Jebakan Sunk Cost: Kenapa Kamu Tahan Saham Cuma Karena Sudah Terlanjur Rugi
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Kamu beli saham di Rp2.000. Sekarang harganya Rp1.400. Kamu bilang ke diri sendiri: "Sudah rugi segini banyak, masa dijual sekarang."
Rasanya seperti setia pada rencana. Padahal itu kesalahan berpikir yang sudah lama dikenal, namanya sunk cost fallacy. Sunk cost adalah uang, waktu, atau tenaga yang sudah keluar dan tidak bisa kembali. Kesalahannya: membiarkan uang yang sudah keluar itu menentukan langkahmu berikutnya.
Di artikel ini kamu bakal tahu cara kerja sunk cost fallacy di saham, apa kata riset, dan satu pertanyaan yang bisa memotongnya.
Idenya sederhana. Uang yang sudah rugi tidak akan kembali hanya karena kamu menunggu. Uang itu juga tidak akan kembali hanya karena kamu menolak jual.
Satu-satunya yang masih bisa kamu pilih adalah apa yang terjadi mulai hari ini. Jadi keputusan yang jernih melihat ke depan: "Dengan yang aku tahu sekarang, apakah ini tempat terbaik untuk uangku?"
Sunk cost fallacy membaliknya. Ia bertanya ke belakang: "Bagaimana caranya aku tidak perlu mengaku bahwa pilihan pertamaku salah?"
Ada dua studi klasik yang layak kamu tahu. Keduanya hanya saya lihat lewat ringkasan dan abstrak hasil pencarian, makalah lengkapnya tidak saya buka.
Tiket teater. Pada 1985, Hal Arkes dan Catherine Blumer menerbitkan "The Psychology of Sunk Cost" di Organizational Behavior and Human Decision Processes. Di teater Ohio University, pembeli tiket musiman diberi harga berbeda secara acak. Ringkasan studinya menyebut harga $15 (penuh), $13, dan $8. Yang membayar lebih mahal datang ke lebih banyak pertunjukan selama enam bulan berikutnya. Padahal setelah tiket terbeli, semua pemegang tiket punya hak yang sama untuk datang, jadi harga yang dibayar seharusnya tidak mengubah siapa yang hadir. Penulisnya mengaitkannya dengan keinginan untuk tidak terlihat boros. (Ringkasan studi lewat pencarian)
Keputusan bisnis. Pada 1976, Barry Staw menerbitkan "Knee-Deep in the Big Muddy" di rumpun jurnal yang sama (Organizational Behavior and Human Performance). Dalam permainan peran dengan 240 mahasiswa bisnis, orang menambah uang paling banyak ke pilihan lamanya saat mereka merasa bertanggung jawab atas hasil buruknya. Ini disebut escalation of commitment: menambah taruhan pada pilihan yang merugi karena sudah terlanjur menaruh banyak. (Gambaran makalah 1976)
Kedua studi memakai kelompok kecil dalam situasi buatan. Hasilnya menunjukkan pola cara orang berpikir. Hasil itu tidak meramalkan apa yang akan kamu lakukan dengan uangmu sendiri.
Jebakannya bersembunyi di kalimat yang terdengar masuk akal.
Ini dekat dengan disposition effect, saat investor cepat menjual saham untung dan menahan saham rugi terlalu lama, dan dengan loss aversion, saat rugi terasa lebih sakit daripada untung. Sunk cost menambah satu dorongan lagi: keinginan membenarkan uang yang sudah keluar.
Ini hitungan ala NetWort dengan angka rekaan.
Dina membeli 100 lot saham di Rp2.000 per lembar. Satu lot berisi 100 lembar, jadi ia punya 10.000 lembar.
| Per lembar | Total | |
|---|---|---|
| Beli | Rp2.000 | Rp20.000.000 |
| Hari ini | Rp1.400 | Rp14.000.000 |
| Rugi di atas kertas | -Rp600 | -Rp6.000.000 |
Dina berpikir: "Kalau jual, rugi Rp6 juta jadi permanen. Aku tunggu sampai Rp2.000."
Sekarang lihat tanpa sejarahnya. Bayangkan ia memegang kas Rp14 juta. Apakah ia mau membeli saham ini hari ini, di Rp1.400, dengan alasan yang ia punya sekarang? Kalau ya, menahan itu wajar, dan itu pilihan yang baru. Kalau tidak, satu-satunya yang menahannya adalah rugi Rp6 juta yang sudah terjadi.
Rp6 juta itu sunk cost. Jumlahnya sama saja, mau ia jual atau tetap pegang.
Tanyakan ini: "Kalau aku belum punya aset ini, apakah aku mau membelinya hari ini di harga ini, dengan alasan ini?"
Lalu pakai jawabannya.
Perhatikan bahwa pertanyaan itu tidak menyebut harga belimu. Memang itu intinya.
Cek juga apa yang berubah. Apakah kinerja perusahaan memburuk? Apakah cerita yang membuatmu membeli sudah berakhir? Kalau fakta sama dan hanya harga yang turun, situasinya beda dari alasan yang sudah patah.
Buka Dashboard NetWort, lihat skor Portfolio Health dan posisi yang paling dalam turunnya. Untuk tiap posisi, ajukan pertanyaan di atas. Jawabanmu menunjukkan mana yang kamu pegang karena alasan, dan mana yang kamu pegang hanya karena sudah terlanjur rugi.