Kekayaan Dewi Kam: Bertahun-tahun Jadi Wanita Terkaya RI, Sampai Forbes Pindahkan Gelarnya
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Media Indonesia sudah menjuluki Dewi Kam "Ratu Pembangkit Listrik" sejak awal 2020-an, dan bertahun-tahun dia disebut sebagai wanita terkaya di Indonesia dengan kekayaan sekitar Rp70 triliun. Tapi kalau kamu cek angka terbaru dari Forbes, kekayaan Dewi Kam justru turun, bukan naik, dan gelar "wanita terkaya RI" sudah pindah tangan.
Per daftar Forbes World's Billionaires 2026 (dirilis 10 Maret 2026, mengacu harga pasar 1 Maret 2026), kekayaan Dewi Kam tercatat US$3,6 miliar, menempatkannya di posisi #1189 dunia dan #10 nasional. Angka ini lebih rendah dari US$4,45 miliar yang dicatat Forbes pada 2023, dan dari US$4,8 miliar yang dia bagi bersama Marina Budiman di daftar Forbes 50 wanita self-made terkaya dunia 2025. Forbes resmi menobatkan Marina Budiman sebagai wanita terkaya Indonesia pada 22 April 2026, menggeser posisi yang lama dipegang Dewi Kam.
| Sumber | Tanggal | Angka | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Forbes, via Databoks/Kompas | 2022 | ~US$2,0 miliar (Rp31,33 triliun) | Dinobatkan wanita terkaya RI |
| Forbes, via Databoks/Kompas/Bisnis.com | 2023 | US$4,45 miliar (Rp68,98 triliun) | Dinobatkan wanita terkaya RI lagi |
| Forbes, "World's 50 Richest Self-Made Women" | 28 September 2025 (dikutip IDN Financials, 29 Sept 2025) | US$4,8 miliar | Peringkat #16 dunia, seri dengan Marina Budiman |
| Forbes, World's Billionaires List 2026 | 10 Maret 2026 | US$3,6 miliar | #1189 dunia, #10 nasional |
Beda dari kebanyakan tokoh yang sudah dibahas seri ini, angka Dewi Kam justru turun kalau dilihat dari catatan Forbes sendiri, bukan naik. Semua angka di atas dari Forbes, jadi ini perbandingan yang sah dalam satu tracker yang sama, bukan mencampur metodologi dua penerbit berbeda.
Saham minoritas di batu bara, ditambah pembangkit listrik privat.
Dewi Kam menguasai sekitar 10% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) lewat PT Sumber Suryadaya Prima, kendaraan investasi yang 99,56% sahamnya dia pegang sendiri, berdasarkan data yang tercatat di Minerba One Data Indonesia (MODI), portal terbuka milik Kementerian ESDM, per 30 September 2025.
Di luar BYAN, Dewi Kam mengendalikan rangkaian perusahaan pembangkit listrik yang seluruhnya privat, tidak ada satu pun yang tercatat di bursa. PT Sumbergas Sakti Prima, sekitar 99,5% miliknya, menguasai 91% PT Sumber Energi Sakti Prima, yang kemudian menguasai 51% PT Sumber Segara Primadaya, pengembang PLTU di Karangkandri, Cilacap, Jawa Tengah (49% sisanya dipegang anak usaha PLN, PT Pembangkit Jawa-Bali, menurut profil perusahaan yang dikutip Kompas). PT Sumber Energi Sakti Prima juga bermitra dengan PT Bosowa Energi menggarap PLTU kedua di Jeneponto, Sulawesi Selatan.
Tidak satu pun kendaraan pembangkit listrik ini punya kewajiban keterbukaan seperti perusahaan publik. Itu yang membedakan bagian kekayaan ini dari saham BYAN-nya, yang harganya terpampang setiap hari di bursa. Bentuknya lebih dekat ke kekayaan privat penuh seperti Chairul Tanjung lewat CT Corp, ketimbang kekayaan satu saham seperti Low Tuck Kwong.
Tidak sebesar yang tersirat dari pergantian gelar "wanita terkaya".
Harga saham BYAN sendiri relatif stabil sepanjang paruh pertama 2026: Rp12.300 per saham pada 21 April 2026 (Asatunews, mengutip data IDX) dan Rp11.975 pada 25 Juli 2026 (StockAnalysis.com), pergerakan yang kecil ke kedua arah. Kinerja Bayan Resources kuartal II 2026 justru membaik, laba bersih naik 67% dibanding tahun sebelumnya menjadi US$219,5 juta dari pendapatan US$918,5 juta yang naik 26%, tapi perbaikan kinerja itu tidak diikuti kenaikan harga saham yang sebanding.
Itulah cerita sebenarnya di balik pergantian gelar "wanita terkaya". Bukan karena ada yang terjadi pada saham Dewi Kam. Yang terjadi, saham DCI Indonesia milik Marina Budiman bergerak jauh lebih kencang, dibahas lengkap di profil Marina Budiman di NetWort. Angka Forbes untuk Dewi Kam sekadar tidak mengejar laju itu, dan di daftar tahunan 2026, kekayaannya lebih rendah dari catatan 2023.
Lebih tidak pasti dari yang terlihat, dan alasannya di sini agak beda: Bloomberg sepertinya tidak melacak Dewi Kam secara individual. Semua angka di artikel ini dari Forbes, dari tiga produk Forbes yang berbeda (daftar orang terkaya Indonesia tahunan, daftar wanita self-made, dan World's Billionaires List tahunan) sepanjang empat tahun. Tapi tetap ada ketidaksesuaian nyata. Angka US$2,0 miliar (2022), US$4,45-4,8 miliar (2023-2025), dan US$3,6 miliar (2026) tidak mungkin menggambarkan tren yang mulus, karena harga saham BYAN sendiri tidak bergerak sedrastis itu. Sebagian selisihnya kemungkinan besar soal metodologi, bukan cuma pergerakan pasar: bagaimana Forbes menilai kendaraan pembangkit listrik yang tidak tercatat di bursa, di samping saham BYAN yang tercatat, tidak dijelaskan di sumber mana pun yang kami temukan untuk artikel ini.
Tiga hal, dan tidak satu pun butuh pandangan soal industri batu bara.
Gelar "wanita terkaya" itu potret sesaat, bukan gelar permanen. Dewi Kam memegangnya di 2022 dan 2023 menurut catatan Forbes sendiri. Per April 2026, Forbes memindahkannya ke orang lain, bukan karena kekayaan Dewi Kam ambruk, tapi karena kekayaan orang lain tumbuh lebih cepat. Gelar semacam ini menggambarkan satu momen, bukan satu orang selamanya.
Saham minoritas dan saham pengendali di perusahaan yang sama itu dua aset yang beda. Saham Low Tuck Kwong yang di atas 40% dan saham Dewi Kam yang 10% sama-sama ada di Bayan Resources, dan menyamakan keduanya, seperti yang kadang dilakukan pemberitaan yang kurang teliti, salah membaca apa yang sebenarnya dimiliki masing-masing orang.
Mencampur saham publik dengan kepemilikan privat memperlebar rentang ketidakpastian sebuah angka. Halaman aset NetWort menampilkan harga Bayan Resources (BYAN) yang hidup dan bersumber jelas. Berapa nilai perusahaan holding privat di sampingnya adalah pertanyaan yang jauh lebih tidak pasti, dan jarak itu layak diingat setiap kali sebuah angka kekayaan mencampur keduanya jadi satu.