Investasi Sekaligus vs Bertahap: Mana yang Lebih Untung? Ini Kata Data 20 Tahun
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Bayangkan kamu baru saja dapat Rp 100 juta, entah dari bonus, warisan, atau hasil jual sesuatu. Langsung kamu masukkan semua ke pasar hari ini, atau kamu cicil sedikit demi sedikit selama beberapa bulan ke depan? Ini pertanyaan investasi sekaligus vs bertahap, dan kebanyakan orang jawabnya cuma pakai perasaan, bukan lihat data apa yang sebenarnya terjadi kalau dua cara ini diadu langsung.
Investasi sekaligus (lump sum) artinya kamu masukkan seluruh dana di hari pertama. Investasi bertahap (dollar-cost averaging, sering disingkat DCA) artinya kamu bagi dana itu jadi beberapa bagian sama besar, lalu dimasukkan sedikit-sedikit sesuai jadwal tetap, tanpa peduli harga sedang naik atau turun. Ada satu tes nyata, berjalan 20 tahun penuh, yang menunjukkan mana yang benar-benar menang, dan seberapa besar bedanya.
Charles Schwab Center for Financial Research pernah menjalankan eksperimen yang jawabannya jauh lebih meyakinkan daripada sekadar teori. Mereka memberi lima investor hipotetis jumlah yang sama persis, $2.000, di awal setiap tahun dari 2005 sampai 2024, periode nyata 20 tahun penuh mengikuti pergerakan asli indeks S&P 500 di Amerika Serikat. Satu-satunya yang beda di antara mereka cuma kapan uang itu benar-benar dimasukkan ke pasar.
| Investor | Yang dilakukan | Saldo akhir setelah 20 tahun |
|---|---|---|
| Peter Perfect | Entah bagaimana selalu beli di harga terendah tahun itu | $186.077 |
| Ashley Action | Sekaligus: langsung masukkan seluruh $2.000 di hari pertama tiap tahun | $170.555 |
| Matthew Monthly | Bertahap (DCA): bagi $2.000 jadi 12 kali beli bulanan sama besar | $166.591 |
| Rosie Rotten | Entah bagaimana selalu beli di harga tertinggi tahun itu | $151.343 |
| Larry Linger | Tidak pernah investasi sama sekali. Uangnya didiamkan di T-bills tiap tahun | $47.357 |
Semua investor ini menyetor total yang sama persis, $40.000 selama 20 tahun (sekitar Rp 719 juta dengan kurs hari ini, Rp 17.972 per dolar AS, Bloomberg, 5 Agustus 2026). Yang beda cuma waktu masuknya. (Sumber: Charles Schwab Center for Financial Research, "Does Market Timing Work?", data sampai 2024.)
Lihat Ashley Action dibanding Matthew Monthly. Ashley, yang langsung masukkan seluruh $2.000 begitu dapat uangnya tiap tahun, akhirnya punya $170.555. Matthew, yang mencicil jumlah sama selama 12 bulan, akhirnya punya $166.591. Selisihnya sekitar $3.964, atau kira-kira 2,4% lebih besar untuk yang langsung masuk semua.
Ini bukan kebetulan sekali kejadian. Schwab menguji susunan yang sama di 80 periode 20 tahun berbeda yang bergulir sejak puluhan tahun lalu, dan di 70 dari 80 periode itu, urutannya selalu sama persis: investasi sekaligus di atas investasi bertahap, dan investasi bertahap di atas diam saja pegang uang tunai.
Vanguard sampai pada kesimpulan serupa lewat riset yang sama sekali terpisah. Menguji 1.021 periode 12 bulan bergulir di pasar Amerika Serikat, Inggris, dan Australia dari 1926 sampai 2015, Vanguard menemukan investasi sekaligus menang sekitar dua pertiga dari semua periode, dengan angka pastinya bervariasi per pasar, dari sekitar 62% sampai 74%. Untuk portofolio seimbang 60% saham dan 40% obligasi, keunggulan rata-rata investasi sekaligus dibanding DCA 12 bulan sekitar 2,3 poin persentase, mirip besarnya dengan yang ditemukan tes 20 tahun Schwab di atas. Kalau periode DCA-nya diperpanjang jadi 36 bulan, Vanguard menemukan tingkat menang investasi sekaligus naik jadi sekitar 90%.
Waktu di pasar yang terus compounding lebih besar dari waktu yang habis untuk menunggu
Alasannya sederhana kalau sudah dilihat datanya: pasar lebih sering naik daripada turun dalam periode setahun mana pun. Setiap bulan kamu menahan uang di kas sambil menunggu waktu yang "lebih pas" untuk masuk, itu satu bulan uangmu sama sekali tidak ikut compounding (bertumbuh berlipat dari hasil sebelumnya). Investasi bertahap sebenarnya adalah taruhan bahwa harga akan turun cukup dalam selama masa tunggumu, sampai bisa menutup waktu compounding yang hilang itu. Dari data historis di atas, taruhan itu lebih sering kalah daripada menang.
Ini angka yang lebih layak kamu ingat dibanding semua angka di atas. Lihat lagi Larry Linger, yang tidak pernah investasi sepeser pun dan cuma diam pegang uang tunai. Setelah 20 tahun yang sama, dia cuma punya $47.357.
Bandingkan dengan Matthew Monthly, yang pakai investasi bertahap, strategi yang lebih "hati-hati" di antara dua strategi nyata di atas: $166.591. Selisihnya lebih dari $119.000, lebih dari tiga setengah kali lipat milik Larry.
Bahkan Rosie Rotten, yang entah bagaimana selalu beli di hari terburuk setiap tahun selama 20 tahun berturut-turut, benar-benar nasib apes, tetap akhirnya punya $151.343, lebih dari tiga kali lipat tumpukan uang tunai Larry.
Ini bukan berarti investasi bertahap itu salah. Ada dua situasi umum di mana cara ini justru paling masuk akal buat kamu:
Angka-angka di atas tidak menjamin apa yang akan terjadi pada uangmu sendiri di 20 tahun ke depan. Setiap periode 20 tahun bisa berbeda, dan risiko nasib buruk tepat setelah kamu masukkan dana sekaligus itu nyata, meski peluangnya memang lebih sering berpihak pada cara ini. Kelima investor hipotetis di atas semuanya mengikuti indeks S&P 500, indeks Amerika Serikat yang sama yang jadi acuan reksa dana atau ETF seperti SPDR S&P 500 ETF Trust, yang kini juga bisa diakses investor Indonesia.
Kalau kamu sedang menimbang cara memasukkan dana besar ke pasar, cek dulu tampilan Portfolio Health di dashboard NetWort kamu. Lihat bagaimana komposisi portofoliomu saat ini akan bertahan menghadapi guncangan harga sebesar itu, lalu putuskan apakah kamu sanggup bertahan menghadapinya sebelum memasukkan semua dana sekaligus.
Ini berkaitan dengan pelajaran lain yang perlu kamu tahu sebelum memasukkan dana besar: rata-rata return tahunan portofolio dan hasil compounding sebenarnya bisa bercerita sangat berbeda, apalagi kalau perjalanannya penuh gejolak.