Disposition Effect: Kenapa Kita Cepat Jual Saham Untung dan Nahan Saham Rugi Kelamaan
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Dua saham di portofoliomu. Satu naik 30%, satunya turun 30%. Kamu butuh uang tunai. Mana yang kamu jual?
Kebanyakan orang jual yang untung. Rasanya lega, cuan sudah di tangan. Jual yang rugi rasanya seperti mengaku salah.
Kebiasaan ini ada namanya: disposition effect. Artinya kecenderungan jual saham yang untung terlalu cepat, dan nahan saham yang rugi terlalu lama. Di artikel ini kamu bakal lihat apa kata penelitian, berapa kira-kira ongkosnya, dan satu cara ngecek portofoliomu sendiri.
Disposition effect adalah pola cara orang trading. Saham yang sudah naik lebih gampang dijual daripada saham yang sudah turun.
Istilah ini dipopulerkan Hersh Shefrin dan Meir Statman lewat makalah tahun 1985 di Journal of Finance. Judulnya sudah menjelaskan semuanya: "The Disposition to Sell Winners Too Early and Ride Losers Too Long". Mereka mengaitkannya dengan prospect theory, yaitu gagasan bahwa kerugian terasa lebih sakit daripada untung dengan nilai yang sama. (Disposition effect, Wikipedia; makalah aslinya tidak saya buka, jadi ini ringkasan sekunder.)
Ada dua perasaan yang bekerja:
Shefrin sendiri pernah menjelaskannya begitu di sebuah wawancara: investor nahan saham rugi supaya nggak menyesal, dan jual saham untung supaya merasa bangga. (University of Manitoba, hanya dari ringkasan pencarian.)
Teori saja belum cukup. Apa investor sungguhan memang begitu?
Ekonom Terrance Odean mengeceknya di makalah 1998, "Are Investors Reluctant to Realize Their Losses?" Ia memakai catatan transaksi lengkap sekitar 10.000 akun di sebuah broker diskon besar di Amerika Serikat, periode 1987 sampai 1993.
Hasil utamanya: di luar bulan Desember, investor menjual sekitar 14,8% posisi yang untung, tapi cuma sekitar 9,8% posisi yang rugi. Jadi kira-kira 1,5 kali lebih sering menjual yang untung. (Ringkasan Wikipedia atas makalah itu; makalah asli tidak saya buka, jadi angka persisnya dari sumber kedua.)
Desember beda. Polanya terbalik, kemungkinan karena orang menjual saham rugi untuk menurunkan pajak di AS. Ringkasan yang sama menyebut 10,8% posisi untung dan 12,8% posisi rugi dijual di bulan Desember.
Bagian ini yang paling dekat ke dompetmu.
Kalau saham yang untung memang saham yang bagus, menjualnya terlalu cepat berarti kamu kehilangan potensi. Odean juga mengecek ini. Beberapa sumber sekunder melaporkan bahwa saham untung yang dijual investor kemudian mengungguli saham rugi yang mereka tahan sekitar 3,4 poin persentase dalam setahun berikutnya. (Evidence Investor dan ringkasan lain; angka 3,4% tidak bisa saya pastikan dari makalah aslinya, jadi baca saja sebagai "kira-kira tiga poin", bukan angka pasti.)
Ini bukan berarti setiap saham untung bakal terus naik. Artinya, rata-rata, pola ini tidak membayar.
Ini hitungan NetWort dengan angka rekaan, bukan saham sungguhan.
Kamu punya dua saham, masing-masing Rp10 juta, jadi total Rp20 juta.
| Saham | Modal | Nilai sekarang | Perubahan |
|---|---|---|---|
| A | Rp10 juta | Rp13 juta | +30% |
| B | Rp10 juta | Rp7 juta | -30% |
Kamu butuh uang tunai Rp5 juta. Jual A terasa wajar. B kamu tahan sambil bilang, "nanti aku jual kalau sudah balik ke Rp10 juta".
Sekarang lihat apa yang dibutuhkan B. Saham yang turun 30% harus naik sekitar 43% buat balik modal (dari Rp7 juta ke Rp10 juta). Artikel kami soal hitungan balik modal setelah rugi menjelaskan kenapa tanjakannya selalu lebih curam dari turunannya.
Lalu pakai rata-rata riset tadi sebagai ilustrasi. Kalau saham yang kamu jual mengungguli saham yang kamu tahan 3,4 poin dalam setahun, selisih pada Rp13 juta itu sekitar Rp442.000. Itu baru satu transaksi dan satu tahun. Ulangi di banyak transaksi dan banyak tahun, jumlahnya terus menumpuk.
Sebagian. Penelitian di Bursa Efek Indonesia (BEI) hasilnya beragam.
Satu studi atas data BEI 2004 sampai 2017 menemukan bahwa stock split melemahkan disposition effect pada investor individu. Studi lain tidak menemukan disposition effect pada saham LQ45 saat krisis 2013. (Review of Behavioral Finance, 2021 dan jurnal Universitas Kristen Petra; keduanya hanya dibaca abstraknya.) Jadi efeknya tidak pasti muncul di setiap pasar dan periode. Anggap sebagai kecenderungan yang perlu diwaspadai, bukan hukum.
Satu pemicu khas AS tidak berlaku di sini. Pola terbalik di bulan Desember pada data Odean kemungkinan besar datang dari pajak. Di BEI, PPh final penjualan saham adalah 0,1% dari nilai transaksi jual, dan dikenakan baik kamu untung maupun rugi. (Penjelasan IKPI soal pajak saham, hanya ringkasan; cek situs DJP untuk aturan terbaru.) Penjelasan lengkapnya ada di artikel pajak final jual saham BEI. Jadi pajak bukan alasan yang bagus buat nahan saham rugi.
Ini bukan berarti kamu harus jual semua saham rugi atau tahan semua saham untung. Kadang jual saham untung memang tepat, misalnya kalau porsinya sudah terlalu besar di portofolio. Intinya: ambil keputusan dengan sadar.
Buka Dashboard NetWort, lihat skor Portfolio Health dan posisi terbesarmu. Urutkan berdasarkan untung dan rugi. Tanya dirimu: apa kamu nahan posisi terburuk karena ada alasan, atau cuma karena menjual berarti mengakui rugi?