Makin Sering Trading, Makin Kecil Return? Hitung Biaya Saham di BEI
Baca 4 menit
Baca 4 menit
Senin kamu beli saham. Jumat naik 0,3%. Kamu jual dan merasa pintar.
Padahal kamu rugi di transaksi itu. Fee-nya lebih besar dari untungnya.
Jadi, terlalu sering trading itu bikin return kecil atau tidak? Di BEI, fee jadi bagian dari jawabannya. Tulisan ini mengubah fee itu jadi rupiah, supaya kamu lihat berapa biaya trading setahun sekali, sebulan sekali, atau seminggu sekali.
Tiap kali kamu beli atau jual saham, ada beberapa biaya kecil yang dipotong. Angkanya terlihat mungil. Tapi kalau diulang terus, jadi besar.
Panduan fee dari situs edukasi sekuritas (Cermati, Ajaib) menyebut pola yang umum:
Tiap sekuritas punya tarif sendiri dan bisa berubah. Anggap ini angka umum, lalu cek halaman fee di sekuritasmu. Saya tidak menemukan tabel resmi dari BEI atau KSEI, jadi angka ini berasal dari halaman edukasi sekuritas, bukan dari bursa.
Satu round trip artinya satu kali beli dan satu kali jual saham yang sama.
Jumlahkan angka umum tadi: 0,15% beli, 0,25% jual, 0,1% pajak. Hasilnya sekitar 0,5% per round trip, belum termasuk levy kecil.
Artinya sederhana: harga harus naik sekitar 0,5% dulu baru kamu balik modal. Kalau cuma naik 0,3% seperti cerita di atas, kamu rugi.
Fee bukan satu-satunya biaya. Selisih harga beli dan jual, atau bid-ask spread, bikin biaya makin besar di saham yang sepi. Di sini spread sengaja tidak dihitung supaya hitungannya bersih.
Ini hitungan NetWort dengan angka asumsi. Bukan data investor sungguhan.
Bayangkan uang Rp100 juta. Semua strategi untung 12% per tahun sebelum biaya. Bedanya cuma seberapa sering kamu jual semua lalu beli lagi. Tiap round trip memakan 0,5% dari portofolio.
| Kebiasaan | Round trip per tahun | Biaya per tahun | Nilai setelah 10 tahun |
|---|---|---|---|
| Beli dan tahan | 0 | tidak dihitung | sekitar Rp311 juta |
| Trading setahun sekali | 1 | 0,5% | sekitar Rp295 juta |
| Trading tiap kuartal | 4 | sekitar 2% | sekitar Rp254 juta |
| Trading tiap bulan | 12 | sekitar 5,8% | sekitar Rp170 juta |
| Trading tiap minggu | 52 | sekitar 22,9% | sekitar Rp23 juta |
Saham sama. Untung 12% sama. Yang beda hanya seberapa sering fee kena.
Yang trading tiap bulan berakhir sekitar Rp141 juta lebih sedikit dari yang beli dan tahan. Yang tiap minggu kehilangan hampir semua modal awal. Jarang ada orang yang memutar seluruh portofolio tiap minggu, jadi baca baris terakhir sebagai peringatan arah, bukan ramalan.
Hitungan di atas hanya memakai fee. Riset pada investor sungguhan menunjukkan arah yang sama.
Brad Barber dan Terrance Odean meneliti 66.465 rumah tangga di Amerika Serikat pada 1991 sampai 1996. Kelompok yang paling sering trading untung 11,4% per tahun. Pasarnya untung 17,9%. (Abstrak Journal of Finance, lewat ringkasan pencarian; makalah penuhnya tidak saya buka.)
Biaya hanya satu alasan. Para penulis juga mengaitkan trading berlebihan dengan rasa percaya diri yang kelewat besar. Baca lebih lanjut di tulisan kami soal overconfidence bias.
Trading lebih sering bukan dosa. Ada investor yang aktif dan tetap baik hasilnya. Ada juga alasan nyata untuk jual: target dana sudah dekat, kondisi perusahaan berubah, atau rebalancing.
Masalahnya muncul kalau transaksi dipicu bosan, takut, atau euforia. Tes sederhananya: tulis alasan kamu jual. Kalau alasannya "harganya gerak sedikit", fee sudah menentukan hasilnya.
Untuk melihat bagaimana biaya menumpuk di seluruh portofolio, baca biaya turnover ratio portofolio.
Kalau ada jawaban yang terasa lemah, tunggu satu hari.
Buka Dashboard NetWort dan lihat total return di samping riwayat transaksimu. Hitung transaksi 12 bulan terakhir, lalu kalikan dengan fee kamu. Angkanya bisa bikin kaget, dan itu alasan terbaik untuk lebih jarang trading, atau bukti bahwa kebiasaanmu sudah baik.