Tanaman Hias Booming: Selembar Daun Pernah Laku Jutaan Rupiah, Lalu Harganya Ambruk. Ini Polanya
Baca 4 menit
Baca 4 menit
Sekitar tahun 2007, anthurium gelombang cinta seukuran ibu jari saja bisa dihargai Rp350 ribu (Liputan6). Menurut Liputan6, ada pecinta yang rela jual mobil demi beli tanaman ini. Lalu harganya jatuh.
Kisah tanaman hias booming kayak gini sudah berulang. Satu tanaman jadi simbol gengsi, harga naik, lalu pasokan mengejar. Di artikel ini kita lihat apa kata laporan soal booming tanaman hias di Indonesia, dan apa artinya buat kamu yang punya barang yang dibeli saat lagi ramai.
Tanaman hias booming itu masa singkat ketika satu jenis tanaman dijual jauh di atas biaya menanamnya. Orang beli karena harganya naik, bukan karena butuh tanamannya.
Kelihatannya seperti investasi karena dua hal. Harga naik cepat, dan penjual bicara soal "untung". Padahal tanaman tidak kasih bunga atau dividen. Dan tanaman itu bisa tumbuh dan beranak. Di situ masalahnya.
Gelombang cinta adalah jenis anthurium, tanaman dengan daun besar yang bergurat. Liputan6 menulis tanaman ini populer sekitar 2006 sampai 2008, dan puncaknya di 2007.
Fimela menambahkan, tanaman ini dijual per helai daun, bukan per pot. Daun kecil bisa ratusan ribu rupiah, daun besar bisa jutaan.
Lalu demamnya reda. Fimela menulis ini terjadi tanpa alasan yang jelas. Soal seberapa jauh harga jatuh, ada satu angka dari laporan detik lama: anthurium jemani (kerabat dekat gelombang cinta) umur tiga minggu yang saat booming bisa Rp1 juta, sekarang cuma Rp10 ribu (laporan ini hanya terlihat lewat ringkasan pencarian, jadi artikel dan tanggal pastinya belum terkonfirmasi).
Hitungannya turun sekitar 99%, dari 10.000 dibanding 1.000.000. Anggap ini kutipan satu pedagang, bukan indeks pasar. Kami tidak menemukan indeks harga gelombang cinta di sumber yang bisa dijangkau.
Polanya muncul lagi saat pandemi 2020, ketika banyak orang di rumah dan mulai hobi tanaman.
Bintangnya janda bolong, monstera yang daunnya berlubang. Laporan 2020 menyebut harga penawaran puluhan juta rupiah, bahkan "ratusan juta" untuk tanaman tertentu. Kompas TV pada 28 September 2020 mengutip Syariful Mubarok, dosen Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Menurutnya tanaman ini tidak sulit dibudidayakan, dan harga tinggi itu "sebatas permainan dagang".
Ia juga mengingatkan soal anthurium beberapa tahun sebelumnya. Guru Besar UGM, Purnomo, menilai harga tinggi itu dipicu tren dan dimanfaatkan penjual untuk ambil untung.
Tanaman yang lebih murah ikut naik. Seorang pedagang di Malang bilang ke Kumparan (2020), aglaonema yang sebelum pandemi Rp35 ribu sampai Rp50 ribu bisa naik sekitar tiga kali lipat. Aglaonema adalah tanaman berdaun corak merah atau pink.
Kami jujur di sini. Kami tidak menemukan data harga bertanggal yang menunjukkan seberapa jauh janda bolong, monstera, atau aglaonema turun setelah 2020. Rencana awal artikel ini mengira ada kejatuhan yang jelas. Sumbernya tidak menunjukkan itu.
Yang ada adalah arahnya. Artikel IDXChannel, tanpa tanggal jelas dan tanpa angka, bilang janda bolong gampang diperbanyak sehingga memenuhi toko tanaman hias dan harganya terus turun.
Data luar negeri searah. Liputan Australia tahun 2019 menyebut Monstera "Thai Constellation" 25 cm sekitar A$300. Ahli hortikultura Graham Ross kemudian bilang di Better Homes and Gardens harganya sudah sekitar A$100, dan satu daftar Bunnings menampilkan A$99 (Better Homes and Gardens; tanggal kedua kutipan itu tidak tertera). Laporan Jerman menemukan tanaman yang sama seharga EUR 14,99 di supermarket Kaufland (echo24).
Semua ini kami lihat lewat ringkasan pencarian, bukan halaman penuh. Cek dulu sebelum kamu pakai.
Tanaman beranak. Ini contoh dengan angka rekaan untuk menunjukkan mekanismenya.
| Tahun | Jumlah penanam | Stek per penanam | Tanaman di pasar |
|---|---|---|---|
| 1 | 10 | 5 | 50 |
| 2 | 100 | 5 | 500 |
| 3 | 1.000 | 5 | 5.000 |
Kalau permintaan tetap, tanaman yang 100 kali lebih banyak harus berbagi pembeli yang sama. Harga pasti turun. Angka ini bukan data asli. Tujuannya cuma menunjukkan kenapa tanaman rapuh sebagai penyimpan nilai begitu banyak orang bisa menanamnya.
Tanda yang sama muncul di sumber di atas, dan di artikel kami soal boom dan anjloknya harga batu akik:
Artikel kami soal barang koleksi dan risiko likuiditas menjelaskan kenapa harga yang kamu lihat dan harga yang benar-benar kamu dapat sering jauh beda.
Kalau kamu pernah beli tanaman, batu, atau barang koleksi lain, catat sebesar nilai yang bisa kamu dapat kalau dijual hari ini, bukan harga yang dibilang penjual. Buka Dashboard NetWort dan pastikan total kekayaan bersihmu tidak bertumpu pada angka dari masa heboh.