Kata Brosur Return 8% Setahun, Kok Saldomu Tidak Segitu? Cara Hitung CAGR Sendiri
Baca 4 menit
Baca 4 menit
Kamu taruh Rp100 juta di sebuah investasi. Lima tahun kemudian nilainya Rp134,55 juta. Itu hasil yang bagus atau biasa saja?
Dari dua angka itu saja, kamu belum bisa menilai. Kamu butuh satu angka yang bilang "rata-rata tumbuh sekian persen per tahun". Angka itu namanya CAGR.
CAGR singkatan dari compound annual growth rate, atau laju pertumbuhan tahunan majemuk. Di artikel ini kamu belajar cara hitung CAGR dalam semenit, kenapa CAGR lebih jujur dari rata-rata biasa, dan satu situasi saat CAGR memberi jawaban yang salah.
CAGR adalah angka pertumbuhan per tahun yang tetap, yang akan membawa uang awalmu ke uang akhirmu.
Di dunia nyata, return tidak pernah tetap. Tahun ini naik, tahun depan turun. CAGR meratakan semua itu jadi satu angka per tahun, seolah uangmu tumbuh dengan persentase sama setiap tahun.
Kata "majemuk" itu penting. Untung tiap tahun ikut menambah modal, lalu tahun berikutnya untung dihitung dari modal yang lebih besar. Jadi CAGR bukan total untung dibagi jumlah tahun.
Kamu hanya butuh tiga angka: nilai awal, nilai akhir, dan jumlah tahun.
CAGR = (nilai akhir ÷ nilai awal) ^ (1 ÷ jumlah tahun) − 1
Tanda ^ artinya "pangkat". Di kalkulator HP, pakai tombol x^y. Di spreadsheet, ketik =(akhir/awal)^(1/tahun)-1.
Kita pakai contoh Rp100 juta tadi. Ini hitungan NetWort dengan angka rekaan, bukan reksa dana sungguhan.
CAGR-nya sekitar 6,1% per tahun.
Cek dengan hitung maju. Rp100 juta tumbuh 6,11% selama lima tahun jadi sekitar Rp134,6 juta. Cocok.
Sekarang bagian yang berguna. Misalkan lima tahun itu berjalan begini:
| Tahun | Return | Saldo akhir tahun |
|---|---|---|
| 1 | +30% | Rp130,00 juta |
| 2 | -20% | Rp104,00 juta |
| 3 | +25% | Rp130,00 juta |
| 4 | -10% | Rp117,00 juta |
| 5 | +15% | Rp134,55 juta |
Jumlahkan kelima return lalu bagi lima: (30 − 20 + 25 − 10 + 15) ÷ 5 = 8%. Ini rata-rata aritmetika, yaitu rata-rata biasa "jumlahkan lalu bagi".
Kalau uangmu benar-benar tumbuh 8% tiap tahun, Rp100 juta akan jadi sekitar Rp146,9 juta. Kenyataannya Rp134,55 juta. Rata-rata itu menjanjikan lebih banyak dari yang kamu terima.
CAGR bilang 6,1%, dan itu cocok dengan saldomu. Alasan lengkap kenapa dua angka ini beda ada di artikel kami tentang rata-rata aritmetika vs geometrik. CAGR adalah versi geometriknya, ditulis sebagai angka per tahun.
Kalau brosur menampilkan "rata-rata return", tanyakan rata-rata yang mana. Hanya angka yang dimajemukkan yang menunjukkan apa yang terjadi pada uangmu.
Pakai tanggal sungguhan, jangan tahun yang dibulatkan. Kalau kamu mulai 15 Maret 2021 dan sekarang 15 September 2026, itu 5,5 tahun, bukan 5 atau 6.
Pakai jenis nilai yang sama di kedua ujung. Bandingkan saldo dengan saldo, setelah biaya dan pajak kalau kamu mau hasil bersihmu. Kalau harga dicampur dengan saldo yang sudah termasuk dividen, hasilnya miring.
CAGR mengira kamu menaruh uang sekali di awal lalu membiarkannya. Kebanyakan orang tidak begitu. Mereka menyetor tiap bulan.
Begini salahnya. Contoh rekaan lain:
Masukkan awal dan akhir saja: (230 ÷ 100) ^ (1 ÷ 3) − 1 = 0,32. CAGR bilang 32% per tahun.
Itu ngawur. Sebagian besar kenaikan itu hanya setoranmu sendiri. Rumus menghitung Rp100 juta tambahanmu sebagai untung.
Solusinya: pakai metode yang memperhitungkan waktu setiap setoran. Dua yang umum adalah time-weighted return dan money-weighted return (sering disebut XIRR). Panduan kami menjelaskan beda time-weighted dan money-weighted return.
Pegangan praktis: pakai CAGR untuk satu kali setor atau untuk membandingkan dua aset di periode yang sama. Pakai XIRR kalau kamu rutin menyetor atau menarik dana.
CAGR juga menyembunyikan naik turunnya. Dua investasi dengan CAGR sama bisa terasa sangat beda selama perjalanan. Jangan anggap CAGR janji pertumbuhan yang mulus.
Buka Dashboard NetWort. Lihat nilai total portofoliomu dari waktu ke waktu, lalu pakai rumus di atas pada nilai awal dan akhirmu. Kalau kamu rutin menambah dana, bandingkan hasilnya dengan XIRR-mu dan lihat seberapa jauh bedanya.