Kekayaan Sukanto Tanoto: Rp435 Triliun Versi Bloomberg, Cuma $4 Miliar Versi Forbes
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Pada 30 Juni 2026, Bloomberg Billionaires Index mencatat kekayaan Sukanto Tanoto mencapai US$24,3 miliar, sekitar Rp435,02 triliun, angka yang membuatnya jadi orang terkaya di Indonesia dan peringkat 106 dunia. Empat hari kemudian, pada 4 Juli 2026, tracker real-time Forbes cuma mencatat kekayaannya US$4,0 miliar, peringkat 10 di Indonesia dan 1.070 dunia.
Orang yang sama, minggu yang sama. Satu tracker bilang dia hampir masuk 100 orang terkaya dunia. Tracker lain bilang dia bahkan belum masuk 1.000 besar. Ini bukan selisih pembulatan antar penyedia data. Ini beda enam kali lipat, yang paling lebar yang pernah ditemukan seri ini, dan media IDN Financials juga menyoroti selisih yang sama, menyebut angka Forbes US$3,7 miliar berbanding US$24,3 miliar versi Bloomberg.
Hampir semuanya bukan di perusahaan yang harga sahamnya bisa kamu cek langsung.
Tanoto mendirikan Royal Golden Eagle (RGE) pada 1973, konglomerat keluarga berbasis Singapura yang sekarang juga dijalankan bersama putranya, Anderson Tanoto. RGE membawahi bisnis pulp dan kertas (APRIL, Asia Symbol, dan produsen tisu Vinda), sawit dan oleokimia (Asian Agri dan Apical), selulosa khusus (Bracell), serat viscose (Sateri dan Asia Pacific Rayon), serta energi terintegrasi (Pacific Energy), dengan operasi di Indonesia, China, Brasil, Kanada, Spanyol, dan Malaysia.
RGE sendiri menyatakan aset gabungan bisnisnya lebih dari US$40 miliar per Juli 2026. Itu angka soal neraca perusahaan, bukan kekayaan pribadi Tanoto, dan dua angka ini tidak boleh disamakan begitu saja. Alasannya kamu baca di bagian bawah.
Menurut Bloomberg, kekayaan Tanoto naik sekitar US$2,6 miliar, atau 12%, sepanjang 2026 sampai 30 Juni, cukup untuk menyalip Prajogo Pangestu, yang kekayaannya versi Bloomberg justru turun jadi US$16,5 miliar, peringkat 176 dunia, di periode yang sama seiring anjloknya saham-saham petrokimia miliknya.
Mekanismenya kebalikan dari kejatuhan Prajogo. Eksposur RGE ada di sawit, pulp, dan energi, dan 2026 jadi tahun yang kuat buat komoditas-komoditas itu: harga minyak mentah menembus US$110 per barel gara-gara ketegangan geopolitik di Timur Tengah, dan harga sawit ikut naik seiring permintaan biodiesel yang menarik pasokan bahan baku yang sama. Konglomerat dengan perkebunan dan operasi energi di rantai itu diuntungkan kalau keduanya naik bersamaan.
| Penerbit | Tanggal | Kekayaan | Peringkat |
|---|---|---|---|
| Bloomberg Billionaires Index | 30 Juni 2026 | US$24,3 miliar (~Rp435 triliun) | #1 Indonesia, #106 dunia |
| Forbes Real-Time Billionaires | 4 Juli 2026 | US$4,0 miliar | #10 Indonesia, #1.070 dunia |
| Forbes (dikutip IDN Financials) | 2026 | US$3,7 miliar | angka pembanding |
Paling tidak bisa diketahui dibanding siapa pun yang pernah dibahas seri ini, dan alasannya soal struktur, bukan sekadar beda pendapat.
Kekayaan Low Tuck Kwong sebagian besar ada di Bayan Resources, perusahaan tercatat dengan harga saham harian. Kekayaan Prajogo Pangestu sebagian besar ada di saham-saham grup Barito yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Keduanya tetap estimasi, tapi keduanya berangkat dari angka yang ditentukan pasar setiap hari bursa.
RGE tidak punya induk perusahaan yang tercatat di bursa mana pun, dan hampir semua unit usahanya dipegang secara privat. Tracker yang mau memperkirakan kepemilikan Tanoto harus menaksir nilai konglomerat industri global dari utang yang diungkapkan, kelipatan valuasi perusahaan publik sejenis, dan asumsi soal struktur kepemilikan keluarga, dengan penilaian subjektif di tiap langkahnya. Ini soal estimasi yang jauh lebih sulit dibanding menaksir saham publik, dan selisih enam kali lipat antara Bloomberg dan Forbes adalah hasilnya.
Angka aset gabungan RGE senilai US$40 miliar juga gampang tertukar dengan kekayaan pribadi Tanoto, dan sebagian pemberitaan soal kekayaannya memang melakukan itu. Aset gabungan mencakup pabrik dan peralatan yang dibiayai utang di banyak perusahaan dan banyak pemegang saham keluarga. Kekayaan pribadi adalah nilai kepemilikan satu orang, setelah dikurangi utang itu. Dua-duanya menjawab pertanyaan berbeda, dan mencampuradukkan keduanya adalah salah satu cara termudah bagi angka kekayaan siapa pun di seri ini jadi berlebihan.
Buat ujung spektrum yang berlawanan, di mana angka kekayaan bukan estimasi sama sekali tapi laporan resmi berkekuatan hukum, lihat LHKPN Raffi Ahmad, yang dilaporkan sendiri dengan tanggal dan angka yang spesifik.
Tiga hal, dan tidak satu pun butuh pendapat soal sawit.
Selisih antar tracker bukan soal persentase, tapi soal struktur kepemilikan. Kekayaan yang tercatat di bursa beda antar sumber sampai puluhan persen. Kekayaan yang seluruhnya privat, seperti milik Tanoto, bisa beda berkali-kali lipat. Sebelum percaya satu angka, layak kamu tanya dulu apakah kekayaan itu memang punya harga pasar harian.
Aset perusahaan dan kekayaan pribadi adalah dua angka berbeda, dan judul berita sering mencampurnya. Kalau baca kekayaan pendiri konglomerat, cek dulu apakah angkanya soal bisnisnya atau soal kepemilikan pribadinya di bisnis itu.
Portofoliomu sendiri tidak punya masalah ini, dan itu layak kamu syukuri. Kalau kamu punya saham atau kripto yang tercatat, posisimu dihargai bursa setiap hari, bukan ditaksir tracker yang menebak-nebak valuasi privat. NetWort menjaga harga itu tetap update di seluruh portofoliomu, dan halaman market menunjukkan pergerakan komoditas dan saham di balik cerita seperti ini.