Rugi Rp1 Juta Lebih Sakit daripada Untung Rp1 Juta Lebih Enak. Itu Namanya Loss Aversion
Baca 4 menit
Baca 4 menit
Ada yang menawarimu lempar koin. Kalau muncul gambar, kamu dapat Rp2 juta. Kalau muncul angka, kamu kehilangan Rp1 juta.
Rata-rata kamu untung Rp500.000 tiap lemparan. Tapi banyak orang tetap bilang tidak.
Kecenderungan itu namanya loss aversion. Artinya, rugi terasa lebih sakit daripada untung dengan jumlah yang sama. Di artikel ini kamu bakal tahu asal-usulnya, apa kata riset (termasuk bantahannya), dan satu cara mengecek apakah loss aversion ikut mengatur keputusan investasimu.
Loss aversion adalah kondisi saat kehilangan Rp1 juta terasa lebih menyakitkan daripada kesenangan dapat Rp1 juta.
Gagasan ini berasal dari prospect theory, model tentang cara orang benar-benar memilih saat uangnya berisiko. Pembuatnya Daniel Kahneman dan Amos Tversky. Versi 1992-nya, "Advances in Prospect Theory", terbit di Journal of Risk and Uncertainty.
Di makalah itu, sakitnya rugi kira-kira 2,25 kali senangnya untung yang sama besar. Angka ini disebut lambda. Dengan angka itu, lempar koin tadi jadi lain. Rugi Rp1 juta "terasa seperti" Rp2,25 juta. Menang Rp2 juta tidak cukup menutupnya, jadi tawaran itu terasa jelek padahal hitungannya bagus. (Parameter makalah 1992 dari halaman kalkulator dan ringkasan; makalah aslinya tidak saya buka.)
Tidak semua ahli sepakat soal seberapa kuat efeknya.
Tahun 2018, David Gal dan Derek Rucker menerbitkan "The Loss of Loss Aversion" di Journal of Consumer Psychology. Mereka menelaah bukti dan menyimpulkan bahwa bukti itu tidak menunjukkan rugi secara umum lebih berbobot daripada untung. Menurut mereka, efeknya bergantung pada situasi. (Daftar makalah di SSRN; saya hanya membaca abstrak dan ringkasan.)
Peneliti lain membalas bahwa efeknya muncul di banyak situasi, dan yang dilebih-lebihkan adalah angka "dua kali lipat".
Jadi bacaan yang aman begini. Dalam pilihan yang berisiko, rugi sering terasa lebih sakit daripada untung. Seberapa sakit, itu beda-beda antar orang dan antar situasi.
Loss aversion tidak berhenti di laboratorium. Efeknya bisa menggeser keputusan nyata.
Yang terakhir punya nama sendiri: myopic loss aversion. "Myopic" artinya rabun jauh. Shlomo Benartzi dan Richard Thaler berargumen tahun 1995 bahwa investor yang mengecek portofolio sekitar setahun sekali dan tidak suka rugi bisa membantu menjelaskan kenapa saham memberi return lebih tinggi daripada aset aman. (Makalah kerja NBER) Studi berikutnya menemukan hasilnya bergantung pada negara dan periode, jadi pegang gagasan ini dengan longgar. (Ringkasan studi replikasi)
Ini hitungan NetWort dengan angka rekaan.
Kita pakai lagi lempar koin tadi. Menang Rp2 juta kalau gambar, kalah Rp1 juta kalau angka.
| Hasil | Peluang | Uang |
|---|---|---|
| Gambar | 50% | +Rp2.000.000 |
| Angka | 50% | -Rp1.000.000 |
| Rata-rata | +Rp500.000 |
Sekarang pakai bobot rugi 2,25. Hasil "angka" terasa seperti -Rp2.250.000.
Rata-rata yang terasa jadi (0,5 × 2.000.000) + (0,5 × -2.250.000) = -Rp125.000. Tawaran bagus berubah jadi terasa jelek, padahal uangnya sama.
Hal serupa bisa terjadi pada saham yang sedang turun. Kenaikan 25% mungkin terasa "tidak sepadan dengan risikonya", sementara turun 25% terasa tak tertahankan, meski peluangnya terlihat adil.
Buka Dashboard NetWort, lihat skor Portfolio Health dan posisi yang paling dalam turunnya. Untuk tiap posisi, tanya: "Kalau aku pegang kas, apakah aku beli ini hari ini?" Jawabanmu menunjukkan apakah kamu menahannya karena alasan yang jelas atau agar rugi belum terasa nyata.