digabung jadi satu kendaraan yang tercatat di Thailand. Kapitalisasi pasar IVL sekitar Rp123,5 sampai 131,9 miliar baht Thailand, kira-kira $3,7 sampai $3,9 miliar, per sekitar 10 Agustus 2026 menurut factsheet resmi Bursa Efek Thailand, jauh lebih kecil dari kerajaan bisnis Indorama Corporation yang privat, yang jadi porsi terbesar dari angka-angka tracker di atas.
Pada 10 April 2026, Indorama Corporation menandatangani kesepakatan dengan mitra pemerintah Mesir, Misr Phosphate, untuk membangun Indorama Egypt Fertilizers, kompleks pupuk fosfat dan kimia senilai $525 juta di Kawasan Industri Ain Sokhna, Zona Ekonomi Terusan Suez. Proyek ini menargetkan kapasitas produksi pupuk fosfat 600.000 ton per tahun, dengan 80% untuk ekspor, dan diperkirakan membuka hingga 2.500 lapangan kerja tetap begitu beroperasi, menurut pemberitaan media dagang seperti World Fertilizer, Baker McKenzie, dan Zawya, semuanya bertanggal April 2026.
Kekayaan ini berada di dua titik keterbukaan sekaligus, bentuk yang tidak biasa untuk seri ini. Kebanyakan profil konglomerat di sini punya satu perusahaan induk privat yang berdiri di atas satu perusahaan operasional publik, seperti First Pacific milik Anthoni Salim yang berdiri di atas Indofood dan PLDT. Struktur Lohia justru terbagi bersih jadi satu kerajaan bisnis yang sepenuhnya privat, Indorama Corporation, berdiri terpisah dari satu saham minoritas yang justru terbuka, 34% di perusahaan publik lain di negara lain. Ini lebih mirip dengan CT Corp milik Chairul Tanjung, tempat unit-unit bisnis berbeda berada di titik keterbukaan yang berbeda-beda secara bersamaan, ketimbang bentuk satu holding privat di atas satu saham publik. IVL maupun entitas terkait Indorama lainnya belum masuk daftar aset kurasi NetWort, jadi hanya disebut di sini tanpa tautan.
Cerita Sri Prakash Lohia mengingatkan kita bahwa "seberapa terbuka kekayaan ini" tidak selalu punya satu jawaban. Dua bagian dari kekayaan orang yang sama bisa berada di ujung yang berlawanan dari spektrum keterbukaan, satu sepenuhnya tertutup, satu lagi dilaporkan tiap kuartal di bursa asing, dan angka tracker yang sebagian besar dibangun dari sisi yang tertutup itu pasti punya margin kesalahan yang lebih lebar daripada angka yang seluruhnya berasal dari laporan publik. Prinsip yang sama berlaku untuk portofolio investasimu sendiri: tahu persis apa yang kamu pegang, dan seberapa transparan tiap kepemilikan itu, sama pentingnya dengan angka besar yang sering jadi sorotan. Tulisan NetWort tentang risiko konsentrasi portofolio membahas apa yang bisa hilang kalau celah transparansi ini tidak kamu perhatikan.