Populasi Indonesia Menua Lebih Cepat dari yang Diperhitungkan Sistem Pensiunnya. Ini Hitungan di Balik Kenapa Itu Masalah
Baca 4 menit
Baca 4 menit
Tahun 2010, dari 100 orang Indonesia, sekitar 7,6 orang berusia 60 tahun ke atas. Di 2025, hampir 12 orang. Itulah cerita populasi Indonesia menua dalam dua angka, dan efeknya nyambung langsung ke uang pensiun kamu.
Di sini kita bahas pelan-pelan apa dampaknya ke sistem pensiun. Istilah baru dijelaskan saat pertama muncul.
BPS merilis Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025. Porsi penduduk usia 60 tahun ke atas, seperti dilaporkan RRI dan Katadata:
| Tahun | Porsi penduduk usia 60+ |
|---|---|
| 2010 | 7,59% |
| 2015 | 8,47% |
| 2020 | 9,93% |
| 2025 | 11,97% |
Suatu negara disebut masuk fase aging population kalau porsi lansianya lewat 10%. Indonesia melewatinya antara 2020 dan 2025.
Sebarannya tidak merata. DI Yogyakarta 17,83%, Jawa Timur 15,45%, Bali 15,07%.
BPS juga memproyeksikan porsi lansia mencapai 20,31% pada 2045, seperti dilaporkan GoodStats. Ini proyeksi, bukan data hasil ukur, jadi bisa bergeser.
Rasio ketergantungan lansia menghitung ada berapa orang lansia untuk setiap 100 orang usia kerja. Tahun 2024, BPS mencatat angkanya 17,76, menurut GoodStats.
Coba balik. 100 dibagi 17,76 kira-kira 5,6. Jadi di 2024 ada sekitar 5,6 orang usia kerja untuk tiap satu lansia. Pembagian ini hitungan kami sendiri, bukan angka BPS.
Kenapa penting? Banyak sistem pensiun jalan seperti estafet. Pekerja hari ini membayar iuran, dan uangnya ikut menopang pensiunan hari ini. Kalau pekerja di belakang tiap pensiunan makin sedikit, estafetnya makin berat.
Tidak sepenuhnya. Program Jaminan Pensiun (JP), yaitu pensiun bulanan dari BPJS Ketenagakerjaan, memakai sistem pendanaan sebagian (partially funded). Begitu penjelasan policy brief BKN soal PP 46 Tahun 2015.
Artinya, iuran dikumpulkan ke dalam dana dan diinvestasikan. Tapi besar manfaatnya ditentukan rumus, bukan hasil investasi. Kalau dana kurang, rumus tetap menjanjikan pembayaran.
Programnya juga masih muda. JP mulai 2015, dan di tahun-tahun awal hanya mengumpulkan iuran. Pembayaran pensiun bulanan baru datang belakangan, jadi dana punya "start" yang bagus. Start itu tidak berlaku selamanya.
Bagian ini yang perlu kamu perhatikan. Menurut proyeksi yang dikutip Investortrust, aset dana JP bisa habis di 2075 kalau iuran tetap 3%.
Baca baik-baik. Ini proyeksi yang bergantung pada asumsi soal gaji, imbal hasil, dan umur harapan hidup. Bukan ramalan bahwa pensiunmu hilang. Ini sinyal bahwa hitungannya belum seimbang untuk jangka sangat panjang.
BPJS Ketenagakerjaan menyatakan kondisi dana saat ini sehat. Bisnis.com melaporkan aset kelolaan JP sekitar Rp207,09 triliun per Juni 2025, dengan rasio kecukupan dana dijaga 100%. Kekhawatirannya ada di jangka panjang, bukan tahun ini.
Kalaupun dana aman, ada masalah kedua. Nilai pensiunnya tipis.
Bisnis.com melaporkan manfaat JP menggantikan sekitar 15% sampai 20% penghasilan terakhir. Standar ILO (Organisasi Buruh Internasional) adalah 40%.
Replacement ratio adalah pensiun bulanan sebagai persentase gaji terakhir kamu. Contoh hitungan kami sendiri:
| Gaji terakhir | Rasio 15% | Rasio 20% | 40% (standar ILO) |
|---|---|---|---|
| Rp10.000.000 | Rp1.500.000 | Rp2.000.000 | Rp4.000.000 |
Pekerja bergaji Rp10 juta per bulan dapat sekitar Rp1,5 sampai 2 juta di rasio 15% sampai 20%. Di standar ILO, ia dapat Rp4 juta.
Dua perubahan sedang berjalan.
Pertama, usia pensiun untuk klaim JP naik. Jadi 59 tahun di awal 2025, 60 tahun di 2028, lalu naik satu tahun tiap tiga tahun sampai 65 tahun di 2043, menurut Bisnis.com dan Katadata. Aturannya dari PP 45 Tahun 2015.
Kedua, BPJS Ketenagakerjaan mendorong kenaikan iuran dari 3% ke 8%. Menurut laporan Bisnis.com, langkah ini akan mengangkat manfaat mendekati target 40%. Ini masih usulan. Pengusaha dan pemerintah masih harus sepakat, jadi jangan jadikan pegangan.
Kamu tidak bisa memperbaiki sistemnya. Tapi kamu bisa memutuskan seberapa besar rencana pensiunmu bergantung padanya.
Pensiun 15% sampai 20% dari gaji tidak akan menggantikan penghasilan kelas menengah. Anggap itu fondasi, bukan keseluruhan rencana. Banyak orang menambah tabungan sendiri, DPLK, reksa dana, atau aset lain di atasnya.
Ini informasi umum, bukan saran memilih instrumen tertentu.
Penuaan penduduk juga mengubah ekonomi secara luas. Pekerja per pensiunan yang makin sedikit memengaruhi pertumbuhan, belanja negara, dan pasokan obligasi. Karena itu topik ini layak ada di dashboard yang sama dengan suku bunga dan inflasi.
Demografi bergerak pelan. Suku bunga, inflasi, dan rupiah bergerak cepat, dan merekalah yang menentukan seberapa jauh tabunganmu bertahan. Buka dashboard Macro NetWort untuk melihat BI rate, inflasi, dan tren rupiah di satu tempat, lalu bandingkan dengan angka pensiun yang kamu incar.