Premi Asuransi Kesehatan Naik Seiring Usia dan Inflasi Medis. Ini Dampaknya ke Polis 20 Tahun
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Kamu beli polis kesehatan di usia 35. Premi Rp5.000.000 setahun. Rasanya wajar. Lalu surat perpanjangan datang, dan angkanya lebih tinggi. Tahun depan naik lagi.
Premi asuransi kesehatan naik bukan karena ada yang salah. Ada dua tekanan yang bekerja bersamaan: kamu bertambah tua, dan biaya medis naik lebih cepat dari harga barang biasa. Di artikel ini kita lihat cara kerja keduanya, lalu kita hitung satu premi selama 20 tahun supaya besarnya terasa.
Kebanyakan polis kesehatan individu diperpanjang tiap tahun. Di situ perusahaan asuransi bisa menghitung ulang harganya. Ada dua hal yang menentukan harga baru.
1. Usia. Rata-rata, orang yang lebih tua lebih sering klaim. Karena itu asuransi membagi nasabah ke dalam kelompok usia, misalnya 31 sampai 35 tahun, 36 sampai 40 tahun, dan seterusnya. Saat kamu pindah ke kelompok berikutnya, premimu naik satu tangga. Besar tangganya beda-beda tiap perusahaan dan produk. Minta tabel premi per usia lengkap sebelum membeli.
2. Inflasi medis. Inflasi medis artinya kenaikan biaya rumah sakit, obat, dan perawatan tiap tahun. Kalau biaya rawat inap naik, klaim yang dibayar asuransi ikut naik, dan nanti dibebankan ke premi.
Keduanya menumpuk. Premimu bisa naik karena inflasi medis, bahkan di tahun saat kelompok usiamu tidak berubah.
Tinggi, dan angkanya beragam antar sumber. Data berikut diambil pada 9 Oktober 2026 dari pemberitaan.
Tiap lembaga mengukurnya dengan cara berbeda, jadi anggap saja kisarannya sekitar 14% sampai 18%. Bandingkan dengan inflasi umum dan BI rate di halaman makro NetWort.
OJK juga menyebut perusahaan asuransi merespons dengan beberapa cara: menaikkan premi, mengubah manfaat, memperketat seleksi risiko, dan pada beberapa kasus menghentikan penjualan produk tertentu (InfoBank News).
Ini contoh hitungan dari kami sendiri, bukan tawaran dari asuransi mana pun.
| Tahun polis | Premi dengan kenaikan 8% | Premi dengan kenaikan 14,4% |
|---|---|---|
| 1 | Rp5.000.000 | Rp5.000.000 |
| 6 | Rp7.346.640 | Rp9.797.158 |
| 11 | Rp10.794.625 | Rp19.196.862 |
| 16 | Rp15.860.846 | Rp37.614.940 |
| 20 | Rp21.578.505 | Rp64.426.490 |
Jumlahkan premi 20 tahun:
Perlu jujur soal batasnya. Menahan 14,4% selama 20 tahun adalah uji tekanan, bukan ramalan. Inflasi medis bisa melambat. Tapi pelajarannya tetap: kenaikan kecil tiap tahun berubah jadi angka besar.
Kenaikan karena usia datang di atasnya. Sebagai ilustrasi, anggap premimu juga naik 25% setiap pindah ke kelompok usia lima tahunan berikutnya (angka 25% ini karangan untuk contoh, bukan tarif asuransi mana pun).
Dengan inflasi medis 8% plus tangga usia itu, total 20 tahun naik dari Rp228,8 juta jadi sekitar Rp363,9 juta. Dengan 14,4%, lonjakannya jauh lebih besar.
Tangga usia yang asli beda tiap perusahaan dan produk. Karena itu tabel di polismu sendiri lebih penting daripada angka rata-rata mana pun.
Inilah pertanyaan intinya. Premi paling murah saat kamu muda dan sehat, padahal saat itu kamu paling merasa tidak butuh. Premi paling mahal saat usia lanjut, justru ketika berhenti bayar paling merugikan.
Perusahaan asuransi juga bisa menolak memperpanjang atau berhenti menjual suatu produk. Sekitar lima sampai enam perusahaan asuransi umum sudah berhenti menjual produk kesehatan pada awal 2026, menurut Asia Insurance Review. OJK menyebut rasio klaim di atas 90% tidak berkelanjutan. Jadi tekanan harga memang nyata di pasar sekarang.
Kamu tidak perlu jadi ahli. Tanyakan hal berikut ke agen atau perusahaan asuransi, dan minta jawabannya tertulis:
Ingat juga yang sudah kamu punya. BPJS Kesehatan adalah lapisan dasar, dan asuransi swasta menutup celahnya. Asuransi jiwa soal lain, kita bahas di panduan uang pertanggungan term life.
Buka Dashboard NetWort dan lihat return tahunan portofoliomu. Bandingkan dengan angka di tabel tadi. Kalau premimu bisa naik lebih cepat dari tabunganmu tumbuh, siapkan dana cadangan lebih besar sejak sekarang, dan tinjau lagi tiap tahun.