Treynor Ratio Bagi Returnmu dengan Beta, Bukan Volatilitas. Portofolio Pemenangnya Bisa Beda
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Kamu lagi bandingin dua portofolio. Portofolio A naik-turunnya lebih liar daripada Portofolio B, jadi Sharpe ratio-nya keliatan lebih jelek. Udah jelas B yang menang, kan?
Tunggu dulu. Bisa aja sebagian besar dari liarnya Portofolio A itu nggak ada hubungannya sama pasar sama sekali, cuma noise dari beberapa saham spesifik yang dia pegang. Begitu noise itu disisihkan, dan yang dilihat cuma seberapa besar tiap portofolio bergerak bareng pasar, Portofolio A bisa aja malah unggul. Treynor ratio adalah angka yang memang dibikin buat bandingin persis itu, dan hasilnya nggak selalu sama dengan Sharpe ratio soal siapa yang beneran menang.
Treynor ratio membagi excess return sebuah portofolio, yaitu selisih return di atas risk-free rate, dengan beta portofolio itu.
(Return portofolio − Risk-free rate) ÷ Beta
Ada dua istilah yang perlu dijelasin dulu:
Risk-free rate adalah return yang bisa kamu dapat dengan risiko yang nyaris nol, biasanya didekati pakai instrumen pemerintah jangka pendek, atau di Indonesia, instrumen yang terkait sama suku bunga acuan Bank Indonesia. Angka ini jadi patokan dasar buat semua "excess return" diukur.
Beta ngukur seberapa besar sebuah portofolio biasanya bergerak kalau pasar secara keseluruhan bergerak, dihitung dengan membandingkan returnnya sama benchmark index dari waktu ke waktu. Beta 1,0 artinya portofolio itu, secara historis, bergerak sejalan dengan benchmark-nya. Beta 0,6 artinya dia bergerak sekitar 60% dari pergerakan benchmark-nya. Beta 1,5 artinya dia bergerak sekitar 50% lebih besar.
Treynor ratio diperkenalkan ekonom Jack L. Treynor lewat paper-nya tahun 1965, "How to Rate Management of Investment Funds," yang diterbitkan di Harvard Business Review. Treynor juga ikut mengembangkan Capital Asset Pricing Model (CAPM), model yang jadi asal-usul konsep beta itu sendiri, jadi dua ide ini memang satu keluarga.
Sharpe ratio membagi excess return dengan standar deviasi, yaitu ukuran seberapa tersebar total return sebuah portofolio. Angka itu mencakup semua sumber goyangan yang dimiliki portofolio, apa pun penyebabnya.
Beta cuma menghitung satu bagian dari goyangan itu: bagian yang bergerak bareng pasar. Modern portfolio theory membagi total risiko sebuah portofolio jadi dua bagian.
Risiko sistematis adalah bagian yang terkait pasar secara luas, misalnya pergerakan suku bunga, resesi, atau selloff yang menghantam seluruh pasar. Risiko ini nggak bisa didiversifikasi karena dampaknya kena ke hampir semua hal sekaligus. Beta secara khusus ngukur seberapa besar eksposur ke bagian ini.
Risiko tidak sistematis, atau disebut juga risiko yang bisa didiversifikasi, adalah bagian yang spesifik ke masing-masing saham, misalnya laba sebuah perusahaan meleset dari target, pabrik kebakaran, atau produk ditarik dari pasar. Portofolio yang benar-benar terdiversifikasi menyebar risiko jenis ini ke banyak saham sekaligus, jadi secara teori ini bukan bagian yang seharusnya "dibayar" ke investor cuma karena dia menanggungnya.
Sebuah portofolio bisa punya volatilitas total yang tinggi tapi beta-nya rendah, kalau sebagian besar volatilitas itu datang dari noise spesifik saham, bukan dari goyangan pasar secara luas. Nah, celah itu yang memang dibikin buat kelihatan sama Treynor ratio, tapi nggak kelihatan sama Sharpe ratio.
Ini dua portofolio hipotetis, cuma buat ngasih gambaran cara kerjanya, sama-sama dapat excess return 8% di atas risk-free rate dalam setahun.
Portofolio A pegang kumpulan saham kecil yang lebih terkonsentrasi dan spesifik. Volatilitas totalnya (standar deviasi) 20%, tapi karena saham-saham itu nggak selalu bergerak bareng pasar secara luas, beta-nya cuma 0,6.
Portofolio B pegang kumpulan saham besar yang gerakannya ngikutin index. Volatilitas totalnya lebih adem, 12%, tapi karena saham-saham itu bergerak dekat dengan index, beta-nya penuh di 1,0.
| Portofolio A | Portofolio B | |
|---|---|---|
| Excess return | 8% | 8% |
| Volatilitas total (standar deviasi) | 20% | 12% |
| Beta | 0,6 | 1,0 |
| Sharpe ratio (excess return ÷ volatilitas) | 0,40 | 0,67 |
| Treynor ratio (excess return ÷ beta) | 13,3% | 8,0% |
Kalau dilihat dari Sharpe ratio, Portofolio B jelas menang, sakitnya lebih sedikit buat return yang sama. Kalau dilihat dari Treynor ratio, Portofolio A yang jelas menang, return lebih besar buat tiap unit risiko pasar yang diambil. Dua-duanya nggak ada yang salah. Cuma nanya pertanyaan yang beda.
Treynor ratio paling berguna kalau kamu lagi lihat satu bagian dari portofolio yang lebih besar dan udah terdiversifikasi, bukan satu saham yang dipegang berdiri sendiri. Logika di balik CAPM, yang jadi dasar Treynor ratio, menganggap risiko tidak sistematis udah didiversifikasi di tempat lain dalam total portofolio investor, jadi cuma bagian yang terkait pasar yang seharusnya "dibayar".
Kalau sebuah portofolio ternyata nggak beneran terdiversifikasi, masih ada beberapa posisi terkonsentrasi dengan risiko spesifik saham yang beneran nempel, Treynor ratio bisa keliatan lebih bagus dari kenyataannya karena dia ngabaikan risiko yang sebenarnya belum didiversifikasi. Itu kelemahan paling tajam dari rasio ini: dia menganggap satu syarat (diversifikasi yang beneran) udah terpenuhi, padahal itu harus dicek sendiri, bukan diasumsikan.
Treynor ratio juga sangat tergantung sama benchmark mana yang dipakai buat menghitung beta-nya. Satu saham atau portofolio bisa punya beta yang jauh beda kalau dibandingin ke IHSG dibanding kalau dibandingin ke S&P 500, jadi Treynor ratio yang dihitung pakai benchmark yang salah buat eksposur portofolio itu justru bisa menyesatkan, bukan memperjelas.
Kamu butuh tiga angka: return portofoliomu selama satu periode, risk-free rate buat periode yang sama, dan beta portofoliomu terhadap benchmark yang relevan.
NetWort menghitung beta tiap saham dari riwayat harga asli terhadap benchmark yang terdeteksi otomatis, bukan dari asumsi. Kamu bisa lihat beta sebuah saham di halaman aset-nya sendiri, contohnya BBCA, Bank Central Asia, salah satu saham dengan bobot terbesar di IHSG. Saham atau portofolio dengan beta di bawah 1,0 secara historis bergerak lebih pelan dari benchmark-nya; di atas 1,0, lebih kencang.
Beta-mu ada sejajar sama Sharpe ratio, volatilitas, dan drawdown di bagian Portfolio Health pada dashboard-mu. Ambil angka beta dan return-mu sendiri, kurangi dengan risk-free rate pilihanmu, terus bagi dua angkanya sendiri buat lihat posisi portofoliomu. Buat lihat BI Rate terkini dan gambaran suku bunga yang bisa dipakai sebagai acuan risk-free rate, cek halaman konteks makro.