Kenaikan Gaji 10% Nilainya Jauh Lebih dari 10%. Dampak Negosiasi Gaji Selama 20 Tahun
Baca 4 menit
Baca 4 menit
Kamu dapat tawaran kerja: gaji Rp10 juta sebulan. Senang dong. Lima menit kemudian kamu bilang "oke, saya terima".
Lima menit itu bisa menghabiskan ratusan juta rupiah. Bukan tahun ini. Tapi dalam 20 tahun.
Kenapa? Gaji bukan angka sekali pakai. Setiap kenaikan gaji di masa depan dihitung dari angka awal itu. Dan setiap rupiah yang kamu sisihkan dari gaji bisa tumbuh. Jadi negosiasi gaji adalah salah satu momen langka ketika obrolan singkat mengubah uangmu puluhan tahun.
Semua angka di bawah ini hitungan dengan asumsi yang jelas. Ini ilustrasi, bukan ramalan.
Kenalkan Ayu dan Budi. Pekerjaan sama, kemampuan sama, bos pun sama.
Keduanya kami beri kenaikan gaji yang sama, 5% per tahun. Ini asumsi kami, bukan rata-rata pasar. Tidak ada yang dapat persis segitu tiap tahun.
Kami juga pakai gaji kotor (sebelum pajak) supaya hitungannya rapi. Gaji bersihmu pasti lebih kecil, tapi pola selisihnya sama.
Di tahun pertama, Budi dapat Rp1 juta lebih banyak tiap bulan. Setahun jadi Rp12 juta.
Terasa kecil. Rp1 juta cuma cukup untuk makan malam enak, belum mengubah hidup. Inilah alasan banyak orang malas menawar. Selisihnya kelihatan sepele.
Tapi lihat apa yang terjadi berikutnya.
Kenaikan gaji biasanya dalam persen. Naik 5% dari Rp10 juta berarti Rp500 ribu. Naik 5% dari Rp11 juta berarti Rp550 ribu.
Jadi Budi dapat tambahan lebih besar setiap tahun, hanya karena mulai dari angka lebih tinggi. Selisihnya tidak tetap Rp1 juta. Selisih itu ikut tumbuh 5% per tahun.
Di tahun ke-20, gaji Ayu sekitar Rp25,3 juta per bulan. Gaji Budi sekitar Rp27,8 juta. Selisih bulanannya sudah sekitar Rp2,5 juta, bukan lagi Rp1 juta.
Ini tambahan gaji yang diterima Budi, dijumlahkan tiap bulan:
| Setelah | Tambahan gaji Budi (kotor) |
|---|---|
| 1 tahun | Rp12 juta |
| 5 tahun | Rp66 juta |
| 10 tahun | Rp151 juta |
| 20 tahun | Rp397 juta |
Pekerjaan sama, usaha sama. Selisih Rp397 juta dalam 20 tahun, dari satu obrolan.
Sekarang tambahkan efek kedua: compounding. Compounding artinya keuntunganmu ikut menghasilkan keuntungan lagi. Makin lama uang berputar, makin cepat tumbuhnya.
Misalkan Budi menyisihkan dan menginvestasikan tambahan gajinya tiap bulan. Kami asumsikan return 7% per tahun. Angka ini cuma contoh agar hitungannya terlihat. Return asli berubah-ubah tiap tahun dan bisa negatif.
| Setelah | Tambahan gaji | Tambahan gaji yang diinvestasikan (7% per tahun) |
|---|---|---|
| 5 tahun | Rp66 juta | Rp78 juta |
| 10 tahun | Rp151 juta | Rp209 juta |
| 20 tahun | Rp397 juta | Rp753 juta |
Di tahun ke-20, selisih yang diinvestasikan hampir dua kali lipat selisih gaji biasa. Bonus 10% di awal berubah jadi sekitar Rp753 juta dalam contoh ini.
Jadi judul di atas benar. Kenaikan 10% nilainya jauh lebih dari 10%, karena efeknya menjalar ke setiap kenaikan gaji dan setiap rupiah yang kamu investasikan.
Hati-hati dengan hitungan seperti ini. Ada tiga hal yang bisa memperkecil hasilnya:
Pelajarannya bukan "kamu akan dapat Rp753 juta". Pelajarannya soal arah. Gaji awal lebih tinggi membantu, dan waktu membuatnya makin besar.
Kenaikan gaji hanya berguna kalau sebagian sampai ke investasimu. Kalau pengeluaran naik mengikuti gaji, selisihnya hilang. Jebakan ini kami bahas di kenapa gaya hidup ikut naik saat gaji naik.
Kebiasaan sederhananya: saat gaji naik, tentukan dulu berapa dari tambahan itu yang ditabung. Sisanya baru dipakai.
Ganti dengan gajimu, kenaikan gajimu, dan porsi tabunganmu. Bentuk hasilnya tetap sama.
Lalu lihat posisi uangmu hari ini. Buka Dashboard NetWort untuk melihat nilai dan return portofoliomu sekarang. Di situlah "selisih yang diinvestasikan" nanti bergabung dengan angka aslimu.