Korelasi Aset yang Biasanya Rendah Bisa Mendadak Naik Pas Market Crash
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Kamu punya dua aset yang biasanya nggak gerak bareng. Mungkin saham bank IDX di samping reksa dana indeks global, atau emas di sebelah portofolio sahammu. Di masa tenang, itu memang yang kamu mau: kalau satu turun, yang lain tetap stabil, jadi total portofoliomu nggak ikut anjlok. Tapi begitu crash beneran datang, keduanya malah kompak turun di hari yang sama, karena alasan yang sama. Itu bukan kebetulan, dan bukan aplikasi pelacak portofoliomu yang salah hitung. Ini punya nama: korelasi yang mendadak naik pas market crash, dan biasanya muncul justru pas kamu paling butuh diversifikasi bekerja.
Korelasi adalah angka antara -1 dan +1 yang menggambarkan seberapa bareng return dua aset bergerak. Mendekati +1 artinya keduanya cenderung naik turun bersamaan. Mendekati 0 artinya pergerakan keduanya nggak punya hubungan yang konsisten. Mendekati -1 artinya satu cenderung naik saat yang lain turun. NetWort sudah bahas dasar-dasar korelasi dan diversifikasi lebih detail di Dua Saham yang Naik Turunnya Bareng Itu Sebenarnya Nggak Bikin Kamu Diversifikasi, bagus dibaca dulu kalau konsepnya masih baru buat kamu.
Yang dibahas di sini adalah pola yang lebih spesifik: dua aset bisa punya korelasi rendah selama berbulan-bulan, lalu korelasi itu mendadak melonjak justru pas market lagi turun tajam, bukan pas lagi naik. Ini bukan cuma kata-kata yang beredar di dunia trading. Riset Francois Longin dan Bruno Solnik tahun 2001 di jurnal The Journal of Finance, "Extreme Correlation of International Equity Markets" (Vol. 56, No. 2, hal. 649-676), menguji tepat hal ini pakai extreme value theory pada return pasar saham internasional. Mereka menemukan bahwa perilaku statistik return di sisi negatif, hari-hari terburuk, beda dari sisi positif, hari-hari terbaik: pasar yang kelihatannya nggak terlalu terkait sebagian besar waktu bisa menunjukkan hubungan yang jauh lebih kuat justru pas semuanya lagi jatuh bareng.
Angka paling jelas dan bisa dipertanggungjawabkan datang dari riset Two Sigma, "Asset Class Correlations: Return to Normalcy?", yang melacak return bulanan dari 74 instrumen: 42 indeks saham negara, 16 pasar obligasi pemerintah, 9 mata uang, dan 7 komoditas.
| Periode | Korelasi antar saham global | Korelasi saham-komoditas |
|---|---|---|
| Sebelum krisis 2008 | sekitar 0,40 | sekitar 0,0 |
| Saat krisis 2008 | sekitar 0,70 | sekitar 0,6 |
Sumber: Two Sigma, "Asset Class Correlations: Return to Normalcy?"
Pasar saham antar negara yang secara historis bergerak agak independen satu sama lain, korelasinya nyaris dua kali lipat begitu krisis pecah. Komoditas, yang sebelum 2008 nyaris nggak punya hubungan konsisten dengan saham, mulai bergerak bareng saham dengan korelasi sekitar 0,6, level yang biasanya menandakan dua aset punya keterkaitan ekonomi yang nyata, bukan dua pasar yang nggak berhubungan.
Crash COVID 2020 adalah contoh paling jelas belakangan ini, karena kejadiannya cepat banget sampai seluruh polanya kelihatan cuma dalam hitungan minggu. S&P 500 anjlok 33,9%, dari penutupan tertinggi 3.386,15 pada 19 Februari 2020 ke penutupan terendah 2.237,40 pada 23 Maret 2020, penurunan yang butuh sekitar 17 bulan buat terjadi di krisis 2008 tapi cuma butuh sekitar lima minggu di COVID-19.
Emas adalah contoh klasik "safe haven", aset yang seharusnya tetap stabil, atau bahkan naik, pas saham lagi jatuh. Tapi di periode yang sama, emas juga ikut turun, sekitar 12% sepanjang Maret 2020, menurut riset World Gold Council soal periode itu. Penjelasan World Gold Council sendiri bukan karena prospek jangka panjang emas berubah. Penyebabnya likuiditas: pas saham, obligasi korporasi, dan aset lain pada anjlok, investor yang kena margin call dan permintaan penarikan dana buru-buru jual apa pun yang paling gampang dijual cepat, dan emas adalah salah satu aset paling likuid di dunia. Emas dijual buat nutup kerugian di tempat lain, bukan karena orang berhenti percaya sama emas.
Mekanismenya nggak misterius kalau dilihat dari sisi penjual, bukan dari sisi asetnya. Crash biasanya dimulai dari satu guncangan: pembekuan kredit, gelombang margin call, atau serbuan penarikan dana reksa dana. Investor dan fund manager yang pegang banyak aset sekaligus nggak cuma jual aset yang langsung terkait guncangan itu. Mereka jual apa pun yang cukup likuid buat dijual cepat, di seluruh portofolionya, buat dapat uang tunai atau nutup margin call. Satu alasan jual yang sama itulah yang bikin banyak aset berbeda kompak turun bareng, terlepas dari seberapa beda perilaku mereka sebulan sebelumnya.
Perlu jujur juga bahwa nggak semua peneliti sepakat baca angka 2008 dan 2020 dengan cara yang sama. Riset Kristin Forbes dan Roberto Rigobon tahun 2002 di The Journal of Finance, "No Contagion, Only Interdependence: Measuring Stock Market Comovements," berargumen bahwa koefisien korelasi sederhana cenderung bias ke atas begitu volatilitas naik, jadi sebagian dari "lonjakan" korelasi pas krisis bisa jadi efek samping statistik dari market yang lebih liar, bukan bukti hubungan aslinya beneran berubah. Buat investor yang beneran pegang kedua aset itu, perbedaan ini nggak terlalu penting: entah penyebabnya pergeseran nyata atau efek pengukuran akibat volatilitas, pengalaman yang dirasakan sama saja. Kedua aset kompak turun bareng, justru pas salah satunya seharusnya bertahan.
Ini bukan cuma cerita 2008 dan 2020. Artikel NetWort sendiri, Korelasi Bitcoin dengan Nasdaq Berubah dari -0,68 ke +0,72 Cuma dalam Dua Minggu, mendokumentasikan mekanisme yang sama terjadi pada Februari 2026: korelasi rolling 30 hari bitcoin dengan Nasdaq berubah dari -0,68 ke +0,72 dalam sekitar dua minggu, pas ada selloff yang dipicu sektor teknologi. Pasangan yang tadinya bergerak berlawanan arah mendadak bergerak bareng persis pas guncangan yang sama menghantam keduanya. Kamu bisa cek halaman aset Bitcoin buat lihat korelasinya sama S&P 500 saat ini, daripada menganggap korelasinya masih sama kayak bulan lalu.
Pelajarannya bukan berarti berhenti diversifikasi. Tapi sadari bahwa korelasi rendah yang terukur di masa tenang bukan jaminan, itu cuma potret yang bisa berubah drastis justru pas ada guncangan. Tampilan Portfolio Health di NetWort menunjukkan beta, volatilitas, dan maximum drawdown asli dari kepemilikanmu sendiri, jadi kamu bisa lihat berapa banyak risiko totalmu terkonsentrasi di posisi-posisi yang cenderung bereaksi ke guncangan yang sama, bukan cuma menebak dari cara aset-aset itu bergerak belakangan ini.