Value Averaging Menang di Atas Kertas Dibanding DCA. Ini Kenapa Hampir Nggak Ada yang Beneran Pakai
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Kamu mungkin udah kenal dollar-cost averaging (DCA): setor jumlah yang sama tiap bulan, nggak peduli harga lagi naik atau turun. Ada satu strategi "saudara" DCA yang menang berkali-kali di berbagai riset selama puluhan tahun terakhir. Namanya value averaging, dan hampir nggak ada yang pakai, bahkan aplikasi robo-advisor yang udah mengotomatisasi hampir semua hal soal investasi pun nggak menyediakannya. Ini penjelasan apa itu value averaging, bedanya dengan DCA, angka aslinya, dan alasan kenapa strategi ini nggak pernah benar-benar populer.
Dollar-cost averaging mengunci jumlah setoran kamu: sama besar tiap periode, apa pun yang terjadi di pasar.
Value averaging justru mengunci target nilai portofolio kamu. Kamu tentukan mau portofoliomu bernilai berapa di akhir tiap periode, lalu kamu setor sebesar yang dibutuhkan supaya nilainya persis kena target itu:
Setoran bulan ini = target nilai − nilai aktual saat ini
Perbedaan kecil ini efeknya besar. Kalau bulan lalu pasar turun, nilai aktual portofoliomu di bawah target, jadi kamu setor lebih banyak dari biasanya. Kalau pasar lagi naik kencang, nilai aktualmu bisa saja sudah melewati target, jadi kamu setor lebih sedikit, atau malah jual sebagian. Value averaging otomatis membuatmu beli lebih banyak saat harga turun dan beli lebih sedikit (atau jual) saat harga naik, tanpa kamu perlu menebak arah pasar sama sekali.
Begini gambarannya selama lima bulan, pakai target yang naik jumlah tetap tiap bulan dan urutan return bulanan yang dibuat-buat, cuma untuk menunjukkan cara kerjanya, bukan hasil pasar sungguhan:
| Bulan | Target nilai | Return bulan itu | Nilai sebelum setoran | Setoran |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Rp3.000.000 | n/a | Rp0 | +Rp3.000.000 |
| 2 | Rp6.000.000 | +5% | Rp3.150.000 | +Rp2.850.000 |
| 3 | Rp9.000.000 | −12% | Rp5.280.000 | +Rp3.720.000 |
| 4 | Rp12.000.000 | +20% | Rp10.800.000 | +Rp1.200.000 |
| 5 | Rp15.000.000 | +35% | Rp16.200.000 | −Rp1.200.000 (jual) |
Perhatikan bulan 3 dan bulan 5. Setelah pasar turun di bulan 3, value averaging otomatis meminta setoran lebih besar dari biasanya, Rp3.720.000, bukan Rp3.000.000 seperti kalau kamu pakai DCA biasa. Setelah pasar naik tajam di bulan 5, malah diminta menarik uang Rp1.200.000 keluar, sesuatu yang nggak pernah diminta DCA. Itulah inti mekanismenya: aturan bawaan "beli lebih banyak pas murah, kurangi pas mahal", tanpa kamu perlu memutuskan sendiri kapan waktu yang tepat.
Ini bukan cuma teori di atas kertas. Michael Edleson, yang saat itu menjabat kepala ekonom NASDAQ sekaligus profesor keuangan di Harvard Business School, pertama kali mempublikasikan metode value averaging di AAII Journal pada Agustus 1988, lalu dikembangkan lagi jadi buku tahun 1993 berjudul Value Averaging: The Safe and Easy Strategy for Higher Investment Returns.
Tes independen yang lebih belakangan dari AAII sendiri bikin perbandingannya jadi konkret. Dalam analisis Computerized Investing oleh John Markese dan John Bajkowski, pertama kali dipublikasikan di edisi Juli/Agustus 2001 AAII dan sampai sekarang masih ada di situs AAII, value averaging diuji lawan dollar-cost averaging memakai Invesco QQQ Trust, ETF yang mengikuti indeks Nasdaq-100. Hasilnya, value averaging menghasilkan biaya rata-rata per lembar saham lebih rendah, $38,71 dibanding $41,40 untuk DCA, dan return yang lebih tinggi: internal rate of return (IRR) 36,1% berbanding 33,6% untuk DCA di periode yang sama.
Ini temuan yang menjelaskan kenapa para peneliti profesional berhenti merekomendasikan value averaging, walaupun awalnya kelihatan menang.
Tahun 2013, Simon Hayley dari Bayes Business School (dulu bernama Cass Business School) di City University London menerbitkan riset berjudul Value Averaging and How Dynamic Strategies Bias the IRR and Modified IRR. Temuannya: keunggulan IRR value averaging dibanding DCA sebagian besar adalah artefak statistik dari cara IRR dihitung, bukan benar-benar kekayaan ekstra yang masuk ke rekeningmu.
Alasannya agak teknis tapi penting. IRR memberi bobot lebih besar ke arus kas yang lebih awal dibanding yang belakangan. Value averaging secara sistematis setor lebih sedikit tepat setelah periode return bagus dan lebih banyak tepat setelah periode return jelek, yang secara mekanis menggeser porsi uangmu ke periode yang memang sudah untung dan mengurangi porsi ke periode yang rugi, murni karena rumus perhitungannya. Pergeseran ini menaikkan angka IRR yang terukur tanpa selalu benar-benar menambah saldo akhir portofoliomu. Kesimpulan Hayley: value averaging punya "inefisiensi dinamis yang signifikan", artinya keunggulan yang kelihatan di riset-riset lama bisa mengecil atau hilang begitu yang diukur adalah kekayaan aktual yang tercipta, bukan cuma angka IRR-nya saja.
Di luar perdebatan soal cara mengukur returnnya, value averaging punya tiga masalah praktis yang nggak dimiliki DCA:
Ini bukan berarti value averaging itu jebakan. Kalau kamu punya disiplin untuk melacak target nilai portofolio dan menambah (atau mengurangi) setoran secara manual tiap bulan, mekanismenya memang benar-benar mengarahkan pembelianmu ke harga yang lebih murah. Tapi buat kebanyakan orang, trade-off jujurnya adalah: keunggulan yang kecil, nggak pasti, dan masih diperdebatkan, dilawan dengan tugas rutin yang nyata dan risiko setoran besar yang datang di waktu paling nggak enak.
Apa pun cara yang kamu pakai, DCA bulanan tetap, sesekali sekaligus, atau value averaging yang kamu jalankan manual, yang paling penting adalah tahu return aslimu yang sebenarnya setelahnya, bukan strategi mana yang kamu kira bakal menang dari awal. Cek angka IRR di dashboard NetWort kamu: angka ini dihitung dari jumlah dan waktu persis tiap setoran yang benar-benar kamu lakukan, jadi mencerminkan apa yang sungguh terjadi pada uangmu, bukan perbandingan teoretis antar strategi.