BI Turunin Suku Bunga 5 Kali, NIM BCA Malah Turun 50 bps. Ini Alasannya
Baca 5 menit
Baca 5 menit
NIM BCA (BBCA) di semester I 2026 tercatat 5,3%. Setahun sebelumnya 5,8%. Artinya hilang sekitar 50 basis point di bank paling untung di Indonesia. Di periode yang sama, NIM BRI (BBRI) cuma turun 18 basis point, dari 6,58% ke 6,40%.
Negaranya sama. Bank sentralnya sama. Lima kali BI Rate turun di 2025 juga sama. Hasilnya beda. Angka yang menjelaskan itu namanya net interest margin, atau NIM. Di sini kamu bakal tahu apa itu NIM, gimana gerakannya di tiga bank terbesar, dan kenapa dampaknya nggak sama buat semua bank.
Bank cari untung dari selisih. Bank bayar bunga kecil ke tabunganmu, lalu narik bunga lebih besar dari peminjam. NIM adalah selisih itu, dibandingkan dengan seluruh aset bank yang menghasilkan bunga.
Satu basis point (bps) itu seperseratus persen. Jadi turun dari 5,8% ke 5,3% berarti turun 50 bps.
Kenapa penting buat kamu yang punya saham bank? Karena bunga adalah sumber pendapatan terbesar bank. Kalau selisihnya menipis, bank harus cari untung dari tempat lain, misalnya kredit yang lebih banyak atau biaya yang lebih hemat.
Bank Indonesia menurunkan BI Rate lima kali sepanjang 2025, masing-masing 25 bps, dari 6,00% ke 4,75%. Di 2026 arahnya berbalik. BI menaikkan suku bunga di Mei, lalu lagi tanggal 9 Juni dan 18 Juni, sampai 5,75%. Tabel lengkap soal dampak lima kali penurunan BI Rate ke IHSG ada di artikel kami sebelumnya.
Perubahan BI Rate nggak langsung terasa penuh di bank. Kredit dan deposito menyesuaikan bunganya dengan kecepatan berbeda. Selisih waktu itu kunci ceritanya.
Ini angka terbaru yang dilaporkan. Tiap bank menyebut angkanya sendiri, dan periodenya nggak persis sama. Baca kolom terakhir dengan teliti.
| Bank | NIM semester I 2026 | Pembanding | Perubahan |
|---|---|---|---|
| BCA (BBCA) | 5,3% | 5,8% setahun sebelumnya | Sekitar −50 bps |
| BRI (BBRI) | 6,40% | 6,58% setahun sebelumnya | −18 bps |
| Bank Mandiri (BMRI), kuartal II 2026 | 4,56% | 4,70% di kuartal I 2026 | −14 bps dalam satu kuartal |
Sumber: laporan kinerja semester I 2026 BBCA dan BBRI sebagaimana diberitakan Kontan, Bareksa, Bisnis.com, dan IDN Financials. NIM kuartal II Bank Mandiri dari Bisnis.com dan Kontan. Diakses 30 September 2026.
Perhatikan, baris Mandiri membandingkan dua kuartal, bukan dua tahun. Jangan disejajarkan langsung dengan dua bank lainnya.
Mulai dari fase penurunan 2025. Waktu BI menurunkan suku bunga, bank cepat menurunkan bunga kredit baru karena saingannya juga begitu. Tapi bunga deposito nggak bisa diturunkan secepat itu, apalagi buat deposan besar yang bisa pindah bank.
Penjelasan BCA sendiri, seperti diberitakan Kontan, penurunan NIM adalah dampak dari penyesuaian bunga kredit sepanjang 2025, yang masih terasa sampai kuartal I 2026 sebelum BI menaikkan suku bunga lagi di Mei.
Lalu BI mulai menaikkan suku bunga, dan tekanannya berubah bentuk. Data Bank Indonesia menunjukkan rata-rata bunga kredit 8,81% di Juni 2026, sementara bunga deposito 12 bulan melonjak ke 5,44% dari 4,50% sebulan sebelumnya. Biaya dana naik lebih cepat dari imbal hasil kredit. Biaya dana deposito Mandiri sendiri naik ke 2,04% di kuartal II dari 1,97% di kuartal I.
Gampangnya: saat suku bunga turun, sisi pendapatan kena duluan. Saat suku bunga naik, sisi biaya yang kena duluan. Dua-duanya bikin selisih menipis.
Ada tiga hal yang bikin NIM satu bank bergerak beda dari bank lain.
Apa yang dikreditkan. NIM BBRI sekitar 6,4% dan Mandiri sekitar 4,6%. Bank yang banyak menyalurkan kredit ke usaha kecil dan mikro biasanya menarik bunga lebih tinggi dibanding bank yang porsinya lebih besar di kredit korporasi. Ini alasan struktural kenapa levelnya beda, bukan cuma perubahannya.
Berapa biaya dananya. BCA dikenal punya basis giro dan tabungan yang besar, dan dananya murah. Bank yang lebih bergantung pada deposito berjangka harus lebih cepat menaikkan bunga saat suku bunga naik dan likuiditas ketat.
Seberapa banyak kredit yang ikut menyesuaikan. Kebanyakan kredit dibuat dengan bunga kemarin. Cuma kredit baru dan kredit bunga mengambang yang cepat berubah. Di artikel kami soal BI Rate versus bunga kredit bank sebenarnya, kelihatan betapa pelan bunga kredit rata-rata mengikuti.
Mandiri menurunkan target NIM 2026 jadi 4,3% sampai 4,5%, dari 4,5% sampai 4,7%, dengan alasan biaya dana naik dan likuiditas lebih ketat, menurut Bisnis.com. Sebaliknya, manajemen BCA menyebut NIM diperkirakan membaik ke kisaran 5,4% sampai 5,6% di akhir tahun. Itu proyeksi bank sendiri, dan bisa meleset.
Nah, ini yang menarik. NIM BBRI turun, tapi laba bersihnya naik 17,5% jadi Rp31,18 triliun di semester I 2026, dari Rp26,53 triliun setahun sebelumnya. Pendapatan bunga bersihnya tetap tumbuh 9,9% karena kreditnya bertambah. Laba Mandiri naik 24,4% ke Rp30,4 triliun. Laba BCA cuma tumbuh sekitar 2% ke Rp29,5 triliun.
NIM itu persentase. Pendapatan bunga adalah persentase dikali saldo. Bank bisa dapat selisih lebih tipis dari kredit yang jauh lebih besar, dan tetap untung lebih banyak. Jadi NIM cuma satu keping gambaran, bukan vonis. Lihat juga pertumbuhan kredit, biaya dana, dan kredit bermasalah.
Pas BI umumkan keputusan suku bunga, jangan menebak bank mana yang diuntungkan. Cek tiga angka di laporan kuartalan tiap bank: NIM, biaya dana, dan pertumbuhan kredit. Lalu bandingkan arahnya dari kuartal ke kuartal, bukan satu angka saja.
Buka halaman aset BBCA di NetWort untuk lihat gerak sahamnya selama siklus ini, dan pakai halaman Macro Context untuk lihat posisi BI Rate sekarang. Pilih satu bank yang kamu ikuti, catat empat angka NIM terakhirnya, lalu lihat garisnya menuju ke mana.