Kekayaan Djoko Susanto: Pemilik Alfamart yang Untungnya Naik, tapi Kekayaannya Menurut Forbes Malah Anjlok Separuh
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Setiap kali kamu mampir ke Alfamart buat isi ulang pulsa atau beli air mineral, kamu sedang bertransaksi dengan gerai milik satu keluarga, bukan perusahaan asing atau BUMN. Pemiliknya, Djoko Susanto, jarang tampil di media dibanding konglomerat lain di seri ini. Tapi angka kekayaan Djoko Susanto justru salah satu yang paling liar tahun ini: menurut Forbes, kekayaannya nyaris terpangkas separuh dalam lima bulan, padahal laba bersih Alfamart sendiri masih tumbuh.
Per Forbes Real-Time Billionaires yang dilaporkan Senin, 18 Mei 2026, kekayaan Djoko Susanto tercatat US$2,1 miliar, menempatkannya di posisi #30 orang terkaya Indonesia. Lima bulan sebelumnya, daftar tahunan Forbes "Indonesia's 50 Richest 2025" (dirilis 10 Desember 2025) mencatatnya di US$4,2 miliar, peringkat #10 nasional. Sementara itu, profil Bloomberg Billionaires Index Indonesia untuknya, diakses 17 Agustus 2026, menunjukkan Rp68,18 triliun, sekitar US$4,3 miliar, juga peringkat #10.
| Sumber | Tanggal | Angka | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Forbes, "Indonesia's 50 Richest 2025" | 10 Desember 2025 | US$4,2 miliar | #10 nasional, naik 12 peringkat |
| Forbes Real-Time Billionaires | dilaporkan 18 Mei 2026 | US$2,1 miliar | #30 nasional |
| Bloomberg Billionaires Index Indonesia | diakses 17 Agustus 2026 | ~US$4,3 miliar (Rp68,18 triliun) | #10 nasional |
Dua angka Forbes di atas sah dibandingkan satu sama lain, karena berasal dari penerbit yang sama, berjarak lima bulan, dan turun hampir separuh. Angka Bloomberg sengaja tidak kami bandingkan sebagai "perubahan dari waktu ke waktu" terhadap angka Forbes, karena metodologinya berbeda dan kami tidak menemukan tanggal potret pasti yang melekat padanya, hanya bahwa angka itu tampil aktif pada tanggal akses di atas. Kalau digabung, Forbes dan Bloomberg saat ini beda pendapat soal kekayaan Djoko Susanto hampir dua kali lipat, salah satu selisih terlebar yang pernah ditemukan seri ini untuk kekayaan yang bertumpu pada satu saham publik yang aktif diperdagangkan.
Saham pengendali di satu peritel besar, ditambah beberapa taruhan lebih kecil yang sebagian besar privat.
Djoko Susanto mengendalikan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), badan usaha di balik lebih dari 22.000 gerai Alfamart di Indonesia dan sekitar 2.000 gerai lagi di Filipina, lewat perusahaan holding miliknya, PT Sigmantara Alfindo. Sigmantara Alfindo menguasai sekitar 50,19% saham AMRT, sekitar 20,83 miliar lembar, menurut catatan IDX Channel tahun 2025, turun dari angka 53,19% yang masih dikutip sejumlah sumber lama dari 2023; artikel ini memakai data yang lebih baru.
Di luar AMRT, holding yang sama menguasai mayoritas PT Trimitra Trans Persada Tbk (kode saham BLOG), perusahaan logistik yang melantai di bursa Juli 2025, dan Djoko Susanto juga membangun PT Midi Utama Indonesia Tbk (Alfamidi, kode saham MIDI) sejak 2007, jaringan minimarket kedua yang lebih kecil. AMRT sendiri membeli 70% perusahaan pemegang lisensi Lawson di Indonesia senilai Rp200,46 miliar, lewat perjanjian yang diteken 14 Mei 2025. MIDI dan BLOG belum masuk daftar ticker terkurasi NetWort, jadi keduanya disebut di sini tanpa tautan.
Saham Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) tersedia di screener NetWort dan ditautkan langsung di sini.
Dua hal terjadi bersamaan, dan arahnya berlawanan.
Harga saham AMRT sendiri turun sekitar 22,5% sepanjang tahun berjalan sampai pertengahan April 2026, bergerak di rentang Rp1.370 sampai Rp2.020. Pada 13 Mei 2026, MSCI mengumumkan mengeluarkan AMRT dari MSCI Indonesia Standard Index dan memindahkannya ke MSCI Small Cap Index, efektif pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026, bersama lima saham Indonesia lain. Sahamnya makin terkoreksi menjelang perubahan itu, sempat diperdagangkan sekitar Rp1.415 di pertengahan Mei.
Di sisi lain, bisnisnya sendiri terus tumbuh. PT Sumber Alfaria Trijaya melaporkan laba tahun berjalan yang bisa diatribusikan ke pemilik entitas induk sebesar Rp2,02 triliun untuk semester I 2026, naik 7,5% dibanding tahun sebelumnya dari Rp1,88 triliun, dengan pendapatan Rp67,95 triliun, naik 6,49%, menurut hasil kinerja yang dilaporkan 6 Agustus 2026. Per 7 Agustus 2026, saham AMRT sudah membaik, ditutup di Rp1.420, naik 7,17% dalam sepekan dan 2,16% dalam sebulan.
Kombinasi ini, kekayaan yang menurut tracker Forbes turun hampir separuh sementara perusahaannya sendiri melaporkan laba yang tumbuh, adalah cerita yang lebih tajam dibanding sekadar "sahamnya jatuh". Perubahan klasifikasi indeks dan arus jual investor asing yang menyertainya tampaknya menggerakkan sahamnya, dan angka Forbes, lebih jauh daripada yang digerakkan kinerja AMRT sendiri.
Lebih tidak pasti dari yang terlihat kalau kamu hanya lihat satu angka saja. Dua titik data Forbes sendiri (Desember 2025 dan Mei 2026) bergerak sekitar 50%, sementara harga saham AMRT pada periode yang kurang lebih sama bergerak sekitar 22 sampai 30%, selisih yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan dari informasi publik. Sebagian kemungkinan soal bagaimana masing-masing tracker memperlakukan kepemilikan privat Djoko Susanto di samping saham AMRT-nya, karena saham Sigmantara Alfindo di Trimitra Trans Persada, di Alfamidi, dan investasinya yang dilaporkan sekitar US$30 sampai 40 juta di Bank Aladin Syariah pada 2022 (angka berbeda tergantung media yang melaporkan) sama sekali tidak punya harga harian.
Tiga hal.
Kekayaan seseorang bisa terlihat ambruk di halaman tracker padahal bisnisnya sendiri baik-baik saja. Angka Forbes untuk Djoko Susanto turun hampir separuh dalam lima bulan, padahal laba Alfamart sendiri masih tumbuh. Penurunan klasifikasi indeks dan perdagangan yang menyertainya bisa menggerakkan estimasi kekayaan lebih cepat dibanding hasil kinerja perusahaan.
Perbandingan paling aman adalah angka dari satu penerbit yang sama, dari waktu ke waktu. Pergerakan Forbes dari Desember ke Mei itu sah dibandingkan. Selisihnya dengan angka Bloomberg yang terpisah dan tanpa tanggal pasti adalah perbedaan pendapat yang layak dilaporkan, bukan tren yang layak diceritakan seolah berurutan, prinsip yang sama yang dipakai NetWort di profil Dewi Kam.
Sebagian besar kekayaan ini ada di satu saham yang mungkin kamu lewati setiap minggu tanpa sadar. Halaman Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) di NetWort menampilkan harga yang hidup dan bersumber jelas dari saham itu. Holding yang membungkusnya adalah bagian yang tidak dinilai setiap hari oleh tracker mana pun, dan jarak itu layak diingat setiap kali ada satu angka kekayaan yang menggabungkan keduanya jadi satu judul.