Kekayaan Chairul Tanjung: Rp69,8 Triliun Versi Forbes, Sahamnya di Garuda Susut ke 1,4%
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Kalau kamu nonton Trans TV atau Trans7 minggu ini, atau belanja di Transmart, sebagian dari kekayaan yang mengalir dari situ mendarat di satu keluarga yang tiga tracker besar saja tidak sepakat soal jumlahnya. Kekayaan Chairul Tanjung tercatat $4,4 miliar menurut daftar Forbes Indonesia's 50 Richest yang terbit 10 Desember 2025, menempatkannya di peringkat ke-17 orang terkaya Indonesia. Tracker real-time Forbes sendiri menempatkannya di Rp69,8 triliun dan peringkat lebih tinggi pada awal Agustus 2026, dan indeks terpisah milik Bloomberg menempatkannya lebih tinggi lagi. Kekayaan itu dibangun lewat CT Corp, perusahaan induk privat di balik Bank Mega, Allo Bank, Trans TV, Trans7, dan jaringan hipermarket Transmart. Satu bagian dari kekayaan itu baru saja mengecil bukan karena keputusannya sendiri: penyelamatan Garuda Indonesia yang dipimpin negara memangkas porsi saham keluarganya dari jumlah yang cukup besar menjadi hampir tidak berarti.
| Penerbit | Tanggal | Angka | Peringkat |
|---|---|---|---|
| Forbes, Indonesia's 50 Richest 2025 | 10 Desember 2025 | $4,4 miliar | Ke-17 terkaya di Indonesia |
| Forbes Real-Time Billionaires (via Kompas, MetroTV News) | 5 Agustus 2026 | Rp69,8 triliun | Ke-12 terkaya di Indonesia |
| Bloomberg Billionaires Index (Bloomberg Technoz) | Diambil 14 Agustus 2026 | $5,1 miliar (Rp80,86 triliun) | Ke-9 terkaya di Indonesia |
Tiga potret, tiga gambaran berbeda. Di dalam angka Forbes sendiri saja, posisi Chairul Tanjung bergerak dari ke-17 ke ke-12 orang terkaya Indonesia antara daftar tahunan Desember 2025 dan tracker real-time Agustus 2026, jenis kesenjangan tahunan-versus-real-time yang sudah beberapa kali kami temukan di dalam satu penerbit yang sama di seri ini. Indeks Bloomberg, yang terpisah dan tidak bisa digabung dengan angka Forbes manapun jadi satu perbandingan sebelum-sesudah, menempatkannya tiga peringkat lebih tinggi lagi, di posisi ke-9. Ketiga penerbit ini tidak sepakat soal posisi pasti Chairul Tanjung di antara orang-orang terkaya Indonesia, hanya sepakat bahwa dia ada di kisaran belasan atas sampai belasan bawah.
CT Corp sendiri privat dan membawahi tiga unit usaha. Mega Corp menaungi bisnis jasa keuangannya, terutama Bank Mega (MEGA), yang dipegang lewat Mega Corpora, tercatat memiliki 6,81 miliar dari 11,73 miliar lembar saham MEGA, atau 58,02%, berdasarkan keterbukaan pemegang saham Bank Mega per 31 Januari 2025, dikutip Bisnis.com pada 14 April 2025. Unit yang sama juga menaungi Allo Bank (BBHI), bank digital yang diluncurkan CT Corp pada 20 Mei 2022. Trans Corp menaungi bisnis yang langsung bersentuhan dengan konsumen: Transmart, Trans TV, Trans7, Warunk Upnormal, dan sejumlah properti hospitality, semuanya sepenuhnya privat, tanpa kewajiban keterbukaan apa pun. MEGA maupun BBHI belum ada di daftar aset kurasi NetWort, jadi keduanya disebut di sini tanpa tautan.
Ada kendaraan keempat, PT Trans Airways, yang pernah membangun salah satu kepemilikan privat terbesar di Garuda Indonesia (GIAA), maskapai milik negara, sempat mencapai hampir 28% pada 2021. Saham inilah yang jadi topik bagian berikutnya.
Para pemegang saham Garuda menyetujui pendanaan penyelamatan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 12 November 2025, dieksekusi keesokan harinya. Danantara, dana kekayaan negara Indonesia sekaligus pengendali Garuda, mengambil bagian saham baru senilai Rp23,9 triliun, terdiri dari Rp17,02 triliun setoran tunai dan konversi utang menjadi saham senilai Rp6,65 triliun dari pinjaman yang sebelumnya sudah dikucurkan. Transaksi ini, dilaporkan IDN Financials dan Tempo pada Oktober dan November 2025, menaikkan porsi saham Danantara di Garuda dari 64,54% menjadi 93,5%, dan memangkas porsi seluruh pemegang saham lain secara proporsional. Kepemilikan Trans Airways turun dari 7,99% menjadi 1,47%; porsi saham publik turun dari 27,46% menjadi 5,03%.
Saham Garuda memang sudah lama jadi bagian kecil dan fluktuatif dari kekayaan Chairul Tanjung, jauh di bawah Bank Mega dan Trans Corp. Setelah dilusi ini, porsinya makin kecil, meskipun saham yang masih dipegang Trans Airways kini tercatat persis di keterbukaan informasi Garuda di BEI, berbeda dengan sebagian besar aset CT Corp lainnya.
Tidak seperti kebanyakan profil di seri ini, satu kekayaan ini berada di beberapa titik berbeda sekaligus dalam spektrum keterbukaan informasi. Bank Mega dan Allo Bank adalah perusahaan yang langsung tercatat di BEI dengan keterbukaan triwulanan, mirip bentuknya dengan saham bank publik tunggal milik Robert Budi Hartono yang dipegang lewat satu perusahaan induk privat, Dwimuria Investama Andalan. Saham Garuda, meski kini kecil, tetap bisa diketahui persis sejauh keterbukaan informasi BEI mengungkapkannya. Trans Corp, sebaliknya, sama sekali tidak punya kewajiban keterbukaan, lebih dekat ke Royal Golden Eagle milik Sukanto Tanoto yang sepenuhnya privat, kesenjangan antar-tracker terlebar yang pernah ditemukan seri ini. Ini juga kombinasi yang berbeda lagi dari kekayaan Anthoni Salim, yang terbagi antara satu perusahaan induk publik satu langkah terpisah dan kendaraan tambang yang sepenuhnya privat. Kekayaan Chairul Tanjung tidak berada di satu titik saja pada spektrum itu. Bagian-bagian berbeda dari kekayaan orang yang sama berada di tiga titik berbeda secara bersamaan, yang kemungkinan besar jadi alasan kenapa tiga penerbit ini sama sekali tidak sepakat soal satu angka pun.
Mekanisme yang membuat saham Trans Airways di Garuda menyusut dari hampir 8% jadi di bawah 1,5% tanpa menjual satu lembar pun sama persis dengan yang dibahas penjelasan NetWort tentang dilusi saham rights issue lengkap dengan contoh hitungannya: begitu perusahaan menerbitkan saham baru lebih cepat daripada kamu menambah kepemilikan, persentase kepemilikanmu turun meskipun kamu tidak melakukan apa-apa. Hal yang sama terjadi pada saham maskapai milik konglomerat maupun pada posisi investor ritel di rights issue yang lebih kecil, hanya beda skala.