Saldo Portofolio Naik 96%. Kamu Sebenarnya Rugi 18%. Ini Sebabnya Dua-duanya Benar.
Baca 4 menit
Baca 4 menit
Buka aplikasi portofolio, saldonya lebih besar dari bulan Januari. Rasanya kabar baik. Kadang itu bukan kabar soal investasimu sama sekali. Itu kabar soal transfer bank kamu sendiri.
Setiap rupiah yang kamu setor masuk ke akun yang sama dengan setiap rupiah yang benar-benar dihasilkan investasimu. Kalau tidak ada yang memisahkan keduanya, saldo yang naik dan untung yang naik kelihatannya sama. Padahal beda.
Ada dua pertanyaan berbeda yang bisa dijawab aplikasi portofolio, dan kebanyakan cuma jawab satu:
(Saldo sekarang − Saldo awal) ÷ Saldo awal
Cara ini menganggap setiap setoran muncul begitu saja sebagai untung. Padahal tidak. Munculnya dari gajimu.
(Nilai sekarang − Total setoran) ÷ Total setoran
Ini metode cost-basis: menghitung bersih semua yang kamu setor, di atas modal awal, dan cuma yang tersisa yang dihitung sebagai untung atau rugi. Pertanyaannya lebih ketat, dan di pasar yang sedang turun, jawabannya bisa sangat beda.
Misalnya kamu mulai 2026 dengan Rp 50.000.000 di reksa dana yang mengikuti IHSG, lalu nambah Rp 10.000.000 tiap bulan dari Januari sampai Juli.
| Jumlah | |
|---|---|
| Saldo awal (2 Januari) | Rp 50.000.000 |
| Setoran, 7 bulan × Rp 10.000.000 | Rp 70.000.000 |
| Total setoran | Rp 120.000.000 |
| Saldo awal Agustus | Rp 98.000.000 |
Saldomu naik dari Rp 50.000.000 jadi Rp 98.000.000. Dibaca cara awam, itu +96%. Kelihatannya tahun yang bagus banget.
Sekarang dibaca cara lain. Kamu total setor Rp 120.000.000. Nilainya sekarang Rp 98.000.000. Itu rugi Rp 22.000.000, atau −18,3% dari modal yang disetor. Saldo naik karena kamu terus mengisi lebih cepat daripada pasar mengurasnya, bukan karena investasinya berkinerja bagus.
Dua-duanya benar di saat yang sama. Cuma satu yang menggambarkan apa yang beneran terjadi pada uangmu.
Ini bukan contoh karangan yang dibuat-buat biar dramatis. IHSG tutup 2025 di level 8.646,93, rekor tertinggi ke-24 sepanjang tahun itu. Sampai 4 Agustus 2026, indeksnya turun ke 6.319,12, koreksi year-to-date sekitar 27%. Investor yang tetap dollar-cost-averaging ke reksa dana IHSG sepanjang periode itu akan melihat persis pola di atas: saldo yang terus naik karena setoran baru, menutupi rugi beneran di rupiah yang disetor lebih awal tahun ini.
Dollar-cost averaging ke pasar yang sedang turun bukan kesalahan dengan sendirinya, justru beli lebih banyak unit di harga lebih murah itu intinya strategi ini. Kesalahannya adalah membaca saldo yang naik sebagai bukti strateginya sudah berhasil, padahal pasarnya belum berbalik arah.
Ini persis pemisahan yang dijalankan halaman Gain Insights NetWort atas riwayat transaksimu yang asli, bukan latihan spreadsheet. Kartu utamanya menampilkan tiga angka berdampingan: Modal diinvestasikan (semua yang kamu setor, sesuai harga beli), Keuntungan (nilai sekarang dikurangi modal yang disetor itu), dan Nilai sekarang (saldo yang beneran kamu lihat). Angka keuntungan itu tidak pernah dihitung dengan cara saldo-naik yang awam. Dihitung dengan cara cost-basis, matematika yang sama seperti contoh di atas, diterapkan otomatis ke setiap setoran sesuai tanggal setornya.
Kalau kamu sedang dollar-cost-averaging melewati periode yang berat, itu angka yang layak dicek dulu sebelum menyimpulkan apa-apa soal jalannya tahun ini.
Ini pembeda yang sama dengan kenapa XIRR beda dari return sederhana: angka yang memperhitungkan kapan dan berapa banyak kamu setor lebih akurat daripada angka yang cuma lihat dua titik akhir. Ini juga nyambung dengan kenapa floating profit belum jadi uang beneran: selisih positif di atas kertas masih harus lolos ujian saat dijual dulu baru jadi milikmu, dan selisih negatif, seperti contoh di atas, tetap rugi beneran walau kamu belum "merealisasikannya" dengan menjual.