Minggu lalu seri NetWort sudah membahas tiga taipan pria Indonesia: Low Tuck Kwong dari batu bara, Sukanto Tanoto dari konglomerasi privat, dan Robert Budi Hartono dari bank publik lewat holding keluarga. Kekayaan Marina Budiman datang dari sektor yang berbeda sama sekali: pusat data, salah satu bisnis paling panas di bursa Indonesia dua tahun terakhir, dan dia satu-satunya perempuan yang masuk sepuluh besar orang terkaya nasional.
Forbes menobatkannya sebagai wanita terkaya Indonesia pada 22 April 2026, dengan kekayaan sekitar Rp102,88 triliun. Delapan bulan sebelumnya, di daftar tahunan "Indonesia's 50 Richest" tertanggal 10 Desember 2025, Forbes sudah menempatkannya di posisi ke-8 nasional dengan US$8,2 miliar. Tapi tracker real-time Forbes pertengahan Juli 2026 mencatat angkanya turun jadi US$5,7 hingga US$5,8 miliar, penurunan sekitar 30% dari angka Desember, meski dia tetap bertahan di posisi ke-8.
Kekayaan Marina Budiman: Angkanya, dan Siapa yang Bilang
Penerbit
Tanggal
Angka
Catatan
Forbes, "Indonesia's 50 Richest" (tahunan)
10 Desember 2025
US$8,2 miliar
peringkat 8 nasional, pertama kali masuk 10 besar
Forbes
22 April 2026
~Rp102,88 triliun (~US$6,3 miliar saat itu)
dinobatkan wanita terkaya Indonesia
Forbes Real-Time Billionaires
pertengahan Juli 2026
US$5,7-5,8 miliar
peringkat 8 nasional, #612 daftar global Forbes 2026
Pola ini sama dengan yang sudah dibahas seri ini pada profil Low Tuck Kwong dan Sukanto Tanoto: daftar tahunan yang dipatok di satu tanggal penilaian, dibandingkan tracker real-time yang menyesuaikan harga tiap hari. Bukan sahamnya yang berkurang, cuma harganya yang bergerak.
Di Mana Sebenarnya Kekayaan Marina Budiman Berada
Hampir seluruhnya ada di satu saham: PT DCI Indonesia Tbk (kode DCII), operator pusat data terbesar di Indonesia, yang didirikan Budiman bersama Otto Toto Sugiri dan Han Arming Hanafia pada 2011. Dia menjabat presiden komisaris. Sebelum DCI, Budiman dan Sugiri sudah lebih dulu membangun PT Indointernet, penyedia jasa internet pertama di Indonesia, pada 1994.
Struktur kepemilikan DCII terbilang sangat terkonsentrasi untuk perusahaan terbuka. Berdasarkan keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia per 28 Februari 2026 (dilaporkan StockWatch.id), empat orang menguasai sekitar 77,6% saham perusahaan:
Pemegang saham
Jumlah lembar
Persentase
Otto Toto Sugiri
712.784.905
29,9%
Marina Budiman
536.505.149
~22,51%
Han Arming Hanafia
336.352.227
~14,11%
Anthoni Salim
265.033.461
~11,12%
Saham beredar bebas (free float), yang benar-benar bisa diperdagangkan publik, cuma 18,55% per data yang sama. Detail ini penting, karena itulah yang menjelaskan apa yang terjadi pada harga sahamnya begitu sentimen pasar berubah, seperti dibahas di bagian berikutnya.
Apa yang Menggerakkan Angkanya Belakangan Ini
Bisnis DCII terus tumbuh sepanjang semester pertama 2026: laba bersihnya naik 18,74% di semester I 2026 dibanding semester sebelumnya, menurut PintarSaham, seiring ekspansi kapasitas pusat data yang berlanjut.
Tapi harga sahamnya tidak bergerak searah lurus dengan itu. Pada 20 Juli 2026, DCII ditutup di Rp190.775, naik 0,38% pada hari itu, menurut catatan KB Valbury Sekuritas yang dilaporkan Suara.com sehari setelahnya. Catatan yang sama menyoroti rasio harga terhadap laba (P/E) sebesar 493,7 kali, di ujung atas rentang lima tahun terakhir saham ini, sementara rata-rata nilai transaksi harian cuma sekitar Rp479,8 miliar, tergolong tipis untuk perusahaan sebesar ini. Kesimpulan KB Valbury: valuasi premium dipadukan likuiditas rendah adalah kombinasi yang bisa membuat harga bergerak keras ke arah mana pun, dan mereka memberi status Non-Rated, bukan rekomendasi beli atau jual.
Struktur kepemilikan terkonsentrasi dan likuiditas tipis di atas justru yang menjelaskan kenapa saham seperti ini bisa jatuh sekeras itu dalam tiga hari. Mekanisme yang sama juga disoroti KB Valbury pada Juli 2026, lebih dari setahun kemudian: kalau empat orang menguasai sebagian besar saham beredar, perubahan kecil pada jumlah pembeli yang bersedia bertransaksi di suatu hari bisa menggerakkan harga jauh lebih besar dari biasanya.
Seberapa Bisa Diketahui Angka Ini, Sebenarnya
Dalam satu hal, angka ini termasuk yang paling bisa dilacak di seri ini: DCII perusahaan terbuka yang sepenuhnya tercatat dan wajib lapor ke BEI, kepemilikan Budiman pun tercatat resmi sebagai data pemegang saham publik, bukan tersembunyi di balik perusahaan induk privat berlapis-lapis. Dalam hal ini posisinya lebih dekat ke Jensen Huang dengan saham Nvidia-nya, dibanding konglomerasi privat sepenuhnya.
Tapi angkanya tetap tidak biasa volatilnya, dengan alasan yang berbeda dari profil lain di seri ini. Bukan karena tracker beda metodologi menghitung kepemilikan, seperti beda pendapat Forbes dan Bloomberg soal saham yayasan Jensen Huang. Ini soal saham yang mendasarinya sendiri jarang diperdagangkan tapi bervaluasi sangat mahal, sehingga "harga wajar" yang jadi acuan tiap tracker bisa berubah signifikan dalam rentang seminggu saja. Selisih 30% antara angka tahunan Desember 2025 dan angka real-time pertengahan 2026, dari satu penerbit dengan satu metodologi yang sama, sudah cukup menunjukkan itu.
Yang Bisa Kamu Ambil dari Ini
Kekayaan Budiman adalah contoh paling jelas soal risiko satu saham di seri ini: satu perusahaan, satu sektor yang lagi panas-panasnya, dan empat orang menguasai lebih dari tiga perempat saham beredar. Kombinasi itu bisa menghasilkan kenaikan luar biasa, yang memang membawanya masuk sepuluh besar orang terkaya Indonesia, tapi juga bisa memicu koreksi tajam seperti yang menghantam DCII pada Maret 2025. Likuiditas tipis bukan yang menciptakan risikonya, tapi yang memperbesar risiko yang memang sudah ada.
Tampilan Holdings di NetWort menunjukkan berapa persen portofoliomu sendiri ada di satu posisi saat ini, bukan berapa persen waktu kamu pertama beli, supaya taruhan yang terlalu terkonsentrasi tidak baru ketahuan setelah minggu buruk terjadi. Kalau mau tahu persisnya berapa ongkos dari posisi yang terlalu besar di hari buruk, risiko konsentrasi portofolio membahas hitungannya lengkap dengan contoh nyata.