Kekayaan Arini Subianto: US$2,4 Miliar Versi Forbes, Naik dari US$2 Miliar Setahun Lalu, Peringkat 33
Baca 4 menit
Baca 4 menit
Kekayaan Arini Subianto tercatat US$2,4 miliar di daftar Indonesia's 50 Richest 2025 versi Forbes, yang diperbarui 10 Desember 2025, peringkat 33. Daftar Forbes 2024 menaruhnya di US$2 miliar, jadi di satu tracker yang sama angkanya naik sekitar 20% dalam setahun. Forbes juga menyebutnya perempuan terkaya di Indonesia, dengan entri "Arini Subianto & family".
Arini, 55 tahun, adalah presiden direktur PT Persada Capital Investama, holding keluarga yang ia pimpin sejak ayahnya, Benny Subianto, meninggal pada 2017. Forbes menelusuri hartanya ke bisnis batu bara dan kelapa sawit.
| Penerbit | Daftar | Angka | Peringkat di Indonesia |
|---|---|---|---|
| Forbes, Indonesia's 50 Richest 2022 | 2022 | US$1,5 miliar | 28 |
| Forbes, Indonesia's 50 Richest 2024 | 2024 | US$2 miliar | belum terkonfirmasi |
| Forbes, Indonesia's 50 Richest 2025 | 10 Desember 2025 | US$2,4 miliar | 33 |
Ketiga baris ini sama-sama potret tahunan Forbes, jadi perbandingannya tetap dalam satu seri. Angka 2022 dan 2024 kami ambil dari liputan Katadata dan CNBC Indonesia, dan tanggal terbit persis daftarnya belum kami pastikan, jadi anggap sebagai angka per tahun daftar.
Kami tidak menemukan angka Bloomberg Billionaires Index untuk Arini, dan tidak menemukan angka real-time Forbes 2026 yang bertanggal. Tanpa tracker kedua, tidak ada perbedaan yang bisa kami tampilkan. Itu sendiri informasi: kekayaan yang tersimpan di holding privat sering hanya dihitung satu penerbit.
Jangkarnya adalah PT Persada Capital Investama, perusahaan privat yang bisnisnya, menurut liputan media Indonesia atas profil Forbes, mencakup perkebunan, pertanian, konstruksi, properti, dan pertambangan. Pemberitaan menyebut Persada sebagai pemegang saham minoritas produsen batu bara Alamtri Resources Indonesia, dulu Adaro Energy, yang berganti nama pada November 2024.
Arini juga memegang saham secara pribadi. Stockwatch.id, mengutip data pemegang saham April 2026, mencatat 80,10 juta saham Alamtri, atau 0,273%, atas namanya. Itu klaim yang berbeda dari saham Persada dan tidak boleh dijumlahkan. BCA Sekuritas juga memberitakan ia membeli saham Triputra Agro Persada (TAPG) pada Februari dan Maret 2026 di harga Rp1.510 sampai Rp1.565 per saham.
Forbes juga menyebut ia berinvestasi di startup teknologi lewat Persada sejak 2017. Saham privat seperti ini tidak bisa dihitung dari harga di layar bursa, dan di situlah penilaian tracker masuk ke dalam angka.
Alamtri, perusahaan tempat Persada memegang saham minoritas, adalah bisnis yang sama dengan profil Boy Thohir. Jadi ada dua entri Forbes di perusahaan tercatat yang sama, tetapi kepemilikan keduanya terpisah dan tidak boleh digabung. Sahamnya diperdagangkan di BEI dengan kode ADRO.
Tidak ada penerbit yang kami temukan menyebut kepemilikan atau pergerakan pasar mana yang mengangkat angka Forbes dari US$2 miliar ke US$2,4 miliar. Total daftar memang naik tajam, dari US$263 miliar ke US$306 miliar menurut Forbes, tetapi itu menjelaskan suasananya, bukan angka Arini secara khusus.
Tidak terlalu. Saham Alamtri yang tercatat bisa dicek lewat laporan kepemilikan, tetapi aset utamanya, Persada, adalah perusahaan privat, dan Forbes tidak menerbitkan cara menilainya. Label "& family" juga berarti angkanya menghitung satu keluarga, bukan satu neraca pribadi. Bandingkan dengan Ciliandra Fangiono, yang angkanya juga entri keluarga Forbes tetapi sebagian besar ada di satu perusahaan tercatat, atau Haryanto Tjiptodihardjo, yang angkanya pernah berbeda antar tracker.
Holding privat berarti satu suara. Kalau hanya satu tracker yang menghitungnya, angkanya sebaik penilaian tracker itu atas aset yang tidak tercatat.
Saham pribadi dan saham holding adalah klaim yang berbeda. Posisi pribadi 0,273% di Alamtri dan kepemilikan Persada yang lebih besar bukan angka yang sama. Dalam catatan publik yang kami temukan, tidak ada yang menunjukkan hal lain selain kepemilikan saham yang diungkapkan secara terbuka.