Time in the Market vs Timing the Market: Ketinggalan 10 Hari Terbaik Bisa Motong Uangmu Lebih dari Separuh
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Coba bayangin kamu masukin $10.000 (sekitar Rp163 jutaan dengan kurs sekarang) ke indeks S&P 500 dua puluh tahun lalu, terus nggak pernah kamu utak-atik lagi. Dari data terbaru yang ada, duit itu sekarang udah jadi sekitar $75.000, setara return tahunan 10,60%. Sekarang bayangin skenario kedua: kamu masukin duit yang sama, tapi pas pasar lagi jatuh kamu panik terus jual, dan pas kamu ngerasa aman lagi buat masuk lagi, ternyata kamu udah ketinggalan sepuluh hari terbaik pasar dari total sekitar 5.000 hari perdagangan selama 20 tahun itu. Hasilnya, $75.000 tadi susut jadi cuma sekitar $34.000. Ini inti dari perdebatan time in the market vs timing the market: sepuluh hari doang, tapi nentuin apakah kamu tetap pegang lebih dari separuh uangmu atau enggak.
Angka ini bukan klaim asal comot dari internet. Sumbernya "Guide to the Markets" dari J.P. Morgan Asset Management, yang ngelacak apa yang kejadian ke investasi $10.000 di S&P 500 kalau kamu ketinggalan hari-hari terbaik pasar dalam 20 tahun terakhir, pakai data Morningstar Direct soal return harian S&P 500, per 28 Februari 2025. Ini return tahunan yang dipublikasikan buat tiap skenario, plus hasil sebenarnya kalau $10.000 itu dibungakan berbunga (compounding) selama 20 tahun:
| Skenario | Return tahunan (20 tahun) | $10.000 jadi |
|---|---|---|
| Tetap full invest, nggak ada hari kelewatan | 10,60% | ~$75.000 |
| Ketinggalan 10 hari terbaik | 6,37% | ~$34.400 |
| Ketinggalan 20 hari terbaik | 3,69% | ~$20.600 |
| Ketinggalan 30 hari terbaik | 1,53% | ~$13.500 |
Lihat selisih baris pertama dan kedua. Kalau kamu tetap full invest, $10.000 tadi jadi untung $65.000. Tapi cuma ketinggalan 10 hari, dari sekitar 5.000 hari, untungmu susut jadi sekitar $24.400 doang, kurang dari 40% dari untung aslinya. Kalau sampai ketinggalan 30 hari, hasilmu nyaris sama kayak naruh duit di deposito bank selama 20 tahun, padahal kamu udah nanggung risiko aset paling volatil di perbandingan ini.
Alasan kenapa ini susah dihindari, bahkan kalau kamu sengaja coba hindari sekalipun, karena hari terbaik dan hari terburuk pasar itu sering nempel berdekatan. Contoh paling jelas yang beneran kejadian ada di Maret 2020. Pada 12 Maret 2020, S&P 500 anjlok 9,5%, salah satu hari terburuk sepanjang sejarah indeks ini. Eh, cuma sehari kemudian, 13 Maret 2020, indeksnya malah naik 9,3%, salah satu hari terbaik dalam sejarahnya. Beberapa hari setelah itu, pada 16 Maret 2020, indeksnya jatuh lagi 12%, terus sekitar seminggu kemudian, pada 24 Maret 2020, naik lagi 9,4%.
Siapa pun yang jual setelah anjlok 12 Maret atau 16 Maret, reaksi yang sebenarnya wajar banget, harus balik masuk pasar dalam hitungan sehari atau seminggu buat sempat kena reboundnya. Kenyataannya, kebanyakan orang yang jual pas market crash nggak balik secepat itu. Mereka nunggu sampai suasana kerasa aman lagi, dan pas itu kejadian, hari-hari terbaiknya biasanya udah keburu lewat.
Data soal ketinggalan hari terbaik ini bukan berarti jual itu selalu salah. Intinya, jual terus balik masuk lagi tepat di dua momen yang pas itu jauh lebih susah dari yang kelihatannya. Buat ngalahin strategi tetap full invest, seorang market timer harus bener dua kali: bener soal kapan harus keluar, dan bener soal kapan harus masuk lagi, dan dua-duanya harus pas banget deket sama hari terburuk dan terbaik yang sesungguhnya. Bener di keputusan pertama tapi telat seminggu di keputusan kedua aja udah cukup bikin kamu masuk ke baris "ketinggalan 10 hari terbaik" di tabel tadi, bukan baris "tetap full invest".
Ini juga kenapa tes ketinggalan hari terbaik ini sebenarnya bukan soal nebak crash bakal kejadian. Banyak orang yang bener nebak crash 2020 bakal datang. Tapi jauh lebih sedikit yang bener balik masuk pasar pas 13 Maret.
Mekanisme yang sama juga kejadian di IHSG, bahkan bisa dibilang lebih parah, karena pergerakan indeks kita lebih liar dibanding S&P 500. Analisis NetWort soal sequence of returns risk mencatat bahwa IHSG anjlok sekitar 50,6% sepanjang 2008, terus tahun berikutnya langsung naik sekitar 87%, salah satu rebound satu tahun paling tajam dalam sejarah indeks ini. Investor yang jual portofolio berbasis IHSG-nya di tengah 2008 dan nunggu sampai beritanya kerasa lebih adem sebelum balik masuk, punya peluang besar buat ketinggalan sebagian besar recovery 2009 itu, dengan alasan yang sama kayak contoh S&P 500 di atas: recovery-nya sering datang justru pas keadaan masih kerasa nggak pasti, bukan setelah semuanya jelas.
Buat portofolio global, data S&P 500 di atas tetap relevan langsung. Indeksnya sendiri bisa kamu lacak di NetWort lewat GSPC, dan sekarang investor Indonesia juga bisa akses lewat reksa dana atau ETF kayak SPDR S&P 500 ETF Trust, yang isinya kurang lebih 500 perusahaan yang sama dengan bobot yang sama kayak indeksnya.
Nggak ada yang bisa tau dari sekarang, sepuluh hari mana dari 20 tahun ke depan yang bakal paling nentuin. Justru itu inti dari data ini. Yang bisa beneran kamu cek adalah udah berapa lama duitmu sendiri nginep di pasar, dan berapa return aslinya berdasarkan tanggal persis kamu masukin dan tarik dananya. Dashboard NetWort ngitung IRR portofolio kamu, yaitu return tahunan berbobot uang (money-weighted) yang beneran kejadian, bukan angka hipotetis, jadi kamu bisa lihat posisimu sekarang sebelum mutusin apakah keluar sementara dari pasar itu sepadan sama risiko yang dijelasin data di atas.