Return IHSG dalam Dolar vs Rupiah: Kenapa Angkanya Bisa Beda Jauh
Baca 4 menit
Baca 4 menit
Kalau kamu investor Indonesia yang mengikuti IHSG dalam rupiah, 2026 sudah kelihatan berat: indeks turun sekitar 26,6% sejak akhir 2025. Tapi kalau kamu investor asing yang pegang indeks yang sama, dihitung dalam dolar, angka yang benar-benar kamu alami lebih parah lagi. Mendekati 31%.
Indeks yang sama, dua tanggal yang sama. Selisih lima poin persentase, dan itu sama sekali bukan karena isi sahamnya beda.
IHSG dikutip dalam rupiah. Itu angka yang dilihat investor Indonesia, dan itu juga angka yang selalu muncul di berita. Tapi investor asing tidak peduli IHSG bergerak berapa persen dalam rupiah. Yang mereka pedulikan adalah apa yang terjadi pada uang mereka sendiri, dan uang itu awalnya dolar, ditukar ke rupiah untuk beli saham Indonesia, lalu suatu saat harus ditukar balik ke dolar.
Perjalanan bolak-balik itu menambah satu return lagi di atas pergerakan indeksnya sendiri: apa pun yang terjadi pada rupiah terhadap dolar di antara dua tanggal itu.
Return dalam USD = (1 + Return dalam IDR) × (Kurs IDR/USD awal ÷ Kurs IDR/USD akhir) − 1
Kalau rupiah melemah di saat yang sama indeksnya juga turun, dua efek itu searah, dan kerugian dalam dolar jadi lebih besar dibanding kerugian dalam rupiah. Persis itu yang terjadi tahun ini.
IHSG ditutup di 8.646,94 poin pada akhir 2025 (30 Desember 2025, Antara News), lalu ditutup di 6.351,13 poin pada 5 Agustus 2026 (Kompas.com). Itu penurunan sekitar 26,6% dalam rupiah.
Di periode yang kira-kira sama, rupiah sendiri melemah terhadap dolar: dari Rp 16.788 per dolar AS pada penutupan 29 Desember 2025 (Investor.id, mengutip data Bloomberg), menjadi Rp 17.919 per dolar AS pada 6 Agustus 2026, berdasarkan kurs referensi JISDOR Bank Indonesia. Artinya rupiah kehilangan sekitar 6,7% nilainya terhadap dolar di periode yang sama.
| Investor rupiah | Investor dolar | |
|---|---|---|
| IHSG, akhir Des 2025 | 8.646,94 | 8.646,94 |
| Kurs USD/IDR, tanggal sama | tidak berlaku | Rp 16.788 |
| IHSG, awal Agu 2026 | 6.351,13 | 6.351,13 |
| Kurs USD/IDR, tanggal sama | tidak berlaku | Rp 17.919 |
| Return selama periode | −26,6% | −31,2% |
Tanggal IHSG dan tanggal kurs USD/IDR berbeda satu hari bursa di masing-masing ujung (30 Des vs 29 Des, 5 Agu vs 6 Agu), karena penutupan di tanggal yang persis sama tidak tersedia untuk kedua data itu. Selisihnya kecil dan tidak mengubah kesimpulannya: investor berbasis dolar kehilangan hampir lima poin persentase lebih banyak dibanding yang terlihat dari angka rupiah saja.
Misalnya seorang investor asing menukar $10.000 ke rupiah pada 29 Desember 2025, dengan kurs Rp 16.788 per dolar, jadi punya Rp 167.880.000 untuk dimasukkan ke posisi yang mengikuti IHSG.
Kalau posisi itu bergerak persis seperti indeks, turun 26,6%, nilainya jadi sekitar Rp 123.270.000 pada 6 Agustus 2026. Ditukar balik ke dolar dengan kurs JISDOR hari itu, Rp 17.919, hasilnya sekitar $6.880, rugi sekitar 31,2% dari modal awal $10.000. Return dalam rupiah dan return dalam dolar menggambarkan investasi yang sama persis, tapi angkanya beda, dan bedanya murni dari kursnya.
Ini bukan keanehan sesaat. 2026 memang tahun yang berat buat rupiah, bukan cuma buat saham Indonesia. Defisit neraca pembayaran yang melebar, guncangan harga minyak dari ketegangan Timur Tengah, dan rentetan kenaikan suku bunga Bank Indonesia untuk menahan pelemahan kurs, semuanya menekan USD/IDR ke level terlemah sepanjang sejarah di awal tahun. Korelasi antara kekuatan dolar global dan IHSG jadi sangat erat sepanjang periode ini, justru karena keduanya didorong tekanan domestik yang sama, bukan kebetulan.
Ini penting buat siapa pun yang membandingkan kinerja portofolio Indonesia dengan portofolio asing: kursnya bukan sekadar pembulatan angka di atas return "sebenarnya". Di tahun seperti 2026, kurs justru jadi faktor penggerak yang lebih besar dibanding kebanyakan pilihan saham individu.
Arah efek ini berbalik tergantung uangnya bergerak ke mana. Investor Indonesia yang pegang saham Amerika justru mengalami kebalikannya: rupiah yang melemah membuat return dalam rupiah terlihat lebih besar padahal, dalam dolar, sahamnya nyaris tidak bergerak. Mekanismenya sama, arahnya kebalikan, tergantung kamu mulai dari mata uang mana dan mau dibandingkan dengan mata uang mana.
Kalau kamu punya aset dalam mata uang asing, baik itu eksposur IHSG yang dipegang dari luar negeri, atau saham Amerika yang kamu ukur dalam rupiah, angka return headline saja tidak cukup untuk tahu berapa banyak yang berasal dari pasar dan berapa banyak dari kursnya. Buka tampilan FX Exposure di dashboard NetWort untuk lihat komposisi mata uang portofoliomu sendiri, lalu cek halaman Macro untuk level USD/IDR terkini sebelum membandingkan return lintas mata uang. Return yang kelihatan bagus, atau jelek, dalam satu mata uang bisa bercerita jauh berbeda begitu kursnya dipisahkan dari hitungannya.