IHSG Turun 34,7% dalam Enam Bulan Buat yang Satu, Cuma 20,9% Buat yang Lain. Ini Sebabnya
Baca 4 menit
Baca 4 menit
Bayangin dua orang sama-sama pegang reksa dana atau produk yang ngikutin IHSG selama enam bulan di tahun 2026. Yang pertama mulai hitung dari 30 Desember 2025, terus cek returnnya enam bulan kemudian. Yang kedua baru mulai hitung dua bulan setelah itu, tepatnya 27 Februari 2026, dan cek returnnya enam bulan dari tanggal itu.
Return orang pertama selama enam bulan: -34,7%. Return orang kedua: -20,9%. Sama-sama IHSG, sama-sama enam bulan, tapi selisihnya 14 poin. Kamu mungkin mikir salah satunya salah pilih waktu masuk. Padahal keduanya nggak ngapa-ngapain selain milih tanggal mulai yang beda. Selisih itu persis yang bikin rolling return vs return periode tetap jadi penting kamu ngerti, karena itu ngubah seberapa besar kamu boleh percaya sama satu angka "return 6 bulan terakhir" yang kamu lihat di mana pun.
Ini pergerakan IHSG yang beneran terjadi, diambil dari data penutupan yang dilaporkan Databoks/Katadata, ANTARA News, KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia), Mediaindonesia, IDX Channel, CNN Indonesia, dan Okezone:
| Tanggal | Penutupan IHSG |
|---|---|
| 30 Des 2025 | 8.646,94 |
| 15 Jan 2026 | 9.075,41 |
| 27 Feb 2026 | 8.235,48 |
| 31 Mar 2026 | 7.048,22 |
| 30 Apr 2026 | 6.956,80 |
| 30 Jun 2026 | 5.643,19 |
| 28 Agu 2026 | 6.518,12 |
IHSG sempat naik sekitar 5% di dua minggu pertama 2026, sebelum akhirnya jatuh cukup dalam. Per 30 Juni, IHSG anjlok ke 5.643,19, titik terendahnya sepanjang tahun. Setelah itu pelan-pelan pulih, ditutup di 6.518,12 pada 28 Agustus.
(Nilai akhir − Nilai awal) ÷ Nilai awal
Periode orang pertama (30 Des 2025 sampai 30 Jun 2026) berakhir tepat di titik terendah tahun ini: (5.643,19 − 8.646,94) ÷ 8.646,94 = -34,7%. Periode orang kedua (27 Feb 2026 sampai 28 Agu 2026) baru mulai setelah pasar sudah turun dua bulan, dan berakhir setelah sempat pulih sebagian: (6.518,12 − 8.235,48) ÷ 8.235,48 = -20,9%. Dua-duanya benar. Dua-duanya sama-sama ngukur periode enam bulan. Cuma enam bulannya bukan enam bulan yang sama.
Return periode tetap, yang dipakai di dua contoh di atas, cuma ambil satu tanggal mulai dan satu tanggal akhir, terus dihitung selisihnya. Cara ini gampang dihitung dan paling sering muncul di ringkasan performa mana pun, tapi hasilnya sangat tergantung di mana dua tanggal itu kebetulan jatuh dibanding naik-turunnya pasar. Kalau kamu mulai pas sebelum pasar turun dan berhenti pas di titik terendah, angkanya kelihatan parah banget. Kalau kamu mulai dua bulan lebih lambat dan berhenti setelah sempat pulih, periode yang sama panjangnya bisa kelihatan jauh lebih ringan.
Rolling return memperbaiki masalah ini dengan cara menghitung ulang periode yang sama panjangnya, enam bulan di contoh ini, tapi dimulai dari setiap tanggal yang mungkin dalam rentang waktu yang lebih panjang, bukan cuma satu titik. Jadi kamu nggak cuma dapat satu angka, tapi satu deretan angka: return enam bulan terbaik yang pernah terjadi, yang terburuk, dan semua yang di antaranya. Deretan angka itu ngasih tahu kamu apa yang beneran mungkin dialami seorang investor tergantung timing-nya, bukan cuma satu snapshot yang kamu anggap mewakili semuanya.
Selisih antara -34,7% dan -20,9% bukan kebetulan acak. Penyebabnya ada di posisi tanggal mulai dan tanggal akhir masing-masing periode dibanding momen crash-nya. Periode orang pertama berakhir tepat di 30 Juni, hari IHSG paling rendah sepanjang 2026. Periode orang kedua mulai di 27 Februari, setelah sekitar dua bulan penurunan sudah kejadian duluan, jadi bagian penurunan yang ikut kehitung di periodenya lebih sedikit, dan berakhir di Agustus setelah sebagian pemulihan sudah terjadi. Angka return periode tetap sendirian nggak bisa ngasih tahu kamu soal ini. Dia cuma ngelaporin dua titik yang kamu kasih, entah kebetulan salah satunya jatuh di titik ekstrem atau nggak.
Ini juga alasan kenapa satu angka "performa 6 bulan terakhir" di factsheet reksa dana atau aplikasi broker layak kamu curigai dikit. Bukan berarti angkanya salah, tapi itu cuma satu jalur dari perjalanan yang jauh lebih naik-turun, dan tanggal mulai yang beda di periode yang sama bisa nunjukkin angka yang jauh berbeda.
Solusinya bukan jadi curiga sama semua angka return, tapi lihat lebih dari satu periode sebelum kamu narik kesimpulan. Buka dashboard portofolio kamu, lalu geser sendiri rentang tanggal di grafik histori, jadi kamu bisa lihat return satu aset dari beberapa titik awal yang beda, bukan cuma pasrah sama satu periode tetap yang kebetulan dipakai di ringkasan. Sebelum kamu bereaksi ke satu angka return 6 bulan, 1 tahun, atau year-to-date, coba cek dulu: kalau tanggal mulainya digeser sebulan atau dua bulan, angkanya berubah banyak nggak? Kalau iya, berarti kamu baru lihat satu titik dari rentang hasil yang jauh lebih lebar, bukan gambaran lengkapnya.
Untuk distorsi lain soal cara return dilaporkan, baca juga kenapa mean aritmatika dan mean geometrik bisa kasih hasil berbeda walau dua-duanya dihitung dengan benar, dan kenapa return yang ditampilkan aplikasi broker bisa beda dari XIRR asli portofoliomu. Buat lihat pergerakan IHSG sepanjang 2026 secara utuh, bukan cuma satu periode, kunjungi halaman market.