BI Naikkan Suku Bunga Tiga Kali di 2026, Tapi Bank Sentral Tetangga Nggak Ikut. Ini Kenapa
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Sepanjang 2026, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuannya tiga kali, totalnya 100 basis poin (1 basis poin sama dengan 0,01%). Bank sentral Malaysia? Nggak gerak sama sekali sepanjang tahun. Bank sentral Filipina malah lebih dramatis lagi: turunin bunga, sempat diam, terus balik arah naikin tiga kali berturut-turut. Satu wilayah, satu tahun yang sama, sama-sama kena imbas kebijakan The Fed dan lonjakan harga minyak dari konflik Timur Tengah, tapi hasilnya tiga keputusan yang beda total. Kalau kamu sering lihat berita BI Rate naik dan bertanya-tanya kenapa bank sentral tetangga nggak ikut-ikutan, jawabannya sederhana: kebijakan bank sentral di kawasan ini memang nggak pernah gerak bareng. Masing-masing bank sentral cuma peduli sama kondisi mata uang, inflasi dan pertumbuhan ekonomi negaranya sendiri, bukan sama apa yang dilakukan tetangganya.
BI Rate adalah suku bunga acuan utama Bank Indonesia, angka yang dipakai buat memengaruhi biaya pinjaman, bunga kredit bank, dan yang paling langsung, seberapa menarik rupiah di mata investor asing. Di awal 2026, BI Rate ada di 4,75%.
Bank Indonesia menaikkannya 50 basis poin di Mei 2026, lalu 25 basis poin lagi lewat rapat di luar jadwal pada 9 Juni, kemudian 25 basis poin lagi di rapat rutin 18 Juni, jadi totalnya 100 basis poin hanya dalam enam minggu. BI Rate pun jadi 5,75%, dan bertahan di angka itu di dua rapat berikutnya, 21-22 Juli dan 18-19 Agustus 2026 (Focus Economics; OpenGov Asia).
Yang mendorong kenaikan ini bukan inflasi dalam negeri, karena inflasi Indonesia di Agustus 2026 cuma 3,19%, masih nyaman di dalam target BI di rentang 1,5% sampai 3,5% (BPS, angka yang sama dipakai di artikel NetWort soal kenapa rupiah jadi target carry trade). Pendorongnya adalah pelemahan rupiah dan ketidakpastian global. Suku bunga yang lebih tinggi bikin aset berdenominasi rupiah kasih imbal hasil lebih besar, yang membantu menarik kembali dana asing dan menopang nilai tukar. Rapat BI berikutnya dijadwalkan 22-23 September 2026, setelah artikel ini terbit, jadi cek dulu hasilnya sebelum menganggap BI Rate masih di 5,75%.
Bank sentral Malaysia, Bank Negara Malaysia (BNM), punya suku bunga acuan sendiri namanya Overnight Policy Rate (OPR). Terakhir kali OPR berubah adalah 9 Juli 2025, waktu BNM memangkasnya 25 basis poin dari 3,00% ke 2,75% sebagai langkah antisipasi buat jaga pertumbuhan ekonomi (FMT; Bernama).
Sejak itu, BNM menahan OPR di 2,75% di setiap rapat sepanjang 2026, termasuk yang paling baru pada 3 September 2026, rapat kelima berturut-turut tanpa perubahan. Alasannya kebalikan dari Indonesia: ekonomi Malaysia tumbuh 5,7% di semester pertama 2026, cukup kuat sampai BNM menaikkan proyeksi pertumbuhan penuh tahun ini jadi sekitar 5%, sementara inflasi headline dan inflasi inti rata-rata cuma 1,8% dan 2% di tujuh bulan pertama tahun ini (The Star; BusinessToday). Dengan pertumbuhan yang solid dan inflasi terkendali, BNM memang nggak punya alasan buat bergerak ke arah mana pun.
Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) memulai 2026 di angka 4,50%, level yang tercapai setelah pemangkasan Desember 2025. BSP masih memangkas sekali lagi, 25 basis poin jadi 4,25%, pada 19 Februari 2026, penurunan terakhir dari siklus pelonggaran yang total sudah memangkas 225 basis poin sejak Agustus 2024. Setelah itu BSP menahan suku bunga di rapat di luar jadwal pada 23 Maret 2026, memberi sinyal siklus pelonggarannya kemungkinan sudah selesai (Manila Bulletin; Business Inquirer).
Lalu arahnya berbalik total. Eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak naik, dan proyeksi inflasi BSP sendiri memburuk cukup cepat sampai BSP menaikkan suku bunga 25 basis poin pada 24 April 2026, kenaikan pertamanya sejak Oktober 2023, disusul kenaikan 25 basis poin lagi di Juni, dan yang ketiga pada 27 Agustus 2026, hingga suku bunganya jadi 5,00%, total 75 basis poin pengetatan hanya dalam empat bulan (Philstar; Rappler). BSP sendiri memproyeksikan inflasi headline Agustus 2026 ada di kisaran 5,5% sampai 6,5%, jauh di atas batas atas targetnya sendiri di 2% sampai 4% (BusinessWorld).
| Negara | Bank sentral | Suku bunga, 1 Jan 2026 | Sekarang | Pergerakan 2026 | Pendorong utama |
|---|---|---|---|---|---|
| Indonesia | Bank Indonesia | 4,75% | 5,75% (sejak 18-19 Agu) | +100 bps, semua di Mei-Juni | Jaga rupiah dari pelemahan |
| Malaysia | Bank Negara Malaysia | 2,75% | 2,75% (tetap sejak Jul 2025) | Tidak berubah | Pertumbuhan kuat, inflasi rendah |
| Filipina | Bangko Sentral ng Pilipinas | 4,50% | 5,00% (sejak 27 Agu) | -25 bps Feb, +75 bps Apr-Agu | Lonjakan inflasi akibat harga minyak |
Satu cerita global yang sama, keputusan The Fed yang sama dan lonjakan harga minyak Timur Tengah yang sama, sampai ke tiga negara ini di 2026. Tapi tugas setiap bank sentral cuma satu: jaga mata uang, inflasi dan pertumbuhan negaranya sendiri, bukan mengikuti tetangganya.
Masalah Indonesia ada di arus modal dan stabilitas nilai tukar, jadi Bank Indonesia mengandalkan suku bunga yang paling langsung memengaruhi seberapa menarik aset rupiah di mata dana asing. Angka pertumbuhan dan inflasi Malaysia nggak kasih alasan buat BNM bergerak sama sekali. Filipina justru punya masalah kebalikan dari Indonesia: bukan mata uang yang tertekan, tapi proyeksi inflasi yang menembus batas atas targetnya sendiri gara-gara biaya minyak impor, sampai memaksa BSP balik arah dari menurunkan ke menaikkan suku bunga dalam tahun yang sama.
Selisih suku bunga antarnegara ikut menggerakkan nilai tukar dan arus modal, dan ini relevan kalau portofolio kamu ada yang berdenominasi rupiah, ringgit atau peso, atau saham-saham Asia Tenggara secara umum. Selisih yang makin lebar antara suku bunga Indonesia dan negara tetangga yang lebih rendah bisa menarik lebih banyak modal asing ke aset rupiah, pola yang sama seperti yang dibahas NetWort di artikel kenapa rupiah jadi target carry trade global. Sebaliknya, kenaikan suku bunga di Filipina adalah tanda tekanan inflasi, bukan undangan buat modal yang mengejar imbal hasil.
Kamu nggak perlu hafalin jadwal rapat tiga bank sentral sekaligus. Halaman Macro Context di NetWort melacak suku bunga Bank Indonesia, inflasi Indonesia, suku bunga The Fed dan nilai tukar yang menghubungkan semuanya dalam satu layar, diperbarui begitu data baru keluar, jadi kamu bisa lihat posisi angka-angkanya tanpa harus buka satu-satu siaran pers tiga bank sentral berbeda.