Slip Gajimu Berubah dan Potongan Pajaknya Kelihatan Beda. Ini Cara Kerja Pajak PPh 21 Metode TER
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Bayangkan gajimu Rp10 juta sebulan. Sebelas bulan berturut-turut, potongan pajak di slip gaji tertulis Rp200.000. Lalu Desember datang, dan angkanya jadi Rp800.000.
Tenang, nggak ada yang salah. Pajakmu nggak tiba-tiba naik empat kali lipat. Kamu cuma ketemu PPh 21 metode TER, cara pemotongan pajak gaji yang dipakai pemberi kerja sejak Januari 2024.
Panduan cara hitung PPh 21 TER ini membahasnya langkah demi langkah, dengan satu contoh hitungan. Aturannya kami baca lewat ringkasan pencarian dari DJP, DDTC, IKPI, dan Pajak.com pada 9 Oktober 2026. Teks peraturannya sendiri tidak bisa kami buka, jadi cek tabel resminya sebelum kamu pakai angka apa pun.
PPh 21 adalah pajak penghasilan yang dipotong dari gajimu. Perusahaan yang memotongnya, lalu menyetorkannya ke kantor pajak atas namamu.
TER singkatan dari Tarif Efektif Rata-rata. Aturannya lahir lewat PP 58/2023, dengan petunjuk teknis di PMK 168/2023. Tujuannya, menurut sumber-sumber tadi, menyederhanakan pemotongan bulanan.
Dulu, tiap bulan perusahaan harus menghitung penghasilan neto, mengurangi berbagai pengurang, lalu memakai lapisan tarif pajak. Dengan TER, perusahaan cukup mengambil gaji bruto bulan itu dan mengalikannya dengan satu tarif dari tabel. Selesai.
Gaji bruto artinya gaji sebelum dipotong apa pun.
Ada dua hal yang menentukan tarifmu.
1. Kategori TER. Kategori ini ikut status PTKP-mu. PTKP adalah penghasilan yang tidak dikenai pajak, besarnya tergantung status kawin dan jumlah tanggungan. Menurut sumber:
2. Gaji bruto di bulan itu. Tiap kategori punya tabel lapisan gaji, dan tiap lapisan punya satu tarif. Untuk kategori A, tarifnya 0% sampai gaji Rp5,4 juta sebulan. Setelah itu tarifnya naik pelan-pelan. Beberapa contohnya, seperti yang dikutip IKPI:
| Gaji bruto per bulan | TER |
|---|---|
| Sampai Rp5.400.000 | 0% |
| Rp6.300.001 sampai Rp6.750.000 | 1,00% |
| Rp8.550.001 sampai Rp9.650.000 | 1,75% |
| Rp9.650.001 sampai Rp10.050.000 | 2,00% |
Menurut sumber, tarif bulanan tertinggi adalah 34%, untuk gaji di atas Rp1,4 miliar sebulan. Tabel lengkap kategori B dan C tidak sempat kami lihat, jadi buka lampiran PMK 168/2023 untuk angkanya.
TER dipakai untuk pegawai tetap dan pekerja dengan upah bulanan. Pekerja harian punya mekanisme sendiri.
Nah, ini bagian yang sering bikin kaget.
TER hanya dipakai untuk Januari sampai November. Di masa pajak terakhir, biasanya Desember, perusahaan pindah ke tarif progresif Pasal 17 UU PPh. Begitu penjelasan DDTC dan situs DJP.
Tarif itu 5%, 15%, 25%, 30%, dan 35%, dikenakan per lapisan penghasilan kena pajak setahun.
Di Desember, perusahaan menghitung ulang. Mereka cari dulu pajak yang seharusnya kamu bayar untuk satu tahun penuh. Lalu dikurangi semua pajak yang sudah dipotong dari Januari sampai November. Selisihnya itulah yang dipotong di Desember.
Kenapa nggak pakai TER terus? Karena TER cuma rata-rata, dan rata-rata itu perkiraan. Desember adalah saat perkiraan dikoreksi jadi tagihan yang sebenarnya.
Kita ikuti satu orang. Ini ilustrasi kami sendiri, bukan slip gaji asli.
Asumsinya:
Langkah 1: Januari sampai November. Rp10.000.000 masuk lapisan Rp9,65 juta sampai Rp10,05 juta, tarifnya 2,00%. Pajak per bulan Rp200.000. Selama sebelas bulan totalnya Rp2.200.000.
Langkah 2: tagihan setahun penuh.
| Komponen | Jumlah |
|---|---|
| Gaji bruto setahun | Rp120.000.000 |
| Dikurangi biaya jabatan (5%, maksimal Rp6 juta setahun) | Rp6.000.000 |
| Penghasilan neto | Rp114.000.000 |
| Dikurangi PTKP TK/0 | Rp54.000.000 |
| Penghasilan kena pajak | Rp60.000.000 |
| Pajak 5% (lapisan pertama) | Rp3.000.000 |
PTKP Rp54 juta dan tarif 5% sampai 35% adalah angka yang menurut sumber belum berubah untuk 2026. Biaya jabatan adalah pengurang standar 5%, dengan batas Rp6 juta setahun.
Langkah 3: Desember. Rp3.000.000 dikurangi Rp2.200.000 sama dengan Rp800.000.
Jadi pajaknya Rp200.000 selama sebelas bulan, lalu Rp800.000 di Desember. Total setahun tetap Rp3.000.000, sama seperti kalau dipotong rata sekitar Rp250.000 per bulan. TER hanya memotong sedikit lebih ringan tiap bulan, lalu menyusul di akhir.
Angkamu pasti beda. Slip gaji asli punya iuran BPJS, bonus, THR, kadang penghasilan lain. Semuanya mengubah pajak setahun dan lapisan tarif di bulan terjadinya.
Beberapa hal untuk diingat:
Kalau mau bersiap, sisihkan selisihnya dari awal. Untuk gaji Rp10 juta, Desember kira-kira Rp600.000 lebih berat dibanding bulan biasa. Kalau THR-mu juga cair menjelang akhir tahun, panduan cara bagi alokasi THR biar nggak habis bisa membantumu merencanakan keduanya sekaligus.
PPh 21 hanya untuk gaji. Penghasilan lain dipajaki terpisah. Pajak untuk omzet pemilik usaha ceritanya lain lagi, dan kami bahas di cara hitung PPh final UMKM. Jual saham di bursa juga punya tarif sendiri, dijelaskan di pajak final jual saham IDX.
Ambil slip Desember tahun lalu dan slip Januari kamu. Bandingkan baris PPh 21-nya. Lalu pakai kalkulator pajak DJP atau tabel resmi PMK untuk melihat apakah angkanya cocok dengan langkah di atas. Kalau nggak cocok, minta bagian payroll menjelaskan. Mereka bisa menunjukkan hitungan setahun penuhnya.
Gaji yang kamu bawa pulang adalah uang yang benar-benar bisa kamu investasikan, jadi penting tahu kenapa angkanya bergerak. Setelah tahu angka bulananmu yang sebenarnya, buka dashboard NetWort untuk melihat berapa nilai portofolio yang sudah terbangun dari uang itu, dan sisihkan dana untuk selisih Desember dari sekarang.