Laba Gudang Garam Melonjak 2.440%, Kekayaan Susilo Wonowidjojo Malah Susut 65% dari Puncaknya
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Coba tebak: kalau laba bersih sebuah perusahaan rokok raksasa melonjak 2.440% dalam setahun, kekayaan pemiliknya seharusnya naik juga, kan? Tidak untuk Susilo Wonowidjojo, bos PT Gudang Garam Tbk (GGRM). Per daftar tahunan Forbes "Indonesia's 50 Richest 2025" (10 Desember 2025), kekayaan Susilo Wonowidjojo tercatat US$3,2 miliar, membuatnya berada di peringkat 25 nasional. Tujuh tahun sebelumnya, di daftar Forbes Desember 2018, dia ada di angka US$9,2 miliar, orang terkaya kedua di Indonesia saat itu. Itu penurunan sekitar 65% menurut tracker yang sama, salah satu penurunan terlebar yang pernah ditemukan seri ini dari satu penerbit saja. Padahal di 2026, laba Gudang Garam justru sedang melonjak, sementara pendapatannya terus menyusut.
| Penerbit | Tanggal | Angka | Catatan |
|---|---|---|---|
| Forbes, daftar tahunan Indonesia | Desember 2018 | US$9,2 miliar | Peringkat 2 nasional |
| Forbes, "Indonesia's 50 Richest 2025" (tahunan) | 10 Desember 2025 | US$3,2 miliar | Peringkat 25 nasional |
Dua angka ini berasal dari penerbit dan daftar tahunan yang sama, jadi penurunan sekitar 65% itu memang perbandingan yang sah, bukan salah banding antar tracker dengan metodologi berbeda. Penelusuran untuk artikel ini tidak menemukan angka Bloomberg Billionaires Index yang secara spesifik menyebut nama Susilo Wonowidjojo dengan tanggal yang jelas, jadi kami sebutkan apa adanya, sesuai kebiasaan seri ini: baru satu penerbit yang punya angka untuknya saat ini.
Hampir semua kekayaannya ada di PT Gudang Garam Tbk (GGRM), produsen rokok kretek yang didirikan ayahnya, Surya, pada 1958. Tapi kepemilikannya tidak langsung sesederhana satu saham atas namanya sendiri.
| Entitas | Kepemilikan | Artinya |
|---|---|---|
| PT Suryaduta Investama | 69,29% saham GGRM | Perusahaan induk (holding) keluarga Wonowidjojo, sekaligus pengendali utama Gudang Garam |
| Susilo Wonowidjojo | 19,85% saham Suryaduta Investama | Eksposur utamanya ke Gudang Garam lewat holding ini, bukan kepemilikan langsung di GGRM |
| Susilo Wonowidjojo (langsung) | 0,09% saham GGRM | Kepemilikan kecil atas namanya sendiri, terpisah dari rantai holding di atas |
Susilo menjabat presiden direktur Gudang Garam sejak 2009, menggantikan mendiang kakaknya Rachman Halim, dengan sang adik, Juni Setiawati, sebagai presiden komisaris. Karena sebagian besar eksposurnya lewat Suryaduta Investama, bukan kepemilikan langsung di GGRM, setiap tracker yang menghitung kekayaannya harus menambahkan asumsi soal struktur holding ini di atas harga saham GGRM itu sendiri, lapisan yang tidak dimiliki kekayaan berbasis satu saham langsung.
Ada dua perkembangan 2026 yang perlu dipisahkan, karena sumber-sumbernya sendiri tidak mengaitkan keduanya.
Pertama, soal sentimen: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan akhir September 2025 bahwa cukai hasil tembakau (CHT) tidak akan naik di 2026, pembekuan pertama setelah bertahun-tahun kenaikan hampir tiap tahun, dan saham-saham rokok termasuk GGRM langsung reli menyambut kabar ini, menurut CNBC Indonesia (26 September 2025) dan Kompas (27 September 2025).
Kedua, dan terpisah, hasil kinerja keuangan Gudang Garam sendiri di 2026:
| Periode | Laba bersih | Perubahan YoY | Pendapatan | Perubahan YoY | Sumber, tanggal |
|---|---|---|---|---|---|
| Kuartal I 2026 | Rp1,54 triliun | +1.373% | Rp20,11 triliun | -12,8% | IDNFinancials, 5 Mei 2026 |
| Semester I 2026 | Rp2,98 triliun | +2.440% | Rp41,2 triliun | -7,2% | Databoks, 5 Agustus 2026 |
IDNFinancials, mengutip riset Ciptadana Securities Asia, menyebut lonjakan laba kuartal I itu berasal dari efisiensi operasional, bukan dari pembekuan cukai: beban operasional turun 34,9% jadi Rp1,17 triliun, termasuk pemangkasan kompensasi karyawan, dan jumlah karyawan menyusut 23,5% pada periode yang sama. Gudang Garam menyatakan pengurangan itu terjadi lewat pensiun dini dan berakhirnya masa kontrak, bukan PHK. Per Agustus 2026, saham GGRM sempat menyentuh level tertinggi 52 minggu di sekitar Rp21.800, naik lebih dari 33% dalam sebulan, dibantu net buy asing setelah rilis hasil semester I.
Tidak ada satu pun laporan yang menarik garis lurus dari pembekuan cukai ke lonjakan laba ini, dan artikel ini juga tidak membuat kesimpulan sendiri soal itu.
Lebih sulit dipastikan dibanding kekayaan yang berbasis kepemilikan langsung di satu saham. Ada dua lapisan ketidakpastian yang menumpuk di sini: lapisan kepemilikan antara Susilo dan GGRM lewat Suryaduta Investama, yang daftar pemegang saham lengkapnya di luar 19,85% miliknya tidak ditemukan di sumber mana pun untuk artikel ini, dan lapisan harga sahamnya sendiri, yang labanya sedang naik karena pemangkasan biaya sementara pendapatannya terus menyusut, kombinasi yang memunculkan pertanyaan seberapa tahan lama kenaikan laba ini. Pola kedua ini mirip dengan yang sudah dibahas seri ini soal kekayaan Djoko Susanto di Alfamart, di mana angka Forbes-nya nyaris terpangkas separuh padahal laba peritel itu sendiri justru tumbuh, pengingat bahwa kekayaan versi tracker dan laba perusahaan tidak selalu bergerak searah, atau karena alasan yang sama.
Angka laba yang melonjak sampai ribuan persen bukan otomatis berarti cerita pertumbuhan. Kenaikan laba Gudang Garam 2.440% secara tahunan itu terjadi bersamaan dengan pendapatan yang turun 7,2%, artinya perbaikan itu hampir seluruhnya soal berhemat, bukan soal jualan lebih banyak, tekanan downtrading ke rokok yang lebih murah yang juga sudah disinggung seri ini di profil Otto Toto Sugiri dari sektor Indonesia yang sama sekali berbeda.
Keputusan regulasi, seperti pilihan satu kementerian untuk tidak menaikkan cukai, bisa menggerakkan sentimen saham dalam satu minggu dan biaya operasional perusahaan di minggu yang lain, dua linimasa berbeda yang sering dicampur jadi satu headline. Fitur Market Pulse di NetWort menunjukkan bagaimana sentimen dan harga bergerak bersamaan sepanjang hari perdagangan, persis jenis celah yang bisa disembunyikan headline "laba naik 2.440%" dari kamu yang tidak sempat mengecek angka pendapatan di baliknya.