Kekayaan Alexander Ramlie: US$1,4 Miliar Versi Forbes Mei 2026, Turun dari US$3,1 Miliar di Daftar 2024, Tapi Memimpin Akuisisi US$3,9 Miliar
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Kekayaan Alexander Ramlie tercatat US$1,4 miliar di tracker real-time Forbes, seperti dikutip dalam artikel Forbes 18 Mei 2026. Di daftar Indonesia versi Forbes 2024, angkanya US$3,1 miliar, dan ia berada di peringkat 35 pada daftar Indonesia's 50 Richest 2025 versi Forbes. Di hari yang sama dengan angka US$1,4 miliar itu, perusahaannya, Dhilmar, menyepakati pembelian tambang batu bara kokas Anglo American di Australia seharga hingga sekitar US$3,9 miliar, hampir tiga kali lipat kekayaan yang dicatat Forbes untuknya.
Alexander mantan bankir investasi dan sampai Juni 2025 menjabat presiden direktur PT Amman Mineral Internasional, penambang tembaga dan emas di Indonesia. Sekarang ia duduk sebagai komisaris di sana dan menjadi CEO Dhilmar, perusahaan terdaftar di Inggris.
| Penerbit | Seri | Angka | Peringkat di Indonesia |
|---|---|---|---|
| Forbes, Indonesia's 50 Richest 2023 (lewat Okezone, Desember 2023) | Daftar tahunan | US$2,5 miliar | 23 |
| Forbes, Indonesia's 50 Richest 2024 (lewat Okezone, Mei 2024) | Daftar tahunan | US$3,1 miliar | belum terkonfirmasi |
| Forbes, Indonesia's 50 Richest 2025 (lewat ABC News, 20 Mei 2026) | Daftar tahunan | angka dolar belum terkonfirmasi | 35 |
| Forbes, tracker real-time (artikel Forbes, 18 Mei 2026) | Real-time | US$1,4 miliar | tidak disebut |
Semua baris adalah Forbes, jadi perbandingannya tetap dalam satu penerbit. Tapi ini tetap dua jenis potret: daftar tahunan dan bacaan real-time di hari yang berbeda, jadi penurunan dari US$3,1 miliar ke US$1,4 miliar sebaiknya kamu baca sebagai arah, bukan pengukuran yang presisi. Kami tidak bisa memastikan angka dolar yang dicetak Forbes di daftar 2025, dan kami tidak mengisi kekosongan itu dengan angka dari sumber yang tidak bertanggal.
Kami tidak menemukan angka Bloomberg Billionaires Index untuk Alexander. Karena hanya satu tracker yang menghitungnya, tidak ada perbedaan antar penerbit yang bisa ditampilkan, tapi selisih antara daftar tahunan Forbes dan bacaan real-time-nya adalah perbedaan tersendiri.
Forbes menelusuri kekayaannya ke pertambangan, dan jangkarnya adalah Amman Mineral Internasional, tercatat di BEI dengan kode AMMN. Perusahaan yang sama dibahas di profil Agoes Projosasmito, dan pemegang saham terbesarnya adalah kendaraan yang dibahas di profil Anthoni Salim. Itu entri yang terpisah di perusahaan yang sama, dan kepemilikannya tidak boleh dijumlahkan.
Saham yang dilaporkan atas nama Alexander sendiri kecil. IDN Financials melaporkan bahwa akhir Juni 2026 ia memegang 0,256% AMMN, sekitar 185,78 juta saham, dan pada 17 dan 20 Juli 2026 ia membeli 4,62 juta saham lagi seharga sekitar Rp18,16 miliar. Itu pembelian yang dilaporkan secara terbuka. Berapa bagian dari kekayaan yang tercatat ada di kendaraan lain, atau di tangan lain, tidak dijelaskan penerbit mana pun yang kami temukan.
Ia mundur dari kursi presiden direktur pada Juni 2025 menjelang rapat pemegang saham dan dicalonkan sebagai komisaris, menurut Bisnis.com (15 Juni 2025). Kami tidak menemukan alasan yang dipublikasikan di luar itu.
Pada 18 Mei 2026, Anglo American menyepakati penjualan aset batu bara baja di Queensland kepada Dhilmar. Menurut Reuters dan Forbes, harganya US$2,3 miliar tunai saat penyelesaian ditambah hingga US$1,575 miliar berupa earnout yang terkait harga batu bara, jadi hingga sekitar US$3,88 miliar. Penyelesaian ditargetkan paling lambat kuartal pertama 2027. Forbes menyebut Dhilmar didukung Alexander, dan sebelumnya perusahaan ini membeli tambang emas Éléonore di Quebec dari Newmont seharga US$795 juta.
ABC News melaporkan nilai yang lebih tinggi untuk transaksi yang sama, hingga US$5,43 miliar. Kami tampilkan saja tanpa merekonsiliasi karena kami tidak bisa melihat cara hitungnya. Tidak ada artikel yang kami temukan menyebut bagaimana Dhilmar dibiayai atau siapa lagi pemiliknya, jadi besarnya transaksi saja tidak menunjukkan berapa banyak di dalamnya yang uang Alexander. Tracker menghitung apa yang dimiliki seseorang, bukan apa yang sedang dibeli perusahaan yang ia pimpin.
Tidak ada penerbit yang kami temukan menjelaskan mengapa angka Forbes untuknya turun antara daftar 2024 dan Mei 2026.
Hanya sebagian. Posisi AMMN-nya ada di laporan kepemilikan, tetapi kepemilikan di Dhilmar lewat perusahaan privat, dan Forbes tidak menerbitkan cara menilainya. Hal yang sama berlaku untuk saham yang dialihkan ke anggota keluarga, yang belum kami konfirmasi. Bandingkan dengan Low Tuck Kwong, yang kekayaan batu baranya ada di perusahaan tercatat yang bisa dicek lewat laporan, atau Arini Subianto, yang angkanya juga bertumpu pada holding privat.
Transaksi bukan kekayaan bersih. Perusahaan yang dipimpin seseorang bisa bertransaksi berkali-kali lipat dari kekayaan yang dicatat tracker, karena tracker hanya menghitung bagian yang bisa dikaitkan dengan orang itu.
Satu tracker bisa berbeda dari dirinya sendiri. Daftar tahunan Forbes dan bacaan real-time-nya adalah pengukuran berbeda di hari berbeda. Dalam catatan publik yang kami temukan, tidak ada yang menunjukkan hal lain selain kepemilikan saham yang diungkapkan secara terbuka dan transaksi yang diumumkan secara publik.