Kekayaan Linda Hasenfratz Sempat Anjlok ke US$800 Juta Gara-Gara Tarif AS, Lalu Berlipat Ganda ke US$1,8 Miliar
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Kalau kamu pikir cuma konglomerat Indonesia yang kekayaannya bisa naik-turun drastis gara-gara satu keputusan pemerintah, coba lihat Linda Hasenfratz di Kanada. Bos sekaligus pemegang saham pengendali Linamar Corporation, produsen komponen otomotif dan alat berat asal Guelph, Ontario, ini sempat kehilangan status miliarder di 2025 gara-gara tarif otomotif Presiden Trump, sebelum kekayaannya berlipat ganda lagi tahun ini karena satu pengecualian yang sangat spesifik.
Kekayaan Linda Hasenfratz kini tercatat US$1,8 miliar, menurut Bloomberg Billionaires Index, dilaporkan Bloomberg pada 17 Agustus 2026. Setahun sebelumnya, tracker yang sama sempat mencatatnya di sekitar US$800 juta, cukup rendah untuk membuatnya keluar dari daftar miliarder dunia.
| Penerbit | Waktu | Angka | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Bloomberg Billionaires Index | "tahun lalu" (2025), menurut laporan Bloomberg 17 Agustus 2026 | sekitar US$800 juta | Sempat keluar dari status miliarder usai gelombang pertama tarif otomotif |
| Bloomberg Billionaires Index | 17 Agustus 2026 | US$1,8 miliar | Status miliarder pulih |
Dua angka ini berasal dari tracker yang sama, Bloomberg Billionaires Index, jadi lonjakan sekitar dua kali lipat ini memang perbandingan yang sah dalam satu metodologi, bukan salah banding antar tracker. Laporan Bloomberg sendiri tidak mencantumkan tanggal pasti untuk titik terendah US$800 juta itu, hanya menyebutnya "tahun lalu" relatif terhadap artikel Agustus 2026, jadi kami sebutkan apa adanya, bukan menebak tanggalnya. Penelusuran untuk artikel ini juga tidak menemukan angka Forbes yang secara spesifik menyebut nama Linda Hasenfratz, sesuai kebiasaan seri ini: kalau baru satu penerbit yang punya angka untuk seseorang, kami katakan itu terus terang.
Hampir seluruhnya di satu saham: Linamar Corporation (kode LNR di Bursa Efek Toronto), perusahaan yang dirintis ayahnya, Frank Hasenfratz, dari basemen rumahnya di Guelph pada 1966. Nama "Linamar" sendiri gabungan dari nama istri Frank, Margaret, dan dua putrinya, Linda dan Nancy. Linda Hasenfratz sudah menjabat CEO perusahaan ini sejak 2002 dan kini juga menjadi ketua dewan direksi.
Kepemilikannya membesar lewat satu momen yang tercatat jelas tanggalnya. Frank Hasenfratz meninggal dunia pada 8 Januari 2022, menurut pernyataan resmi Linamar saat itu. Pada 24 Maret 2023, lewat rilis pers CNW/Newswire.ca, Linamar mengumumkan bahwa setelah proses administrasi warisan selesai, 15.567.483 lembar saham biasa (sekitar 25,3% perusahaan) yang sebelumnya dipegang harta warisan ayahnya kini beralih ke Linda Hasenfratz. Digabung dengan saham yang sudah dimilikinya, totalnya menjadi 20.270.381 lembar saham, sekitar 33,0% dari saham Linamar yang beredar saat itu, menjadikannya pemegang saham pengendali menurut hukum pasar modal Kanada. Dokumen korporat Linamar sendiri di 2026 mencatat total saham beredar sebanyak 59.447.985 lembar per 4 Maret 2026.
Dua peristiwa tarif, berjarak setahun, yang menggerakkan angka ini, menurut laporan Bloomberg 17 Agustus 2026. Saat gelombang pertama tarif Trump yang menyasar sektor otomotif Kanada berlaku di 2025, termasuk bea 25% untuk kendaraan rakitan, saham Linamar anjlok dan kekayaan Hasenfratz turun ke sekitar US$800 juta. Saham Linamar sendiri sempat menyentuh level terendah 12 bulan pada 9 April 2025, menurut MarketBeat, persis di periode ketika tarif kendaraan dari perintah eksekutif itu mulai berlaku.
Pemulihannya datang dari satu pengecualian yang sangat spesifik: suku cadang otomotif yang memenuhi ketentuan perjanjian dagang AS-Meksiko-Kanada tetap bebas dari tarif kendaraan, dan menurut Bloomberg, kategori ini menyumbang lebih dari 60% laba Linamar. Hasil kuartal II 2026 Linamar sendiri, dilaporkan 12 Agustus 2026, menunjukkan kenapa itu penting: penjualan segmen Mobility naik 20,5% secara tahunan menjadi bagian dari total penjualan perusahaan CAD 3,1 miliar, dengan laba operasi ternormalisasi segmen Mobility naik 28,6%, sementara segmen Industrial yang terkena tarif Section 232 yang berbeda plus lemahnya permintaan pertanian, laba operasi ternormalisasinya justru turun 23,8% pada periode yang sama. Saham Linamar naik sekitar 27% sepanjang 2026 di Bursa Efek Toronto, menurut Bloomberg, dan menyentuh rekor tertinggi 52 minggu di C$108,90 pada 21 Agustus 2026, menurut pemberitaan pasar saat itu.
Lebih mudah dipastikan dibanding kebanyakan profil lain di seri ini, karena kekayaan Linamar ada di satu saham publik yang dipegang langsung, bukan tersebar di banyak perusahaan holding privat. Celahnya lebih soal waktu, bukan struktur: angka kepemilikan sahamnya yang paling baru dan bertanggal jelas berasal dari pengumuman warisan 2023, bukan pengajuan 2026 yang baru, jadi angka 33,0% itu mungkin sudah sedikit bergeser karena transaksi rutin sejak saat itu. Dan karena lebih dari 90% kekayaannya ada di satu ticker saham, angka kekayaan Hasenfratz akan terus mengikuti harga saham Linamar dan keputusan tarif atau dagang berikutnya yang menyentuhnya, risiko konsentrasi yang sama seperti yang sudah dicatat seri ini pada kekayaan MacKenzie Scott yang bertumpu pada saham Amazon, meski di sana ayunannya digerakkan pasar, bukan satu kebijakan pemerintah saja.
Yang menggerakkan kekayaan ini bukan sekadar ada atau tidaknya tarif, tapi cakupan persisnya. Berita "tarif otomotif" yang jadi headline sempat memukul kekayaan Hasenfratz keras di 2025, tapi detail yang menentukan pemulihannya adalah produk mana yang sebenarnya kena tarif itu: kendaraan rakitan, bukan suku cadang yang memenuhi ketentuan USMCA. Ini versi yang lebih tajam dan lebih rinci dari cerita risiko kebijakan yang sudah pernah diangkat seri ini lewat kekayaan Susilo Wonowidjojo di Gudang Garam, di mana satu keputusan cukai menggerakkan sentimen pada satu linimasa dan bisnis intinya di linimasa yang lain. Fitur Macro di NetWort melacak keputusan dagang dan suku bunga yang bisa mengguncang kekayaan berbasis satu saham seperti ini, ke arah mana pun, dalam hitungan setahun saja.