Kekayaan Warren Buffett: Rp2.596 Triliun, Nyaris Tak Bergeser Meski Menyumbang Rp107 Triliun
Baca 6 menitDiperbarui 22 Agustus 2026
Baca 6 menitDiperbarui 22 Agustus 2026
Minggu ini seri NetWort sudah membahas tiga taipan Indonesia: Low Tuck Kwong, yang peringkat orang terkayanya berubah dalam hitungan hari antar media, Sukanto Tanoto, yang angkanya dari dua tracker beda sampai enam kali lipat, dan Robert Budi Hartono, yang kekayaannya baru bisa dilacak lewat perusahaan induk privat berlapis. Warren Buffett, investor legendaris asal Amerika Serikat, ada di ujung spektrum yang berlawanan. Hampir seluruh kekayaan Warren Buffett ada di satu saham publik, dan jumlah lembar sahamnya dilaporkan resmi ke regulator pasar modal AS, sampai angka pastinya.
Per tracker real-time Forbes, dalam daftar "Top 10 Richest People In The World" tertanggal 1 Agustus 2026, kekayaan Buffett tercatat US$145 miliar, sekitar Rp2.596 triliun (kurs sekitar Rp17.900/US$1), peringkat ke-10 dunia. Angka itu cuma turun tipis dari US$146,5 miliar pada 7 Januari 2026, penerbit yang sama, padahal di antara dua tanggal itu dia baru saja menyumbangkan saham Berkshire senilai sekitar US$6 miliar (sekitar Rp107 triliun).
| Penerbit | Tanggal | Angka | Catatan |
|---|---|---|---|
| Forbes Real-Time Billionaires | 7 Januari 2026 | US$146,5 miliar | peringkat 9 dunia |
| Bloomberg Billionaires Index | awal 2026 | ~US$150 miliar | periode yang sama |
| Forbes, "Top 10 Richest People In The World" | 1 Agustus 2026 | US$145 miliar | peringkat 10 dunia |
| Saham Berkshire Kelas B (BRK.B) | 1 Agustus 2026 | US$512,37/lembar | level tertinggi 8 bulan (CNBC) |
| Saham Berkshire Kelas A (BRK.A) | 6 Agustus 2026 | US$786.000/lembar | MacroTrends |
Angka Forbes sendiri cuma bergeser kurang dari 1,5% dalam tujuh bulan, dari US$146,5 miliar di Januari ke US$145 miliar di Agustus, padahal Buffett menyumbangkan miliaran dolar sahamnya di antara dua tanggal itu. Estimasi terpisah dari Bloomberg, sekitar US$150 miliar di periode yang sama, cuma beda beberapa persen dari Forbes, selisih yang jauh lebih sempit dibanding kebanyakan profil lain di seri ini.
Hampir semuanya saham Berkshire Hathaway. Buffett sendiri pernah bilang lewat rilis resmi perusahaan bahwa Berkshire "kira-kira 99,5 persen" dari kekayaan bersihnya, fakta struktural yang tidak berubah sepanjang pemberitaan 2026.
Berkshire punya dua kelas saham. Kelas A adalah saham aslinya, bisa dikonversi jadi 1.500 lembar Kelas B kapan saja pemegangnya mau, dan hak suaranya jauh lebih besar per dolar nilai dibanding Kelas B. Menurut pernyataan proksi Berkshire Maret 2026, dikutip The Motley Fool pada 17 Juli 2026, Buffett memegang 196.317 lembar saham Kelas A, setara sekitar 30,0% hak suara Berkshire tapi cuma sekitar 13,7% nilai ekonominya. Celah antara kendali dan kepemilikan yang sama juga muncul di profil Mark Zuckerberg minggu ini, dengan rasio yang jauh berbeda: saham dua kelas Meta memberinya sekitar 61% hak suara berbanding 13-14% kepemilikan ekonomi. Perusahaan beda, mekanismenya sama.
Setelah sumbangan Juli, jumlah saham setara Kelas A milik Buffett turun jadi 188.290 lembar, menurut artikel Motley Fool tertanggal 18 Juli 2026.
Pada 14 Juli 2026, Buffett mengonversi 8.000 saham Kelas A jadi 12 juta saham Kelas B dan menyumbangkannya ke empat yayasan keluarga: 9 juta lembar ke Susan Thompson Buffett Foundation, dan masing-masing 1 juta lembar ke Sherwood Foundation, Howard G. Buffett Foundation, dan NoVo Foundation, sumbangan senilai sekitar US$6 miliar (Forbes, CNBC, dan The Motley Fool, semuanya melaporkan pada 14-19 Juli 2026). Untuk pertama kalinya sejak 2006, Gates Foundation tidak masuk daftar penerima, keputusan yang oleh beberapa media dikaitkan dengan hubungan masa lalu Bill Gates dengan Jeffrey Epstein yang sudah terdokumentasi. Buffett sendiri menyebut sikap Gates "tidak pantas," tapi bilang dia tidak menyesali dua dekade sumbangan sebelumnya ke yayasan itu.
Di sisi lain, saham Berkshire sendiri sedang bagus-bagusnya. BRK.B ditutup di US$512,37 pada 1 Agustus 2026, level tertinggi sejak akhir November, menurut CNBC. Reli itulah alasan utama kenapa angka Forbes cuma turun tipis walau ada sumbangan US$6 miliar: sisa sahamnya jadi lebih bernilai. Berkshire juga dijadwalkan merilis laporan kuartal kedua di minggu yang sama, menurut laporan CNBC 1 Agustus 2026, kejadian rutin yang tidak coba diprediksi hasilnya oleh artikel ini.
Buffett juga sudah lengser dari kursi CEO Berkshire akhir 2025. Greg Abel resmi jadi CEO per 1 Januari 2026, sementara Buffett tetap jadi ketua dewan (executive chairman), menurut pemberitaan CBS News dan Seeking Alpha soal transisi itu. Tracker kekayaan tetap menghitung kepemilikan pribadi Buffett dengan cara yang sama; yang berubah adalah siapa yang sekarang mengambil keputusan operasional di baliknya.
Lebih bisa diketahui dibanding hampir semua kekayaan lain yang sudah dibahas seri ini. Berkshire perusahaan publik penuh yang lapor ke regulator pasar modal AS, tanpa perusahaan induk keluarga yang jadi perantara seperti kepemilikan Robert Budi Hartono di BCA lewat perusahaan induk privat. Jumlah lembar saham Buffett tercatat resmi sampai satu lembar, itu sebabnya Forbes dan Bloomberg cuma beda beberapa persen, bukan berkali-kali lipat seperti yang ditemukan seri ini pada konglomerasi tertutup seperti Royal Golden Eagle milik Sukanto Tanoto.
Yang bikin angka Buffett istimewa bukan soal tracker mana yang benar. Angkanya memang sedang mengecil dengan sengaja, secara terbuka, dengan target waktu yang sudah diumumkan sendiri, sesuatu yang tidak dilakukan enam orang lain yang dibahas seri ini minggu ini.
Kekayaan Buffett dibangun dari satu posisi saham yang dipegang enam dekade, dan konsentrasi itu juga alasan kenapa return persentasenya bisa berkembang jadi hasil sebesar ini. Itu bukan strategi yang perlu ditiru mentah-mentah oleh kebanyakan portofolio. Konsentrasi 99% yang membuat Buffett salah satu orang terkaya di dunia, secara definisi, juga satu titik kegagalan tunggal, dan itu berhasil untuknya cuma karena rekam jejak yang panjang dan sukses secara luar biasa. Tampilan rincian gain di NetWort menunjukkan saham mana yang sebenarnya paling menggerakkan hasil portofoliomu sendiri, pakai angkamu sendiri, supaya kamu tahu seberapa terkonsentrasi portofoliomu sebelum sebuah reli atau penurunan yang menentukannya duluan. Kalau posisi terbesarmu ternyata bekerja lebih keras dari yang kamu kira, risiko saham terlalu besar di portofolio membahas apa saja ongkos sebenarnya.