Siapa yang Pegang Surat Utang Negara RI? Porsi Asing Turun, dan Itu Berpengaruh ke Rupiah
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Tahun 2019, investor asing memegang hampir 40% SBN rupiah yang bisa diperdagangkan. Pertengahan 2026, porsinya sekitar 13%.
Apakah asing kabur? Tidak juga. Nilai rupiahnya masih mendekati level lama. Yang berubah: total SBN jadi jauh lebih besar, dan investor lokal yang mengisinya.
Di artikel ini kita bahas kepemilikan asing di SBN: siapa pemegang sisanya, kenapa pergeseran ini penting buat rupiah, dan cara kamu memantaunya sendiri.
Dulu soal istilah. SBN (Surat Berharga Negara) adalah surat utang yang diterbitkan pemerintah. Kamu meminjamkan uang ke negara, negara bayar bunga, lalu mengembalikan pokoknya di akhir. SBN yang tradable bisa dijual-beli di pasar, jadi harganya bergerak tiap hari.
Ini angka yang berhasil kami temukan, lengkap dengan sumbernya:
| Waktu | Kepemilikan asing | Porsi dari SBN | Sumber |
|---|---|---|---|
| Kuartal IV 2019 | Puncak Rp1.009,6 triliun (Agustus 2019) | sekitar 39% | Laporan IMF 2023, lewat ringkasan hasil pencarian |
| Akhir April 2026 | Rp862,36 triliun | 12,75% | Data DJPPR, lewat Kontan |
| Awal Juni 2026 | Rp875,58 triliun | 12,66% | Data DJPPR, lewat Kontan |
| 4 September 2026 | Rp917,71 triliun | porsi tidak disebut | Kontan, tertinggi dalam 12 bulan |
Coba lihat nominalnya. Agustus 2019 asing pegang sekitar Rp1.010 triliun. September 2026 sekitar Rp918 triliun. Turunnya cuma sekitar 9%.
Porsinya anjlok dari sekitar 39% ke sekitar 13%. Jadi sebagian besar perubahan bukan karena asing jual besar-besaran. Penyebab utamanya: tumpukan SBN makin besar, dan pembeli lokal menyerap sebagian besar penerbitan baru.
Ini gambaran terbaru. Angka per awal Januari 2026 untuk SBN tradable, menurut Bisnis.com:
| Pemegang | Nilai | Porsi |
|---|---|---|
| Perbankan | Rp1.397,68 triliun | 21,11% |
| Asuransi dan dana pensiun | Rp1.302,03 triliun | sekitar 20% (hitungan kami) |
| Asing (non-residen) | Rp881,88 triliun | sekitar 13% (hitungan kami) |
| Individu | Rp536,94 triliun | sekitar 8% (hitungan kami) |
| Reksa dana | Rp247,49 triliun | sekitar 4% (hitungan kami) |
| Sisanya, kebanyakan Bank Indonesia | sekitar Rp1.587 triliun | sekitar 24% (hasil pengurangan kami) |
Bisnis melaporkan investor non-bank totalnya Rp3.636,53 triliun, atau 54,92%. Total SBN (sekitar Rp6.620 triliun) kami hitung mundur dari angka bank dan porsinya yang 21,11%. Dari situ kami hitung porsi yang lain. Baris terakhir adalah sisa hitungan. Kami menduga isinya kebanyakan Bank Indonesia, tapi laporan yang kami lihat tidak menyebut angkanya. Anggap seluruh tabel ini sebagai perkiraan.
Ada juga ringkasan Juni 2026 yang menyebut porsi bank berbeda. Dua angka bank itu tidak cocok, jadi kami hanya pakai yang Januari.
Ini kecenderungan umum, bukan aturan. Gunanya untuk memahami kenapa komposisi itu penting.
Saat dana asing menjual SBN, mereka menerima rupiah. Supaya uangnya bisa dibawa pulang, rupiah itu dijual dan ditukar ke dolar. Makin banyak rupiah yang dijual, makin tertekan nilainya.
Kalau asing pegang 39% pasar, penjualan semacam itu bisa sangat besar. Kalau asing hanya pegang 13%, kepanikan yang sama punya "tenaga" lebih kecil. Sebagian besar pasar dipegang pemain lokal yang cenderung lebih tenang.
Itu logikanya, dan sejalan dengan cara media pasar modal di Indonesia menggambarkan masa pasca-2020: investor lokal masuk saat asing keluar. Tapi ini argumen, bukan jaminan. Guncangan global yang cukup besar tetap bisa menekan rupiah, dan BI harus turun tangan menjaga pasar di masa-masa itu.
Ada harganya juga. Pasar dengan lebih sedikit pembeli asing berarti lebih sedikit pembeli secara keseluruhan. Pemerintah mungkin harus menawarkan yield lebih tinggi untuk menarik dana lokal. Hubungannya kami bahas di artikel penerbitan SBN dan yield.
Untuk gambaran arus uang masuk dan keluar Indonesia yang lebih luas, baca beda investasi portofolio dan FDI.
Mungkin, pelan-pelan. Angka Rp917,71 triliun per 4 September 2026 adalah yang tertinggi dalam 12 bulan, menurut Kontan. Satu ringkasan pencarian juga menyebut arus masuk asing sekitar US$9 miliar ke SBN rupiah dan SRBI (surat berharga BI) sampai Juni 2026. Angka itu belum kami cek ke sumber aslinya.
Kenaikan itu belum mengubah gambaran besarnya. Asing masih memegang sedikit lebih dari seperdelapan SBN.
Efeknya bisa kamu lihat di halaman makro NetWort. Taruh kurs USD/IDR di samping yield SBN 10 tahun, lalu lihat apa yang terjadi pada keduanya saat pasar global terakhir kali panik. Itu cerita kepemilikan asing dalam dua garis.